Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Jumat pagi dibuka melemah signifikan, turun 188,20 poin atau 2,32 persen ke 7.915,66 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan Indeks LQ45 bergerak turun 16,33 poin atau 1,97 persen ke 813,02, mencerminkan tekanan jual yang kuat sejak awal sesi perdagangan.
Sejak pasar dibuka hingga sekitar pukul 09.30 WIB, aktivitas perdagangan tercatat sebagai berikut:
- Total volume perdagangan: ± 4,2 miliar lembar saham
- Total nilai transaksi: ± Rp 2,6 triliun
- Frekuensi perdagangan: ± 295.000 kali transaksi
Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun indeks utama terkoreksi tajam, likuiditas pasar tetap aktif dengan berjuta kali transaksi terjadi sejak awal sesi.
Pelemahan lebih dari 2 persen sejak pembukaan menandakan sentimen risk-off mendominasi pasar, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham. Tekanan ini dipicu oleh kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi global, pergerakan suku bunga internasional yang belum stabil, serta sentimen negatif dari bursa saham regional yang turut menekan psikologi pelaku pasar.
Secara teknikal, level support penting berada di sekitar 7.850–7.900, dan jika level ini ditembus, indeks berpotensi melanjutkan koreksi ke area yang lebih rendah menjelang siang. Adapun overbought pada beberapa saham unggulan sebelumnya kini berubah menjadi oversold, membuka peluang pembalikan arah jangka pendek apabila ada katalis positif di sesi berikutnya.
Hampir seluruh sektor saham tercatat di zona merah pada pembukaan, dengan tekanan terbesar datang dari sektor perbankan, teknologi, dan konsumer. Saham-saham dalam indeks LQ45, seperti emiten keuangan dan energi, turut mengalami tekanan jual lebih dalam daripada pasar secara keseluruhan, yang mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek pendapatan korporasi ke depan.
Analis pasar memperkirakan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan di sesi perdagangan siang dan sore, terutama jika tak ada katalis positif dari rilis data ekonomi domestik maupun global. Pelaku pasar akan terus mencermati rilis data inflasi, keputusan suku bunga bank sentral utama, serta perkembangan geopolitik yang bisa memengaruhi tren pasar saham secara luas.
