TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Angka Pertumbuhan Ekonomi Dinilai Demi Jaga Defisit Fiskal, Ekonom: Catat Berpikir!

Busthomi
6 February 2026 | 15:13
rubrik: Ekonomi
FOTO – Kualitas Udara di Jakarta Membaik

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dengan berjalannya aktivitas perekonomian di DKI Jakarta. Foto: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11%. Angka tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,03% (c-to-c/cumulative to cumulative). 

Namun begitu, pencapaian tersebut dinilai ada yang janggal disebut banyak ekonomi. Salah satunya adalah ekonom CELIOS, Nailul Huda. Menurut Nailul, ada beberapa kejanggalan yang disampaikan BPS terkait data pertumbuhan ekonomi itu.

“Ini cacat berpikir! Itu yang tergambar dari benak saya ketika mendengar pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 di angka 5,11% secara YoY (year on year) dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 di angka 5,39% secara YoY,” tutur dia, dalam keterangan resminya kepada media, Jumat (6/2/2026).

Dia menyoroti dari sisi c to c atau kumulatif 2025, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan PMTB tidak melebihi angka 5,11% sedangkan kontribusi keduanya mencapai 82,65%.

“Lantas, sumber pertumbuhan yang membuat jadi 5,11% dari mana? Jika dilihat dari paparan kepala BPS, pertumbuhan tertinggi adalah ekspor dengan pertumbuhan 7,03%. Namun jangan lupa, ekspor tidak pernah berdiri sendiri karena ada impor atau perdagangan internasional,” jelas dia.

Selain itu, net ekspor juga tumbuh tinggi, tapi kontribusinya relatif kecil, 8,47%, namun itu menjadi pendorong utama. Hal ini, yang kata dia, menjadi pertanyaan besar.

Sementara terkait dengan PMTB yang meningkat tajam karena impor mesin dan perlengkapan, juga dipertanyakan di triwulan II 2025. Pertumbuhan PMTB sub komponen mesin dan perlengkapan di angka 17,99%.

Di sisi lain, net ekspor diklaim menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 0,74%. “Jadi kita tempatkan dimana impor mesin tersebut?” kritiknya.

Kemudian, dia melanjutkan, kondisi ekonomi tersebut berkebalikan dengan kondisi penerimaan perpajakan dimana penerimaan perpajakan mengalami kontraksi cukup dalam terutama yang berhubungan dengan konsumsi (PPN dan PPnBM).

BACA JUGA:   Menurun, Upah Riil Buruh Tani dan Bangunan

“Sewajarnya, ketika ekonomi baik, penerimaan pajak juga membaik. Alhasil, angka yang kontradiktif ini menjadi pertanyaan,” katanya lagi.

Sementara dari sisi triwulanan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga meningkat menjadi 5,11%. Dilihat dari perkembangan tahunan, memang wajar ketika konsumsi RT meningkat di akhir tahun. Ini sejalan juga dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat.

Namun demikian, ujar Nailul, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pernah lebih tinggi dari 5,11%, akan tetapi pertumbuhan ekonominya tidak mencapai 5,39%. Maka pengungkitnya adalah PMTB. Pertumbuhan PMTB ini diklaim naik sebesar 6% yang disumbang dari sub komponen bangunan serta mesin dan perlengkapan.

“Lagi-lagi mesin yang diimpor menjadi pendorong utama PMTB. Pertanyaan saya bagi BPS: impor mesin dan perlengkapan apakah masuk ke PMTB atau impor atau keduanya?” sergah dia.

Dengan kondisi demikian, kata dia, “Saya sampai berpikir, apakah kenaikan PDB ini berkaitan dengan angka rasio defisit fiskal terhadap PDB? Jika defisit fiskal sebesar Rp695,1 triliun dan angka rasionya adalah 2,92%, maka PDB atas dasar harga berlaku yang dibutuhkan adalah Rp23.804 triliun.”

“Angkanya hampir serupa dengan apa yang diumumkan oleh BPS kemarin. Lantas, apakah ini ada pesanan khusus dari Kementerian Keuangan?” kritik dia, mengakhiri.

Sebelumnya, BPS mencatat, Perekonomian Indonesia tahun 2025 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp83,7 juta atau USD 5.083,4.

Tags: bpsdefisit fiskalpertumbuhan ekonomipertumbuhan ekonomi 2025
Previous Post

Kinerja Apik UPT RSUD Tenriawaru Terbaik di Indonesia Timur sebagai Rumah Sakit Pendidikan

Next Post

Soft Opening Indonesia Drilling School, Kolaborasi antara PT BORMINDO NUSANTARA dan PT Skills For Technology And Coring STC

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR