Jakarta, TopBusiness — Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) terus memperkuat transformasi bisnis dan kelembagaan sebagai bagian dari langkah strategis menuju Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) II.
Di bawah kepemimpinan Direktur Utama I Nyoman Sudharma, S.H., M.H., bank milik Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten/kota se-Bali atau dengan kepemilikan terbesar Pemprov Bali 29,16% dan Pemkab Badung 43,42% itu menegaskan fokus pada penguatan daya saing, digitalisasi layanan, serta pembiayaan produktif yang inklusif dan berkelanjutan.
“Visi kami adalah menjadi bank yang kuat, berdaya saing tinggi, dan terkemuka dalam melayani serta berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar I Nyoman Sudharma dalam pemaparan penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness, Senin (9/2/2026) secara daring.
Sebagai Bank Umum Devisa dengan klasifikasi KBMI I, Bank BPD Bali saat ini didukung modal inti mencapai Rp5,39 triliun atau naik 19,06%. Struktur permodalan ini menjadi fondasi penting bagi penguatan kapasitas bisnis dan ekspansi ke depan.
Dalam menjalankan bisnisnya, Bank BPD Bali konsisten menerapkan budaya kerja CINTA dan nilai lokal sebagai kekuatan inti.
Menurut Sudharma, transformasi Bank BPD Bali tidak hanya bertumpu pada aspek keuangan dan teknologi, tetapi juga pada budaya organisasi.
“Kami membangun budaya kerja CINTA yang terdiri dari competence, integrity, teamwork, dan customer awareness sebagai fondasi perilaku kerja seluruh insan Bank BPD Bali,” jelasnya.
Budaya kerja tersebut diperkuat dengan penerapan Harmony Spiritual yang mengintegrasikan filsafat, etika, dan ritual kerja berbasis nilai-nilai kearifan lokal Bali.
“Nilai Tat Twam Asi, Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, hingga Vasudhaiva Kutumbakam menjadi acuan etika dan perilaku kerja kami, sehingga transformasi bank tetap berakar pada budaya lokal,” ujar Sudharma.
Rencana ke Depan
Bank BPD Bali telah menetapkan Corporate Plan 2026–2030 sebagai peta jalan transformasi jangka menengah dan panjang. Dalam rencana tersebut, bank mengusung empat misi utama: Resilien, Kompetitif, Kontributif, dan Harmonis.
“Strategi utama kami dikonsentrasikan pada 45 inisiatif strategis penguatan dan pengembangan yang dipetakan dalam empat pilar dan dua bidang enabler, serta dieksekusi dalam tiga fase,” ungkap Sudharma.
Ia menjelaskan, fase pertama pada 2026 difokuskan pada penguatan fondasi daya saing dan kapabilitas daerah.
“Pada fase awal ini, kami fokus memperkuat struktur organisasi, SDM, budaya kerja, kapabilitas teknologi, serta tata kelola untuk mendukung akselerasi produktif dan transformasi digital,” katanya.
Memasuki fase kedua pada 2027, Bank BPD Bali akan mendorong kolaborasi dan optimalisasi intermediasi produktif.
“Kami meningkatkan sinergi internal lintas unit—wholesale, ritel, dan UMKM—serta memperluas kerja sama dengan ekosistem eksternal seperti pemerintah daerah, pengelola pasar, RSUD, dan desa wisata,” ujarnya.
Sementara itu, fase ketiga pada 2028 diarahkan pada akselerasi menuju KBMI II. “Target utama fase akhir adalah akselerasi pencapaian skala KBMI II melalui optimalisasi portofolio produktif, penguatan treasury dan bank devisa, serta pertumbuhan fee based income yang didukung layanan digital,” tegas Sudharma.
Kesehatan Bank dan Kinerja
Dari sisi kesehatan bank, Bank BPD Bali mencatatkan hasil penilaian yang solid. Berdasarkan penilaian sendiri per 31 Desember 2025, bank berada pada peringkat 2 atau Sehat.
“Profil risiko Bank BPD Bali berada pada peringkat 2 dengan risiko inheren yang tergolong rendah, dan penerapan manajemen risiko secara komposit memadai,” kata Sudharma.
Ia menambahkan bahwa permodalan Bank BPD Bali berada pada posisi sangat kuat.
“Permodalan kami berada pada peringkat 1 dengan kualitas dan kecukupan modal yang sangat memadai, sesuai dengan karakteristik dan kompleksitas usaha bank,” ujarnya.
Dengan ditopang tata kelola yang solid itu, Bank BPD Bali berhasil mencatatkan kinerja memuaskan selama 2025 lalu. Kata Sudharma, kinerja keuangan Bank BPD Bali sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang solid dan berkualitas. Hingga Desember 2025, total aset bank mencapai Rp41,38 triliun, tumbuh 8,01 persen secara tahunan.
“Pada 2025, kami berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,10 triliun atau tumbuh 25,39 persen year on year,” ungkap Sudharma.
Penyaluran kredit juga mengalami pertumbuhan 9,51 persen menjadi sekitar Rp25 triliun, dengan porsi kredit UMKM sebesar Rp12,76 triliun.
“Kami tetap menjaga kualitas aset dengan NPL net hanya 0,01 persen dan NPL gross 0,80 persen,” katanya.
Dengan DPK hingga November 2025 sebesar Rp33,85 triliun atau naik sebesar 5,24%. Atau terdiri dari giro Rp5,25 triliun, tabungan Rp18,13 triliun, dan deposito Rp10,46 triliun. Dengan rasio CASA atau dana murah sebesar 69,09%.
Adapun untuk rasionya adalah CAR di angka 29,30%, RoA sebesar 3,58%, RoE di angka 22,44%, NIM 6,33%, BOPO masih terkendali di angka 62,42%, CIR 51,05%, LDR juga stabil di 73,82%, dan RPIM 54,27%.
Di bawah kendali Direktur Utamanya, Bank BPD Bali menunjukkan momentum pertumbuhan yang signifikan, khususnya dalam fase pemulihan pascapandemi.
“Tahun 2025, Bank BPD Bali berhasil mencatatkan total aset Rp41,38 triliun dan laba bersih menembus Rp1,10 triliun. Angka ini menandakan pertumbuhan laba yang impresif, mencapai 25,39% secara tahunan, sebuah indikasi keberhasilan strategi diversifikasi dan manajemen aset yang efektif,” katanya.
Layanan dan Digitalisasi Kredit
Di sisi layanan, Bank BPD Bali mencatatkan kinerja yang konsisten positif. Selama tiga tahun terakhir, kualitas layanan bank berada pada predikat Sangat Baik.
“Pada 2025, nilai kualitas layanan kami mencapai 91,99 berdasarkan survei mystery shopping di 52 unit kerja,” jelas Sudharma.
Customer Satisfaction Index (CSI) juga menunjukkan tren peningkatan. CSI Bank BPD Bali pada 2025 mencapai 84,38 persen, yang berarti nasabah berada pada kategori sangat puas terhadap layanan yang kami berikan.
Transformasi digital menjadi pilar penting dalam strategi Bank BPD Bali. Untuk pembiayaan UMKM, bank mengembangkan DigiLoan, sistem aplikasi berbasis web yang mendukung proses kredit dari pengajuan hingga pencairan.
“Melalui DigiLoan, proses penyaluran kredit menjadi lebih efektif dan efisien,” ucap Sudharma.
Digitalisasi juga diterapkan pada penguatan tata kelola dan operasional melalui sistem Anti Fraud System, Sistem Informasi Manajemen Audit, e-Procurement Digiproc, hingga Talent Management System.
Pada sisi layanan transaksi, Bank BPD Bali mengembangkan BPD Bali Mobile, Internet Banking Bisnis, serta ekosistem pembayaran digital Balipay dan QRIS lintas negara.
“QRIS Bank BPD Bali sudah terhubung dengan beberapa negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang, serta sedang dikembangkan ke Korea Selatan dan China,” ungkapnya.
Pembiayaan UMKM dan Keuangan Berkelanjutan
Bank BPD Bali juga aktif mendukung sektor riil dan pengendalian inflasi daerah melalui kolaborasi pembiayaan dari hulu hingga hilir.
“Kami bersinergi dengan pemerintah daerah, BUMD pengelola pasar, dan perumda pangan se-Bali untuk mendukung sektor pertanian dan UMKM, termasuk dengan suku bunga khusus,” ujar Sudharma.
Dalam aspek keberlanjutan, Bank BPD Bali meluncurkan Program Keuangan Berkelanjutan dengan tagline “Hijau dan Lestari Bersama Bank BPD Bali”.
“Kami telah membentuk Komite ESG, mengimplementasikan Climate Risk Management and Scenario Testing (CRMST), serta menyalurkan pembiayaan ramah lingkungan seperti kredit kendaraan listrik,” pungkasnya.
