Jakarta, TopBusiness – Di tengah dinamika industri teh dan tekanan ekonomi global, PT Perkebunan Tambi terus memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen teh di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Dengan model kepemilikan saham yang unik—50 persen dimiliki Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan 50 persen oleh PT Indoglobal Galang Pamitra—perusahaan ini memadukan semangat korporasi profesional dengan tanggung jawab pembangunan daerah.
Direktur Utama PT Perkebunan Tambi, Suwito, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa fokus utama perusahaan tetap pada bisnis inti. “Di PT Perkebunan Tambi ini, bisnis yang kami fokuskan adalah bisnis penjualan teh yang kami produksi,” ujarnya saat sesi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar secara daring oleh Majalah TopBusiness, Rabu (11/02/2026).
Memasuki usia ke-69 tahun pada Agustus mendatang, perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas ini, Perkebunan Tambi masuk dalam kategori Badan Usaha Lainnya sesuai regulasi daerah. Meski demikian, keterlibatan Pemkab Wonosobo sebagai pemegang saham mencerminkan peran strategis perusahaan dalam perekonomian daerah.
Perusahaan memiliki tiga unit produksi perkebunan teh yang berada di wilayah Pedaka, Tanjung Sari, dan Tambi, Kabupaten Wonosobo.
Operasional ini dijalankan dengan visi menjadi “perusahaan perkebunan dengan kinerja produktif, standar berkelanjutan, melalui sistem manajemen yang efektif, efisien, dan beretika sosial.”
Misi perusahaan diarahkan pada pengembangan unit produksi yang ekonomis dan menguntungkan, mendorong bisnis teh yang beretika secara sosial, serta mengelola pertumbuhan dengan pendekatan konservasi sumber daya alam.
Strategi Bisnis
Dalam perjalanan bisnisnya, PT Perkebunan Tambi semula menerapkan pola Buyer to Buyer (B2B) dengan penjualan dalam bentuk bahan baku (raw material). Namun, perubahan perilaku pasar mendorong perusahaan melakukan adaptasi.
“Pola bisnis Buyer to Buyer (B2B) dalam bentuk raw material, seiring dengan dinamika pasar dan perubahan perilaku konsumen, maka dilakukan pengembangan strategi bisnis yang lebih adaptif melalui pendekatan Buyer to Consumer (B2C) dengan cara meningkatkan end product,” jelas Suwito.
Transformasi ini diwujudkan melalui pengembangan produk hilir seperti Artisan Tea, Premium Tea, dan Regular Tea dengan total sekitar 43–45 varian. Selain itu, perusahaan juga menerima layanan makloon dengan atau tanpa hak eksklusif.
Inovasi pemasaran turut diperluas melalui pengembangan franchise container booth minuman teh “Es Teh Tajir” yang saat ini beroperasi di wilayah Karesidenan Kedu, meliputi Purworejo, Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.
Kinerja
Dari sisi produksi, kinerja perusahaan menunjukkan capaian positif selama dua tahun terakhir. Pada 2024, target produksi pucuk teh sebesar 11.738.000 kg terealisasi 12.196.300 kg atau 103,90 persen. Produksi kering mencapai 2.652.541 kg dari target 2.524.000 kg (105,09 persen), dengan rendemen 21,75 persen.
Pada 2025, target produksi pucuk 11.760.000 kg terealisasi 12.133.477 kg (103,18 persen). Produksi kering mencapai 2.638.157 kg dari target 2.528.500 kg (104,34 persen), dengan rendemen 21,74 persen.
Secara keuangan, laba perusahaan pada 2024 tercatat Rp5,755 miliar, meningkat menjadi Rp6,034 miliar pada 2025. Namun laba bersih 2025 mengalami penurunan menjadi Rp3,3 miliar dari Rp5,4 miliar pada 2024.
Suwito menjelaskan penurunan tersebut dipengaruhi kondisi eksternal. “Penurunan tersebut terjadi pada kuartal ataupun pada bulan Mei, Juni, dan Juli seiring dengan perang tarif yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat. Kemudian adanya permintaan yang mengalami penurunan seiring banyaknya persediaan di seluruh perusahaan teh,” paparnya.
Dari sisi penjualan, 2024 mencatat realisasi Rp101,06 miliar dari target Rp82,25 miliar (122,88 persen). Sementara pada 2025, realisasi sebesar Rp82,15 miliar dari target Rp107,21 miliar (76,63 persen).
“Namun kami optimis di tahun 2026 ini, kontrak dan lain sebagainya baik long-term kontrak jangka panjang maupun baik ekspor sudah kami dapatkan untuk tahun 2026 ini dan kami fokus untuk meningkatkan pendapatan di tahun 2026,” tegasnya.
Total aset perusahaan juga meningkat dari Rp70,656 miliar pada 2024 menjadi Rp71,660 miliar pada 2025. Current Ratio tercatat 1,89 (2024) dan 1,74 (2025), sementara Quick Ratio 1,33 (2024) dan 1,37 (2025).
Pengelolaan SDM dan Tata Kelola
Keberlanjutan bisnis PT Perkebunan Tambi tidak lepas dari penguatan sumber daya manusia dan tata kelola perusahaan.
“Kami di-backup dan didukung secara sepenuhnya dengan SDM yang baik dan terkompetensi sesuai bidangnya masing-masing untuk mendukung proses pengelolaan perusahaan,” ujar Suwito.
Peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan dan workshop internal maupun eksternal. Sistem manajemen kinerja berbasis KPI diterapkan secara konsisten dengan skema reward dan punishment.
“Penilaian kinerja kami lakukan setiap tahunnya kemudian ada reward untuk SDM yang mempunyai capaian-capaian secara signifikan… Untuk punishment pasti ada, itu kami terapkan sesuai dengan tingkat kesalahan,” jelasnya.
Dari aspek Good Corporate Governance, perusahaan menjalani audit dan sertifikasi tahunan seperti Rainforest Alliance, HACCP, Standar Teh Indonesia (STI), dan Halal.
Digitalisasi
Memasuki 2026, PT Perkebunan Tambi memperkuat digitalisasi internal melalui dua aplikasi karya internal: Pusat Pangkalan Data Sertifikasi (PPDS) dan Tambi Integrated Smart Agenda (TISA).
“PPDS menyederhanakan pengelolaan data sertifikasi mulai dari Rainforest Alliance, HACCP, Standar Teh Indonesia (STI), dan Halal dalam satu akses real-time yang efisien,” terang Suwito.
Sementara TISA mengintegrasikan seluruh agenda internal dan eksternal perusahaan secara real-time. Kedua aplikasi ini mengusung integrasi spreadsheet dan Google Drive dengan harapan meningkatkan aksesibilitas data, kemandirian informasi, dan efisiensi waktu kerja.
Di sisi eksternal, perusahaan memanfaatkan platform e-commerce Shopee sejak 2025 sebagai kanal distribusi digital strategis untuk penetrasi pasar nasional, dengan dukungan fitur seperti gratis ongkir, flash sale, Shopee Pay, dan Shopee Live.
Kontribusi
Sebagai perusahaan dengan kepemilikan daerah, kontribusi PT Perkebunan Tambi tidak hanya tercermin dari dividen kepada pemegang saham, tetapi juga melalui program sosial.
Perusahaan menyalurkan CSR, dana kepedulian desa, bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), santunan anak yatim, serta dukungan kegiatan hari besar nasional dan keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan Natal.
Langkah-langkah ini mempertegas posisi PT Perkebunan Tambi bukan sekadar entitas bisnis, tetapi juga bagian dari ekosistem sosial dan ekonomi Kabupaten Wonosobo.
Dengan fondasi historis yang kuat, strategi bisnis adaptif, kinerja produksi yang konsisten, serta penguatan digitalisasi dan tata kelola, PT Perkebunan Tambi menatap 2026 dengan optimisme. Seperti ditegaskan Suwito, perusahaan kini fokus mengamankan kontrak dan meningkatkan pendapatan, sembari tetap menjaga prinsip keberlanjutan dan etika sosial dalam setiap langkah bisnisnya.
