Jakarta, TopBusiness – RSUD RA Basoeni Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur terus memperkuat transformasi kelembagaan dan layanan sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) kesehatan.
Dalam ajang penjurian TOP BUMD Awards 2026, manajemen memaparkan berbagai capaian kinerja, inovasi layanan, hingga penguatan tata kelola yang menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Direktur RSUD RA Basoeni, dr. Rasyid Salim, SpKJ (K), menegaskan komitmen rumah sakit yang dipimpinnya untuk menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat.
“BLUD kesehatan yang menciptakan nilai bukan sekadar melayani. Ini selaras dengan visi kami yakni ‘Terwujudnya Kabupaten Mojokerto yang Lebih Maju, Adil dan Makmur.’ Serta misinya adalah ‘Mewujudkan SDM yang tangguh, cerdas, terampil, produktif dan berkarakter melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan serta menjaga ketentraman masyarakat’,” ujar dia.
Pernyataan dr. Rasyid ini disampaikan saat penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, karena arah pengembangan rumah sakit itu sejalan dengan visi dan misinya, maka dalam hal orinetasi usahanya, RSUD RA Basoeni ini menyisihkan Rp55 juta sebagai anggaran kegiatan social atau bantun ke pihak ketiga dari total pendapatan di tahun 2026 yang ditargetkan yakni sebesar Rp65 miliar.
Tiga Pilar Strategi Bisnis
Sebagai BLUD yang ditetapkan sejak 2014, RSUD RA Basoeni menjalankan strategi bisnis berbasis tiga pilar utama.
Pertama, operational excellence, yakni efisiensi tanpa menurunkan mutu layanan. Kedua, service differentiation, melalui layanan unggulan yang relevan dengan kebutuhan daerah. Ketiga, good governance dan digital positioning untuk memastikan keberlanjutan dan akuntabilitas organisasi.
“Yang sekarang harus memang kita jalani yaitu digitalisasi. Jadi di mana rumah sakit sekarang harus terhubung secara digital,” ujar dr. Rasyid.
Transformasi digital tersebut tidak hanya menyentuh sistem administrasi, tetapi juga pelayanan promotif dan preventif kepada masyarakat.
Maka dari itu, kata dia, sebagai bagian dari penguatan layanan, RSUD RA Basoeni mengembangkan berbagai inovasi berbasis digital, di antaranya: Pendaftaran dan antrean online terintegrasi dengan BPJS; One Stop Service untuk pendaftaran, informasi, dan pengaduan; Dashboard pemantauan waktu tunggu; Sistem pengaduan digital seperti e-SUKMA dan Lapor Bas; Telemedicine (King Bun); Layanan jemput pasien untuk kontrol rawat jalan.
Lalu ada, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) telah digunakan sejak 2000 dengan pengembangan internal, sementara Electronic Medical Record (EMR) diterapkan sejak 2023. “Rumah sakit sekarang harus terhubung secara digital,” tegas dr. Rasyid.
SIMRS sendiri Adalah aplikasi yang terintegrasi yang mengelola seluruh proses operasional dan administrasi RS. Degan fitur unggulannya adalah, pendaftaran dan admisi pasien, ERM, Billing dan klaim BPJS, Pelaporan RL dan SIRS. Adapun manfaatnya adalah efisiensi operasional, data terintegrasi real time, transparansi keuangan, dasar pengambilan Keputusan manajemen.
Sementara ERM yang dikembangkan sejak 2023 itu adalah pencatatan medis pasien secara electronic sesuai regulasi Kementerian Kesehatan. Dengan fitur unggulannya RM terintegrasi, clinical pathway, order obat dan tindakan digital.
“Ini bermanfaat sekali karena mutu dan keselamatan pasien meningkat, juga mengurangi kesalahan medis, dan tentunya mempercepat layanan,” kata dia.
Kinerja Operasional dan Mutu Meningkat
Dalam periode 2023–2025, RSUD RA Basoeni mencatat tren peningkatan kinerja yang cukup konsisten.
Rumah sakit ini telah meraih Akreditasi Paripurna, dengan indikator mutu dan keselamatan pasien yang tercapai. Secara operasional, BOR (Bed Occupancy Rate) berada di kisaran 66,69 persen. Alian di posisi ideal. Lalu untuk ALOS (Average Length of Stay atau rata-rata lamanya pasien dirawat selama 3,11 hari. Dengan TOI (Turn Over Interval) di 2,13 hari, dan BTO (Bed Turn Over) di 72,8 kali.
Dengan nilai Survey Kepuasan Masyarakat (SKM) pada tahun 2025 lalu di angka 91,87 (SMT II) dan 89,62 (SMT I) sedangkan di 2024 SKM-nya di angka 89,74. “Kita sudah terakreditasi paripurna, indikator mutu dan keselamatan tercapai,” jelas dr. Rasyid.
Ia juga memaparkan bahwa peningkatan pelayanan tercermin dari naiknya pemanfaatan layanan dan perbaikan kepuasan pasien. “Volume dan mutu pelayanan relatif meningkat tercermin pada pemanfaatan layanan, stabilitas BOR dan perbaikan kepuasan pasien,” katanya.
Menurutnya, capaian tersebut didorong oleh optimalisasi layanan prioritas serta inovasi berbasis kebutuhan pasien.
Sementara dalam hal hal keuangan, RSUD RA Basoeni menunjukkan kinerja yang cenderung meningkat dan stabil dalam dua tahun terakhir.
Tercatat, untuk nilai pendapatan di tahun 2024 dari target Rp65 miliar dapat tercapai Rp61,01 miliar atau terrealisasi 93,9%. Sementara di tahun 2025, dari target Rp62 miliar, dapat tercapai di angka Rp63,54 miliar, sehingga terrealisasi sebesar 102,5%. Juga secara tahunan masih alami peningkatan.
Dia sebutkan dr. Rasyid, rumah sakit yang dipimpinnya tersebut tidak menjadi beban bagi pemerintah daerah. “RSUD kami tidak menjadi beban fiskal daerah dan BLUD mampu membiayai sebagian besar operasional secara mandiri,” tandasnya.
Ia menambahkan, kondisi keuangan yang sehat menjadi fondasi penting bagi peningkatan mutu layanan publik. “Keuangan sehat menjadi pondasi peningkatan mutu pelayanan public,” janjinya.
Meski demikian, manajemen tetap mencermati tantangan berupa ketergantungan pada pendapatan layanan yang masih dominan.
Sedangkan terkait dengan tingkat kunjungan juga masih terus mengalami peningkatkan. Dari kunjungan di angka 59.766 pada tahun 2022 menjadi 83.441 di 2023, lalu 96.485 kunjungan di 2024. “Dan di tahun lalu turun dikit ke angka 89.046,” ucap dia.
SDM Jadi Aset Strategis dan Tata kelola
Dalam pengelolaan SDM, RSUD RA Basoeni mengubah paradigma dari sekadar administrasi kepegawaian menjadi human capital berbasis strategi. “Bagi kami, tidak lagi menempatkan SDM sebagai administrasi kepegawaian, tetapi sebagai aset strategis penciptaan nilai,” ujarnya.
Penguatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan mutu dan keselamatan pasien, peningkatan kompetensi komunikasi dan empati, serta pengembangan manajerial kepala unit.
RSUD juga menerapkan sistem insentif berbasis kinerja dan mutu pelayanan, bukan semata berbasis kehadiran.
Dari sisi tata kelola, RSUD RA Basoeni telah menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG), manajemen risiko, SPIP, serta sistem pengaduan internal dan whistleblowing system.
Sejumlah penghargaan turut memperkuat reputasi rumah sakit ini, antara lain Akreditasi Paripurna, Juara I Lomba Kebersihan, serta penghargaan pelayanan prima tingkat daerah.
Kembali dr. Rasyid menegaskan komitmen jangka panjang rumah sakit yang dipimpinnya. “RSUD RA Basoeni bukan hanya melayani hari ini, namun membangun masa depan Kabupaten Mojokerto,” tandasnya, yakin.
Dengan penguatan kinerja, inovasi digital, serta tata kelola yang semakin matang, RSUD RA Basoeni Mojokerto menegaskan posisinya sebagai BLUD kesehatan yang berorientasi nilai, berkelanjutan, dan adaptif terhadap tantangan pelayanan publik ke depan.
