Jakarta, TopBusiness — Di tengah tekanan biaya operasional yang terus meningkat dan persaingan layanan kesehatan yang kian kompetitif, RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang NTT menempuh langkah strategis melalui pendekatan Efisiensi Operasional dan Pengembangan Investasi Layanan (EFITA).
Direktur RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, dr Stefanus Dhe Soka, SpB, MKM, menegaskan, rumah sakit daerah tidak bisa lagi mengandalkan pola pengelolaan konvensional di era tata kelola publik yang semakin menuntut akuntabilitas dan kinerja terukur.
“Rumah sakit pemerintah hari ini tidak hanya dituntut memberikan pelayanan bermutu, tetapi juga harus mampu menjaga keberlanjutan keuangan tanpa meninggalkan fungsi sosialnya,” ujar Stefanus dalam pemaparan strategi manajemen rumah sakit di sesi wawancara Penjurian TOP BUMD Awards 2026, secara daring, Rabu (11/02/2026).
Ajang tahunan ini menilai kinerja, inovasi, dan tata kelola badan usaha milik daerah (BUMD) dalam mendukung pembangunan daerah dan pelayanan publik.
Tekanan Biaya dan Target Pendapatan
Ia mengakui, tantangan terbesar rumah sakit saat ini adalah tingginya biaya operasional, khususnya pada komponen obat, bahan habis pakai, dan layanan penunjang seperti laboratorium. Di sisi lain, sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), rumah sakit juga dihadapkan pada target pendapatan yang meningkat setiap tahun.

Kondisi tersebut, menurut Stefanus, kerap menciptakan dilema antara kebutuhan pelayanan publik dan tuntutan kemandirian fiskal.
“Jika biaya tidak dikendalikan dengan baik, ruang fiskal untuk investasi layanan akan semakin sempit. Padahal, tanpa investasi, mutu layanan sulit berkembang,” katanya.
Melalui EFITA, manajemen rumah sakit mendorong pengendalian biaya berbasis sistem, digitalisasi monitoring keuangan, serta penataan ulang belanja operasional agar lebih efisien dan terukur.
Persaingan dan Ekspektasi Pasien
Pertumbuhan rumah sakit di Kota Kupang dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi faktor penting. Masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan layanan kesehatan.
Menurut Stefanus, persaingan tidak lagi sebatas tarif, melainkan kualitas pelayanan, kecepatan, dan pengalaman pasien.

“Pasien sekarang menuntut layanan yang cepat, pasti, dan nyaman. Artinya, kita harus membangun proses pelayanan yang unggul dan efisien,” ujarnya.
RSUD Prof. W.Z. Johannes, yang juga merupakan rumah sakit pendidikan utama bagi Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana, berupaya memperkuat diferensiasi layanan melalui inovasi. Sejumlah program seperti layanan obat ke rumah, laboratorium keliling, hingga digitalisasi proses pelayanan menjadi bagian dari strategi memperluas akses sekaligus meningkatkan kepuasan pasien.
Transformasi SDM dan Digitalisasi
Di luar aspek keuangan dan layanan, Stefanus menekankan pentingnya transformasi sumber daya manusia. Ia menilai peningkatan kompetensi tenaga medis dan kesehatan harus berjalan beriringan dengan modernisasi sistem.
“Tidak ada transformasi tanpa SDM yang kuat,” katanya. “Digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan agar pelayanan lebih efektif, transparan, dan akuntabel.”
Standar Pelayanan Minimal (SPM) menjadi salah satu fokus yang terus diperkuat melalui sistem monitoring berbasis data. Dengan pendekatan tersebut, manajemen berharap mutu layanan tidak hanya meningkat, tetapi juga konsisten.
Menjaga Fungsi Sosial
Meski mengedepankan efisiensi dan investasi, Stefanus menegaskan, fungsi sosial rumah sakit pemerintah tidak boleh tergeser oleh orientasi bisnis.
“Fungsi sosial rumah sakit tidak boleh berbenturan dengan rencana bisnis. Justru tata kelola yang sehat memungkinkan fungsi sosial berjalan berkelanjutan,” ujarnya.
Baginya, EFITA bukan semata strategi peningkatan pendapatan, melainkan kerangka kerja untuk memastikan rumah sakit mampu bertahan, tumbuh, dan tetap menjadi tumpuan layanan kesehatan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Dengan pendekatan efisiensi yang disiplin dan investasi yang terarah, RSUD Prof. W.Z. Johannes Kupang berharap dapat memperkuat kemandirian sebagai BLUD sekaligus menjaga kualitas pelayanan publik.
“Tujuan akhirnya adalah keberlanjutan pelayanan. Rumah sakit harus hadir dengan mutu yang baik hari ini, dan tetap kuat untuk melayani esok hari,” pungkas Stefanus.
TOP BUMD Awards 2026, diselenggarakan majalah TopBusiness, mengusung tema “Inovasi BUMD dalam Pembangunan Berkelanjutan”, yang menekankan pentingnya peran BUMD tidak hanya dalam capaian kinerja, tetapi juga dalam menghadirkan inovasi yang berdampak jangka panjang bagi masyarakat.
Dalam sesi Penjurian, Direktur RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, dr Stefanus Dhe Soka, SpB, MKM, membawakan presentasi bertajuk “Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Rumah Sakit Melalui Efisensi Operasional dan Pengembangan Investasi Layanan (EFITA) di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang”.” Ia didampingi oleh DR Nikolau Keuwuan S.Kep. Nurse. Mkes selaku Wadir Umum Keuangan.
Sementara itu, Dewan Juri yang hadir, yaitu: Prof. Wahyudi Zarkasyi (Akademsi FEB Unpad), Melani K. Harriman (Melani K. Harriman & Associates), Nurul Y. Setyabudi (IDTUG), serta Teguh Imam Suyudi yang juga bertindak sebagai moderator dari Redaksi Majalah TopBusiness.
Penulis: Teguh IS.
