Jakarta, TopBusiness – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, Kementerian Perdagangan berkomitmen mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi sektor perdagangan pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Hal ini untuk memastikan keberlanjutan aktivitas perdagangan serta mempercepat pemulihan ekonomi di daerah terdampak.
“Sarana perdagangan di wilayah terdampak bencana terus menunjukkan tren pemulihan yang positif, khususnya pada pasar rakyat. Dari total 166 pasar rakyat dan 4.952 pedagang yang terdampak, sebagian besar atau sekitar 90 persen (149 pasar rakyat) telah kembali beroperasi, sementara sisanya masih dalam proses percepatan pemulihan, mayoritas berada di Provinsi Aceh,” ujar Busan, panggilan akrabnya saat “Konferensi Pers Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatra Utara, dan Provinsi Sumatra Barat”, di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, dalam laman kemendag.go.id.
Kemendag bersinergi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk melaksanakan pembersihan pasar rakyat. Salah satunya, melalui aksi bersih pasar di Pasar Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, pada 30 Desember 2025—1 Januari 2026. Kemendag menyalurkan 100 unit tenda bagi pedagang sebagai sarana sementara untuk kembali berjualan. Kemendag juga telah berkoordinasi dengan ID FOOD, BULOG, dan pelaku usaha untuk memastikan pasokan barang kebutuhan pokok ke pasar-pasar di wilayah Aceh dan Sumatra Utara, khususnya di pasar terdampak bencana, guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.
Selain pasar rakyat, pemulihan aktivitas perdagangan berlangsung pada sektor ritel modern, yaitu toko swalayan. Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), dari total 274 gerai toko swalayan yang terdampak bencana di Aceh dan Sumatra Utara, sebanyak 259 gerai atau sekitar 95 persen telah kembali beroperasi normal. “Ditargetkan seluruhnya dapat beroperasi paling lambat pada akhir Februari 2026,” ujar Busan.
Dari sisi harga, Busan menyampaikan perkembangan harga barang kebutuhan pokok (bapok) relatif stabil pascabencana. Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada Januari–Februari 2026 menunjukkan tren penurunan dibandingkan Desember 2025 seiring dengan aktivitas logistik yang telah kembali normal.
Busan memaparkan, kinerja ekspor di wilayah terdampak tetap menunjukkan ketahanan. Contohnya, pascabencana pada akhir November 2025, kinerja ekspor Aceh tetap menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Nilai ekspor November 2025 meningkat menjadi USD 58,28 juta atau tumbuh 20,16 persen (month-to-month/MoM) dibandingkan Oktober 2025. Lalu, kembali naik pada Desember 2025 menjadi USD 59,69 juta atau tumbuh 2,42 persen (MoM). “Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun bencana alam berdampak pada distribusi dan logistik di sejumlah wilayah, secara agregat ekspornya Aceh mampu pulih relatif cepat,” kata Busan.
Sementara itu, Provinsi Sumatra Barat mencatatkan pertumbuhan ekspor yang kuat sepanjang 2025. Nilai ekspor meningkat dari USD 2,18 miliar pada 2024 menjadi USD 2,78 miliar pada 2025, atau tumbuh 27,64 persen (YoY).
Dia menyebut, dibandingkan dengan pola November–Desember 2024, kinerja ekspor Sumatra Barat pada November–Desember 2025 menunjukkan perbedaan signifikan. Pada November 2024, ekspor turun relatif terbatas (-9,66 persen) dan melemah pada Desember 2024 (-21,20 persen). Sebaliknya, pada 2025, penurunan ekspor pada November terjadi jauh lebih dalam (-52,56 persen), sebelum diikuti pemulihan yang sangat kuat pada Desember 2025 (174,15 persen).
“Perbedaan pola ini menegaskan, bencana alam menjadi faktor utama yang memperdalam pelemahan ekspor pada November 2025 meskipun secara keseluruhan daya pulih ekspor Sumatra Barat tetap terjaga dengan baik,“ tutur Busan.
Selanjutnya, Provinsi Sumatra Utara mencatatkan peningkatan nilai ekspor dari USD 10,66 miliar pada 2024 menjadi USD 12,56 miliar pada 2025, atau tumbuh 17,84 persen (YoY). Kinerja ekspor sempat mengalami tekanan pada November 2025 dengan penurunan sebesar -25,98 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi bencana alam yang mengganggu aktivitas logistik dan produksi di sejumlah sentra ekspor. Namun demikian, ekspor Sumatra Utara kembali menunjukkan pemulihan pada Desember 2025 dengan pertumbuhan sebesar 18,89 persen.
