Jakarta, TopBusiness – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan. Namun, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menilai capaian tersebut masih menyimpan kerentanan struktural karena ditopang terutama oleh konsumsi domestik dan faktor temporer.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komponen terbesar penyumbang pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 2,62 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 1,58 persen. “Fakta ini menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan Indonesia masih sangat bergantung pada daya beli masyarakat dan stimulus fiskal,” kata Deputy Director INFID Bona Tua dalam siaran pers, Kamis (12/2/2026).
Bona menjelaskan, penguatan konsumsi pada triwulan IV 2025 dipengaruhi faktor sementara, seperti libur Natal dan Tahun Baru, berbagai event nasional, diskon transportasi, serta lonjakan belanja bantuan sosial tunai yang tumbuh 66,88 persen secara tahunan. Menurut dia, kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan pertumbuhan apabila dukungan jangka pendek tersebut dikurangi atau dihentikan.
Selain itu, INFID menyoroti kualitas ketenagakerjaan. Data BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada November 2025 sebesar 4,74 persen atau turun 0,11 poin dibanding Agustus 2025. Meski demikian, sebanyak 57,7 persen pekerja masih berada di sektor informal dan 32,06 persen penduduk bekerja tergolong pekerja tidak penuh waktu. “Artinya, satu dari tiga pekerja Indonesia belum bekerja secara penuh,” ujar Bona.
Dari sisi kemiskinan, jumlah penduduk miskin pada September 2025 turun 0,49 juta jiwa menjadi 23,36 juta jiwa dibandingkan Maret 2025. Namun, INFID menilai capaian itu perlu dilihat bersama fakta bahwa garis kemiskinan nasional naik 5,3 persen dalam periode yang sama serta adanya pengaruh bantuan pemerintah terhadap penurunan angka kemiskinan.
Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 tumbuh 5,39 persen, menjadi pertumbuhan kuartal keempat tertinggi sejak pandemi Covid-19. Secara triwulanan sepanjang 2025, ekonomi tumbuh 4,87 persen pada kuartal I, lalu 5,12 persen, 5,04 persen, dan 5,39 persen pada kuartal IV.
Secara keseluruhan, realisasi pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen berada sedikit di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 5,2 persen. INFID menilai tantangan utama Indonesia ke depan bukan hanya menjaga laju pertumbuhan, tetapi memastikan kualitasnya mampu menciptakan lapangan kerja layak, menurunkan ketimpangan, dan mengurangi kemiskinan secara berkelanjutan.
