Jakarta, TopBusiness — PT BPR Bank Wonosobo (Perseroda) terus memperkuat transformasi bisnis melalui berbagai inovasi strategis yang mencakup pengembangan produk, peningkatan layanan pelanggan, penguatan human capital, hingga digitalisasi sistem operasional.
PT BPR Bank Wonosobo (Perseroda) terus memperkuat kinerja bisnis melalui berbagai inovasi di bidang layanan pelanggan, digitalisasi, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM). Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas kontribusi terhadap perekonomian di Kabupaten Wonosobo.
Hal itu dikatakan Direktur Utama Bank Wonosobo Galih Pambajeng dalam sesi presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (12/2/2026).
“Dalam presentasi ini, kami mengambil tema Show Up, Speed Up, Grow Up: Towards Local Champion. Tema ini menggambarkan bagaimana Bank Wonosobo berupaya menjadi local champion di wilayah Wonosobo melalui inovasi-inovasi yang telah kami lakukan,” ujar dia.
Menurut Galih, tema tersebut mencerminkan komitmen bank untuk tampil lebih aktif, bergerak cepat, dan tumbuh agar menjadi pilihan utama masyarakat Wonosobo. “Kami ingin menjadi BUMD yang mampu mendukung perkembangan ekonomi daerah sekaligus memperkuat reputasi sebagai lembaga keuangan yang sehat dan terpercaya,” kata Galih.
Kinerja Keuangan Tumbuh Solid
Sepanjang 2025, kinerja Bank Wonosobo menunjukkan tren positif di berbagai indikator utama. Total aset meningkat dari Rp517,4 miliar pada 2024 menjadi Rp569,2 miliar pada 2025 atau tumbuh sekitar 10%. Penyaluran kredit naik 6,68% menjadi Rp479,2 miliar, sementara tabungan tumbuh 5,87% menjadi Rp172,4 miliar dan deposito melonjak 15,92% menjadi Rp280,2 miliar.
Dari sisi profitabilitas, laba sebelum pajak naik signifikan 24,76% menjadi Rp10,73 miliar, sedangkan laba setelah pajak melonjak 26,44% menjadi Rp8,47 miliar. “Peningkatan laba menunjukkan strategi efisiensi dan penguatan pendapatan berjalan efektif,” katanya.
Dengan laba tersebut, Bank Wonosobo tercatat sebagai BUMD penyumbang dividen terbesar kedua di Kabupaten Wonosobo.
Rasio kesehatan bank juga menunjukkan perbaikan. Rasio permodalan (CAR) naik dari 19,37% menjadi 20,39% setelah adanya tambahan modal disetor sekitar Rp8,9 miliar dari pemegang saham. Rasio ROA meningkat dari 1,64% menjadi 1,93%, sementara rasio efisiensi BOPO turun dari 86,41% menjadi 82,07%, menandakan pengelolaan biaya semakin baik.
Likuiditas bank juga membaik, tercermin dari kenaikan cash ratio dari 9,87% menjadi 15,71%. Namun manajemen mengakui rasio loan to deposit ratio (LDR) masih relatif tinggi di atas batas sehat sehingga tetap menjadi perhatian dalam strategi penguatan struktur pendanaan.
Inovasi Produk dan Layanan
Untuk memperkuat penghimpunan dana pihak ketiga, Bank Wonosobo meluncurkan berbagai inovasi produk, termasuk tabungan berhadiah mobil dan elektronik. Program ini terbukti menarik minat masyarakat untuk menempatkan dana sehingga bank memperoleh sumber dana murah guna menyalurkan kredit secara lebih efisien.
Selain itu, bank mengembangkan produk pembiayaan seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kredit khusus DPRD, serta pinjaman berbasis emas. “Kami terus berinovasi pada sisi produk agar kebutuhan masyarakat terpenuhi sekaligus menjaga kualitas portofolio kredit,” ujar Galih.
Dalam pengelolaan risiko kredit, bank menerapkan sistem On Time Payment (OTP) dengan melakukan penagihan sebelum jatuh tempo. Langkah ini dinilai efektif menekan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) dan mencegah munculnya kredit bermasalah baru. Hal itu tercermin dari rasio NPL net yang turun dari 8,01% menjadi 6,39%.
Terkait pengembangan produk, perseroan meluncurkan tabungan berhadiah berbasis poin bernama SITAMPAN. Program ini memungkinkan nasabah memperoleh poin dari saldo tabungan yang kemudian diikutkan undian hadiah. Produk tersebut terbukti meningkatkan minat masyarakat membuka rekening baru.
Digital Operasional dan Bisnis
Salah satu kekuatan Bank Wonosobo terletak pada kemampuan mengembangkan sistem digital secara mandiri melalui tim IT internal. Perusahaan menciptakan aplikasi SIKRIBO (Sistem Informasi Ketentuan Bank Wonosobo) yang memungkinkan karyawan mengakses ketentuan perbankan, permohonan SLIK/IDEB, dan Perjanjian Kredit secara digital.
Selain itu, bank mengembangkan BWAccess, aplikasi yang berfungsi sebagai sistem monitoring kinerja karyawan, absensi, pengajuan cuti, serta pelaporan aktivitas pemasaran secara real time. Sistem ini membantu manajemen memantau produktivitas secara objektif dan efisien.
Untuk nasabah, perusahaan menghadirkan layanan BW Digital yang memungkinkan pengecekan saldo transkasi secara realtime, baik simpanan maupun pinjaman.
“Aplikasi ini juga sedang berproses ijin ke OJK dan BI untuk dapat digunakan sebagai sarana transfer seperti mobile manking yang berkerjasama dengan Bank Umum dengan API antarserver,” ujar Galih.
Digitalisasi juga diterapkan dalam pengelolaan transaksi desa. Melalui sistem nontunai, pengelolaan keuangan desa menjadi lebih transparan dan akuntabel.
Strategi Human Capital Berbasis KPI
Transformasi Bank Wonosobo turut menyasar aspek sumber daya manusia. Perseroan menerapkan sistem manajemen kinerja berbasis key performance indicator (KPI) yang terintegrasi dengan evaluasi berkala, analisis beban kerja, serta manajemen talenta. Penilaian dilakukan setiap enam bulan untuk memastikan kecocokan jabatan dengan kompetensi pegawai.
Karyawan juga mendapatkan pelatihan regulasi perbankan, edukasi produk, serta kuis literasi keuangan rutin untuk meningkatkan pengetahuan. Hasil survei internal menunjukkan indeks kepuasan karyawan mencapai skor 3,94 dari skala 5, mencerminkan persepsi positif terhadap lingkungan kerja.
Bank juga menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang terukur. Reward diberikan berdasarkan capaian KPI dan masa kerja, sedangkan pelanggaran dikenai sanksi berjenjang.
“Promosi dan mutasi kami dasarkan pada kinerja, bukan subjektivitas. Ini penting untuk membangun budaya profesional,” jelas Galih.
Kontribusi dan Prestasi
Sebagai BUMD, Bank Wonosobo tidak hanya berorientasi bisnis tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial. Pada 2025, bank menyetorkan dividen Rp353 juta kepada pemerintah daerah serta menjalankan berbagai program sosial seperti bantuan rumah tidak layak huni, program ketahanan pangan, penanganan stunting, edukasi literasi keuangan, dan bantuan sembako bagi masyarakat kurang mampu.
Bank juga aktif membantu penanganan bencana longsor melalui program CSR serta menyalurkan kredit kepada 30 program pemerintah daerah dengan total outstanding Rp35 miliar.
“Kami menjadi mitra desa dalam pengelolaan dana desa serta mendukung transaksi nontunai melalui aplikasi desa guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas,” ujar dia.
Berkat kinerja, inovasi dan kontribusinya tersebut, Bank Wonosobo kembali terpilih menjadi kandidat peraih TOP BUMD Awards 2026. Selama dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025, Bank Wonosobo meraih predikat Bintang 4 dalam ajang TOP BUMD Awards.
