TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bank Syariah Bandar Lampung Perkuat Sinergi untuk Raih Pertumbuhan Berkelanjutan

Fauzi
18 February 2026 | 20:10
rubrik: BUMD, Event
Bank Syariah Bandar Lampung Perkuat Sinergi untuk Raih Pertumbuhan Berkelanjutan

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Bandar Lampung (Perseroda) atau Bank Syariah Bandar Lampung telah merampungkan sesi penjurian Top BUMD Awards 2026, yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Rabu (18/2/2026).

Mengusung tema Synergize to Enlarge Sustainable Growth, bank milik Pemerintah Kota Bandar Lampung ini menegaskan komitmennya untuk memperbesar skala usaha tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian dan nilai syariah.

Direktur yang Membawahkan Fungsi Kepatuhan Bank Syariah Bandar Lampung, Andri N Dananjaya, menjelaskan bahwa tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi arah strategis dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).

“Kami mencanangkan tahun ini, tahun yang untuk kami bersinergi, untuk membesarkan Bank Syariah Bandar Lampung dengan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Bank Syariah Bandar Lampung mengusung visi menjadi BPR Syariah terdepan dalam layanan, dengan kinerja terbaik di Provinsi Lampung. Visi ini ditopang misi memberikan pelayanan prima agar menjadi bank pilihan masyarakat, meningkatkan nilai investasi dan kesejahteraan seluruh pemangku kepentingan, serta membentuk SDM yang berkualitas, berakhlak, dan berintegritas.

Sebagai bank milik daerah dengan status perseroda, mayoritas saham dimiliki Pemerintah Kota Bandar Lampung. Laba yang dihasilkan disetorkan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, sesuai regulasi, sebesar 3 persen laba dialokasikan untuk layanan publik sosial atau CSR.

“Kami mendorong pemberdayaan untuk memastikan ekonomi Kota Bandar Lampung tumbuh dan kami menjalankan misi sosial agar pertumbuhan tersebut berkah dan merata,” kata Andri.

Untuk diketahui, pada 2025, seperti dikatakan Andri, realisasi penyaluran CSR Bank Syariah Bandar Lampung mencapai sekitar Rp106 juta.

Strategi Bisnis dan Tata Kelola

Sebagai BPRS, fungsi intermediasi menjadi tulang punggung usaha, yakni menghimpun dan menyalurkan dana berbasis prinsip syariah. Segmen pasar yang disasar adalah sektor yang dinilai resilien, seperti Aparatur Sipil Negara (ASN) dan UMKM terseleksi.

Strategi utama 2026 difokuskan pada peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA). Selama ini, struktur dana BPR/BPRS cenderung didominasi deposito. “Untuk strategi penghimpunan dana, kami mengubahnya dari dana mahal ke dana murah,” jelas Andri.

BACA JUGA:   Tak Hanya Sudah Ukur IKM, SLI, dan SROI, Program CSR SIG Juga Hasilkan Proper Emas

Inovasi yang ditempuh antara lain program tabungan berhadiah dengan imbal hasil kompetitif, disertai hadiah fisik untuk menarik minat nasabah.

Di sisi pembiayaan, bank mengoptimalkan portofolio eksisting, terutama pembiayaan ASN, serta memperluas pembiayaan porsi haji dan umrah—baik reguler maupun khusus—yang volumenya terus meningkat. Produk pembiayaan kepemilikan emas dan gadai emas juga menjadi andalan dengan volume signifikan.

Sementara dalam aspek tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan, bank memastikan setiap produk melalui uji kepatuhan serta pengawasan Dewan Pengawas Syariah. Risiko pembiayaan dikelola melalui penagihan intensif, restrukturisasi, dan prinsip kehati-hatian.

Risiko operasional ditekan melalui peningkatan sistem IT pelaporan serta percepatan alur proses pembiayaan agar lebih kompetitif. Sementara risiko kepatuhan dijaga dengan memastikan seluruh produk telah melalui pengujian sesuai prinsip syariah dan regulasi.

Kinerja

Bank Syariah Bandar Lampung memastikan tingkat kesehatan perusahaan tetap terjaga di tengah ekspansi pembiayaan yang agresif dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah indikator utama berbasis ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan posisi yang masih berada dalam kategori sehat.

Dari sisi permodalan, rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tercatat sebesar 19,9 persen, jauh di atas batas minimum 12 persen sesuai POJK. Meski mengalami penurunan, manajemen menilai kondisi tersebut sebagai konsekuensi dari ekspansi pembiayaan yang signifikan.

“Memang beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan pembiayaan kami cukup luar biasa, bahkan di dua tahun terakhir itu jauh melampaui dari rencana bisnis bank,” ujar Andri.

Pada aspek kualitas aset, Kualitas Aktiva Produktif (KAP) berada di level 95,39 persen. Peningkatan ini ditopang penagihan yang lebih efektif, penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta restrukturisasi yang dinilai berhasil menata kembali struktur outstanding pembiayaan.

Sementara itu, Return on Asset (ROA) berada di angka 3,84 persen, turun tipis 0,11 persen. Kendati demikian, posisi tersebut masih berada di atas ambang batas sehat OJK sebesar 2 persen. Penurunan rasio terjadi seiring pertumbuhan aset yang cepat dan penyaluran pembiayaan baru, sementara imbal hasil dari aset tersebut belum sepenuhnya terealisasi.

Untuk rasio efisiensi, BOPO tercatat 76,96 persen, sedikit meningkat dibanding 76,5 persen pada 2024, namun masih di bawah batas maksimal 85 persen. Kenaikan biaya operasional terutama dipengaruhi oleh penguatan struktur dan kompetensi sumber daya manusia (SDM).

BACA JUGA:   CSR Berbasis ESG Bank Mandiri Sukses Angkat UMKM Naik Kelas dan Dukung Inklusi Sosial

“Sebagian besar peningkatan BOPO adalah untuk melengkapi SDM dan juga untuk melengkapi kompetensi dari SDM yang sudah ada, sehingga nanti SDM ini mampu menunjang Bank Syariah Bandar Lampung untuk bertumbuh dan terus berkembang,” jelas manajemen.

Dari sisi risiko pembiayaan, rasio Non Performing Financing (NPF) tercatat 2,93 persen, masih di bawah batas maksimum OJK sebesar 5 persen. Rasio ini dijaga untuk memastikan pencadangan pembiayaan tetap terkendali dan laba dapat terpelihara.

Pada rasio Net Interest Margin (NIM), posisi bank berada di level 10,14 persen. Penurunan tipis terjadi akibat dinamika pasar dan strategi pemberian margin pembiayaan yang lebih kompetitif guna menjaga loyalitas nasabah. Namun margin tetap dipertahankan di level dua digit untuk menjaga profitabilitas jangka panjang.

Untuk Financing to Deposit Ratio (FDR) versi OJK tercatat 134,73 persen karena hanya menghitung dana perorangan dan tidak memasukkan dana antarbank. Jika memperhitungkan dana pihak kedua, rasio tersebut masih di bawah 90 persen.

Adapun cash ratio berada di angka 11,73 persen. Meski dinilai relatif ketat, posisi ini masih jauh di atas batas minimum OJK yang mensyaratkan tidak berada di bawah 3 persen dalam enam bulan berturut-turut. Secara internal, manajemen menetapkan risk appetite di level 20 persen dan risk tolerance di angka 8 persen, sehingga posisi saat ini masih dalam koridor toleransi.

Andri menyebut likuiditas tetap terjaga karena dana yang tersedia dioptimalkan melalui penempatan di bank lain maupun penyaluran pembiayaan kepada nasabah.

Untuk kinerja keuangan, dari sisi penghimpunan dana dan penyaluran pembiayaan sama-sama mencatatkan kenaikan dua digit dibandingkan tahun sebelumnya, diikuti pertumbuhan aset dan laba yang tetap terjaga.

Dari sisi penghimpunan dana, realisasi 2025 mencapai Rp136,036 miliar, meningkat sekitar 12 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp121,4 miliar. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap bank milik daerah tersebut.

BACA JUGA:   GRC Perkuat Bisnis Berkelanjutan SMI

Sementara itu, penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan tumbuh lebih agresif. Pada 2024, pembiayaan tercatat Rp101,8 miliar, dan melonjak menjadi Rp126,9 miliar pada 2025. Kenaikan sekitar Rp25 miliar atau 24,6 persen ini menunjukkan ekspansi pembiayaan yang signifikan dalam dua tahun terakhir.

“Peningkatan pembiayaan memang menjadi salah satu fokus utama perseroan dalam mendorong pertumbuhan bisnis,” ungkap Andri.

Dari sisi neraca, total aset Bank Syariah Bandar Lampung meningkat dari Rp150,2 miliar pada 2024 menjadi Rp167,2 miliar pada 2025. Kenaikan sekitar Rp17 miliar atau 11,3 persen ini sejalan dengan ekspansi pembiayaan yang dilakukan perusahaan.

Adapun laba setelah pajak turut mengalami kenaikan, dari Rp4,4 miliar pada 2024 menjadi Rp4,7 miliar pada 2025, atau tumbuh sekitar 6,5 persen. Meski pertumbuhan laba terlihat lebih moderat dibandingkan pertumbuhan pembiayaan dan aset, manajemen menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh strategi penguatan internal.

Kenaikan biaya operasional pada 2025 diarahkan untuk melengkapi struktur organisasi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Investasi pada SDM dinilai sebagai langkah strategis untuk menopang pertumbuhan jangka panjang dan memastikan Bank Syariah Bandar Lampung terus berkembang secara berkelanjutan.

“SDM ini adalah sumber daya terbesar untuk kita meningkatkan kualitas bisnis,” tegas Andri. Tak ayal, program penghargaan best employee juga diterapkan untuk memacu kinerja dan kontribusi pegawai.

Inovasi

Untuk meningkatkan daya saing, Bank Syariah Bandar Lampung mengembangkan solusi bisnis berupa Simplifikasi Akad. Sistem internal ini dirancang untuk mempercepat proses dari pengajuan hingga realisasi pembiayaan.

“Nasabah datang, nasabah mengajukan, disetujui dan langsung tanda tangan akad dan pembiayaannya terealisasi,” terang Andri.

Sistem ini memungkinkan satu kali input untuk seluruh dokumen pembiayaan sehingga mempercepat proses dan meminimalkan kesalahan.

“Manfaat dan dampak untuk perusahaan adalah kecepatan proses bisnis dan mengurangi human error,” tambahnya.

Selain itu, bank juga memanfaatkan virtual account untuk memudahkan setoran angsuran dan tabungan. Meski belum memiliki ATM dan mobile banking sendiri, nasabah dapat menggunakan layanan bank umum lain untuk bertransaksi.

Tags: BPRS Bandar LampungTop BUMD
Previous Post

RSU Haji Medan Bertransformasi Jadi BLUD Profesional, Berkelanjutan, dan Berorientasi Pelayanan Publik

Next Post

DPR RI Dorong Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR