Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia pada pembukaan perdagangan Kamis (19/02/2026) ini menguat signifikan. IHSG mendaki 47,22 poin atau setara 0,57 persen ke posisi 8.357,45. Sementara itu, indeks LQ-45 yang merupakan kelompok 45 saham terlikuid juga naik 3,83 poin atau 0,46 persen ke level 842,37.
Penguatan IHSG pada awal perdagangan hari ini turut didukung oleh aktivitas transaksi yang cukup ramai. Hingga beberapa saat setelah pembukaan, frekuensi perdagangan tercatat mencapai sekitar 395.004 kali transaksi. Volume perdagangan mencapai 6,07 miliar saham, dengan nilai transaksi harian sementara sebesar Rp2,95 triliun.
Pergerakan pasar juga menunjukkan mayoritas saham bergerak di zona hijau. Tercatat sebanyak 316 saham mengalami kenaikan, sementara 202 saham melemah dan 184 saham stagnan.
Dari sisi sentimen, penguatan IHSG dipengaruhi oleh optimisme investor yang masih terjaga, sejalan dengan pergerakan positif bursa saham regional Asia. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati sejumlah faktor eksternal, termasuk perkembangan kebijakan suku bunga global dan dinamika ekonomi internasional yang dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bullish dengan peluang melanjutkan penguatan apabila mampu bertahan di atas level support psikologis. Analis memperkirakan rentang pergerakan IHSG hari ini berada pada area resistance 8.400 hingga 8.440, dengan support pada kisaran 8.250 hingga 8.270.
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (18/02/2026), IHSG ditutup menguat cukup tajam sebesar 97,96 poin atau 1,19 persen ke level 8.310,23. Penguatan tersebut menjadi modal positif bagi pergerakan indeks pada perdagangan hari ini, ditopang oleh aksi beli investor dan kenaikan mayoritas sektor saham di Bursa Efek Indonesia.
Dengan dukungan likuiditas yang kuat dan sentimen pasar yang positif, IHSG diperkirakan masih berpotensi bergerak menguat sepanjang sesi perdagangan hari ini, meskipun investor tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi global yang dapat memicu volatilitas.
