Jakarta, TopBusiness – Menteri Perdagangan Budi Santoso atau Mendag Busan memaparkan, pemerintah terus memantau perkembangan harga dan pasokan bapok melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag menjelang Ramadan dan Lebaran. Masyarakat dapat mengakses sistem ini melalui tautan https://sp2kp.kemendag.go.id/.
Berdasarkan data SP2KP per 13 Februari 2026, secara rata-rata nasional harga sejumlah komoditas relatif terkendali menjelang Ramadan. Beberapa di antaranya, yaitu daging sapi sebesar Rp133.618/kg dan bawang putih Rp36.875/kg.
Sementara itu, harga MINYAKITA secara nasional tercatat Rp16.020/liter. Angka tersebut turun dibandingkan sebelumnya yang ada di kisaran Rp16.800/liter meskipun masih di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700/liter. Mendag Busan menyampaikan, tren penurunan ini merupakan sinyal positif pascaterbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat.
“MINYAKITA hari ini harganya Rp16.020/liter, HET-nya Rp15.700/liter. Sebelum Permendag Nomor 43 Tahun 2025 terbit, rata-rata harganya Rp16.800. Sekarang sudah mengalami penurunan,” ujar Busan dalam laman kemendag.go.id.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang secara rata-rata nasional relatif tinggi di atas harga acuan (HA), seperti daging ayam ras Rp40.259/kg (HA Rp40.000/kg) dan telur ayam ras Rp30.570/kg (HA Rp30.000/kg). Meski demikian, pemerintah memastikan akan terus memantau dan berkoordinasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta Satgas Pangan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi.
“Kami bersama kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta Satgas Pangan terus berkoordinasi untuk memastikan pasokan cukup dan distribusi berjalan lancar. Jika ada kenaikan harga di wilayah tertentu, kami telusuri penyebabnya, baik karena distribusi maupun peningkatan permintaan,” tegasnya.
Terkait kenaikan harga cabai rawit, Busan menjelaskan, pemerintah telah berkoordinasi dengan asosiasi petani. Menurutnya, faktor cuaca, khususnya curah hujan tinggi, menjadi salah satu penyebab terganggunya distribusi meskipun produksi relatif tersedia. “Kami telah berkoordinasi dengan asosiasi petani. Secara produksi, ketersediaan sebenarnya mencukupi. Namun, curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus menyebabkan distribusi terganggu sehingga berdampak pada pergerakan harga. Koordinasi terus kami lakukan untuk memastikan pasokan kembali lancar,” pungkas Busan.
