Jakarta, TopBusiness – Bank Kota Bogor berkomitmen untuk memperkuat kinerja bisnis sekaligus memperluas akses keuangan masyarakat,
Sebagai BUMD yang seluruh sahamnya dimiliki Pemerintah Kota Bogor, bank tersebut memegang mandat ganda, yaitu menjaga kinerja bisnis sekaligus mendorong ekonomi daerah.
“Kami tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keuangan, tetapi juga instrumen pembangunan daerah, khususnya dalam memperluas akses pembiayaan masyarakat dan pelaku UMKM,” ujar Direktur Operasional Bhima Irsi Faliandri dalam sesi presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (19/2/2026).
Di hadapan dewan juri, Bhima memaparkan capaian kinerja perusahaan sepanjang 2025, strategi pertumbuhan, hingga inovasi layanan yang menjadi motor transformasi perusahaan.
Menurut Bhima, Bank Kota Bogor memiliki captive market sekitar 7.000 aparatur sipil negara di lingkungan Kota Bogor. Meski demikian, perusahaan tetap menargetkan perluasan layanan ke segmen masyarakat umum. Strategi ini menjadi bagian dari visi bank untuk “Menjadi BPR Terpercaya dengan Citra Prima dalam Layanan Keuangan.”
Kinerja Keuangan Tumbuh Positif
Dari sisi kinerja, Bhima melaporkan indikator keuangan utama sepanjang 2025 menunjukkan tren pertumbuhan. Total aset Bank Kota Bogor pada 2025 mencapai Rp 283 miliar, meningkat 7,17% secara tahunan atau lebih dari Rp20 miliar dan melampaui target dalam RBB.
Pertumbuhan tersebut didorong penghimpunan dana masyarakat yang stabil. Tabungan dan deposito tercatat Rp 149 miliar, melampaui target hingga Rp3,4 miliar atau sekitar 102%, dengan kenaikan secara tahunan sekitar Rp5,3 miliar. Selain itu, pinjaman yang diterima dari perbankan lain mencapai RP 30,3 miliar, naik hampir Rp 15 miliar atau sekitar 49,46% dibanding tahun sebelumnya.
“Kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Ini terlihat dari peningkatan dana pihak ketiga serta pertumbuhan kredit yang signifikan,” kata Bhima.
Penyaluran kredit pada 2025mencapai Rp 183 miliar, naik lebih dari Rp22 miliar secara atau 12,39% dan melampaui target sekitar Rp2 miliar. Kinerja tersebut turut mengerek pendapatan operasional bank yang tumbuh lebih dari Rp 4,5 miliar atau 11,89% secara year on year dan melampaui target 106%.
Walau beban operasional meningkat, manajemen menilai kenaikan masih dalam batas terkendali. Secara keseluruhan, laba usaha bersih Bank Kota Bogor pada 2025 tercatat Rp5,8 miliar atau naik sekitar Rp 490 juta (8,86%) dibanding periode sebelumnya, sekaligus melampaui target 105,54%.
Rasio Kesehatan Bank Terjaga
Bhima menegaskan kondisi kesehatan bank berada dalam kategori “Sehat” berdasarkan standar Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal itu tercermin dari berbagai rasio utama seperti KPMM, KAP, PPAP, NPL, ROA, BOPO, NIM, LDR dan Cash Ratio yang masih berada dalam rentang penilaian Sehat.
“Seluruh indikator kesehatan bank telah dihitung dan dilaporkan sesuai ketentuan regulator. Hasilnya, posisi kami tetap dalam kategori Sehat,” jelasnya.
Dari sisi nasabah, jumlah rekening juga menunjukkan tren peningkatan dalam lima tahun terakhir, dari 12.677 nasabah hingga 21.859 nasabah pada 2025.
Dorong Pembiayaan Produktif
Dalam penyaluran pembiayaan, Bank Kota Bogor saat ini masih menitikberatkan kredit konsumtif kepada ASN karena dinilai memiliki risiko lebih rendah. Total penyaluran kredit konsumsi tercatat sekitar Rp173 miliar pada 2025.
“Kami fokus pada kredit konsumtif berbasis payroll karena tingkat keamanannya lebih tinggi. Skema potong gaji membuat risiko kredit lebih terkontrol,” ujar Bhima.
Sementara itu, untuk mendorong pembiayaan produktif, Bank Kota Bogor menyiapkan sejumlah inisiatif. Salah satunya program kredit ultra mikro tanpa agunan dengan plafon hingga Rp4 juta bagi nasabah penabung aktif yang memiliki usaha. Program ini telah berjalan hampir dua tahun dan menjangkau lebih dari 200 debitur.
“Tujuan utama program ini adalah membantu UMKM keluar dari jeratan pinjaman informal berbunga tinggi dan meningkatkan daya saing usaha,” katanya.
Program tersebut juga menjadi tahap awal seleksi calon penerima pembiayaan lebih besar melalui skema Kredit Usaha Daerah (Kurda) yang tengah diproses bersama Pemerintah Kota Bogor dan DPRD Kota Bogor. Dalam skema itu, bunga kredit akan disubsidi pemerintah daerah sehingga pelaku UMKM hanya menanggung sebagian kecil bunga pinjaman.
“Jika bunga normal 18% dan pemerintah mensubsidi 12%, maka pelaku usaha hanya membayar sekitar 6%. Skema ini kami yakini akan meningkatkan minat pembiayaan produktif,” jelas Bhima.
Bank menargetkan program tersebut mampu menambah sekitar 1.000 debitur baru dengan total plafon pembiayaan sekitar Rp5 miliar pada tahap awal implementasi.
Literasi Keuangan dan Digitalisasi
Selain ekspansi kredit, perusahaan juga mendorong literasi keuangan. Sepanjang 2025, Bank Kota Bogor bekerja sama dengan 61 sekolah melalui program tabungan siswa. Layanan jemput bola menggunakan mobil kas keliling menghasilkan 6.314 rekening pelajar dengan total simpanan sekitar Rp1,5 miliar.
Di bidang digitalisasi, bank sedang mengembangkan layanan ATM cardless yang kini masih menunggu perizinan dari Bank Indonesia. Fitur ini memungkinkan nasabah menarik uang tanpa kartu fisik sehingga dinilai lebih praktis dan aman.
“Kehadiran fitur tersebut tidak hanya meningkatkan kenyamanan transaksi, tetapi juga meminimalkan risiko kehilangan kartu atau penyalahgunaan oleh pihak lain,” ujar Bhima.
Selain itu, bank juga mengembangkan aplikasi Mobile Dikelar, sebuah layanan jemput bola yang dirancang khusus untuk memudahkan nasabah, terutama pelaku UMKM. Dengan aplikasi ini, petugas bank dapat langsung mendatangi nasabah untuk melayani setoran maupun transaksi lainnya di lokasi usaha atau tempat nasabah berada.
Seluruh transaksi yang dilakukan tercatat secara online dan realtime ke sistem bank, sehingga meningkatkan transparansi serta rasa aman bagi nasabah.
Penguatan Manajemen Risiko
Dalam aspek tata kelola, manajemen menegaskan penerapan manajemen risiko telah berjalan komprehensif. Bank kini mengelola enam jenis risiko sesuai ketentuan regulator karena modal inti telah melampaui Rp50 miliar. Penilaian profil risiko dilakukan setiap semester, sedangkan pemantauan limit risiko dilakukan setiap bulan.
Selain itu, seluruh pegawai wajib mengikuti pelatihan antipencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme secara berkala. Program pelatihan juga menjadi syarat bagi karyawan baru sebelum mulai bertugas.
Bank juga menerapkan sistem penilaian kinerja berbasis KPI serta mekanisme reward and punishment untuk memastikan disiplin operasional. “Kami ingin budaya kepatuhan dan risk awareness tertanam di seluruh lini organisasi,” ujar Bhima.
Terkait rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) yang relatif tinggi, manajemen menyiapkan strategi peningkatan likuiditas melalui kerja sama dengan perusahaan fintech untuk mendorong penempatan deposito. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat struktur pendanaan sekaligus menurunkan rasio LDR secara bertahap.
Di sisi lain, bank juga memperluas sinergi dengan BUMD lain melalui forum kolaborasi daerah. Kerja sama dilakukan bersama Perumda Air Minum Tirta Pakuan, Perumda Pasar Pakuan Jaya, serta operator transportasi publik Trans Pakuan. Kolaborasi tersebut meliputi literasi keuangan pedagang pasar, pembiayaan kios, layanan payroll, hingga pemanfaatan ruang branding di fasilitas publik.
Bank Kota Bogor yang berdiri sejak 1975 kini juga tengah menunggu persetujuan regulator untuk perubahan bentuk badan hukum menjadi perseroan terbatas. Transformasi ini diharapkan memperkuat struktur permodalan serta fleksibilitas ekspansi bisnis.
Optimistis Raih Penghargaan
Menutup presentasinya, Bhima menyatakan optimistis perusahaan mampu meraih hasil positif dalam ajang penghargaan TOP BUMD Awards 2026. Ia menilai pencapaian kinerja, inovasi layanan, serta kontribusi terhadap ekonomi daerah menjadi modal kuat untuk bersaing dengan BUMD lain secara nasional.
“Kami berharap kerja keras seluruh tim dapat menghasilkan pengakuan yang membanggakan. Namun yang terpenting, kami terus memperbaiki layanan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebelumnya, Bank Kota Bogor meraih penghargaan TOP BUMD Awards 2023 kategori bintang 4.
