Jakarta, TopBusiness – PT PLN (Persero) Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Kalimantan melalui Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimra) menghadirkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Pengembangan Budidaya Ikan Berbasis Teknologi Akuakultur bagi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Nila Balap Maju Mapan Digi di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Program yang dilaksanakan sepanjang 2025 tersebut menjadi wujud komitmen PLN dalam menghadirkan listrik tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai solusi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Inisiatif ini menegaskan peran perusahaan dalam mendorong pembangunan ekonomi berbasis pemanfaatan energi listrik yang produktif dan ramah lingkungan.
Team Leader KU UP2B Kaltimra, Wahyu Syawaliani, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari keterkaitan langsung antara tugas utama PLN sebagai penyedia energi listrik yang andal, berkelanjutan, dan bernilai tambah dengan kebutuhan riil masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Pemanfaatan listrik untuk menggerakkan aerator dalam sistem budidaya ikan merupakan bentuk konkret bagaimana energi listrik menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kami ingin memastikan listrik tidak hanya menerangi, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan,” ujar Wahyu saat memaparkan program di hadapan Dewan Juri TOP CSR Awards 2026 di Jakarta, Kamis, yang digelar secara daring melalui aplikasi zoom meeting.
Dalam presentasi berjudul ‘Pengembangan Budidaya Ikan Berbasis Teknologi Akuakultur pada Kelompok Budidaya Ikan Nila di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur’, Wahyu didampingi Rizki Sandiaribaya selaku MSB Komunikasi dan TJSL, Halida Amelia (Asman KU UPT Balikpapan), serta M. Nawawi selaku Team Leader KU UPT Balikpapan.
Desa Jembayan yang berada di kawasan aliran Sungai Mahakam kerap menghadapi fenomena “bangai”, yaitu kondisi menurunnya kadar oksigen terlarut di perairan yang dapat menyebabkan kematian massal ikan budidaya. Fenomena tersebut berdampak langsung pada kegagalan panen dan kerugian ekonomi pembudidaya.
Menurut Wahyu, persoalan lingkungan ini tidak hanya berdampak pada sektor perikanan, tetapi juga berpotensi memicu kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat apabila tidak ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.
Sebagai langkah preventif, UP2B Kaltimra menghadirkan teknologi akuakultur berbasis energi listrik melalui pemasangan sistem aerasi menggunakan aerator. Teknologi ini berfungsi meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam kolam budidaya, menjaga stabilitas kualitas air, serta memperkuat ketahanan sistem produksi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Energi Listrik sebagai Solusi Produktif
Program ini menjadi etalase pemanfaatan energi listrik di sektor produksi masyarakat. Listrik tidak lagi dipandang semata sebagai kebutuhan rumah tangga, tetapi juga sebagai penggerak kegiatan ekonomi produktif di tingkat desa.
Melalui penerapan teknologi akuakultur, UP2B Kaltimra berperan dalam pengelolaan dampak lingkungan secara preventif sekaligus memperluas pemanfaatan listrik di luar sektor rumah tangga dan industri kecil menengah. Pendekatan tersebut selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Dengan dukungan sistem aerasi berbasis listrik, tingkat kelangsungan hidup ikan nila meningkat dan produktivitas budidaya menjadi lebih stabil. Kelompok pembudidaya kini memiliki sistem yang lebih adaptif terhadap dinamika kualitas air, sehingga risiko gagal panen dapat ditekan secara signifikan.
Tak berhenti pada aspek teknis budidaya, program TJSL ini juga mendorong transformasi model bisnis kelompok. Sebelumnya, hasil panen ikan nila umumnya dijual dalam bentuk mentah kepada tengkulak dengan nilai ekonomi relatif rendah.
Melalui pendampingan dan penguatan kapasitas, kelompok mulai mengembangkan produk olahan dan ikan beku bernilai tambah. Transformasi ini menunjukkan bahwa program tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis produksi, tetapi juga memperkuat rantai ekonomi lokal dan meningkatkan daya saing produk di pasar.
“Perubahan dari penjualan bahan mentah menjadi produk olahan dan beku merupakan bagian dari strategi peningkatan nilai tambah. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga pelaku usaha yang memiliki posisi tawar lebih kuat,” tutur Wahyu.
Upaya hilirisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan anggota kelompok secara berkelanjutan, membuka peluang usaha baru, serta menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Desa Jembayan.
Program Pengembangan Budidaya Ikan Berbasis Teknologi Akuakultur menjadi bagian dari strategi TJSL PLN dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Selain berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, inisiatif ini juga memperkuat hubungan harmonis antara perusahaan dan komunitas di sekitar wilayah operasional kelistrikan.
Melalui integrasi energi listrik dengan sektor perikanan budidaya, PT PLN (Persero) UIP3B Kalimantan melalui UP2B Kaltimra menegaskan bahwa elektrifikasi tidak hanya menghadirkan terang, tetapi juga membuka peluang ekonomi, meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap tantangan lingkungan, serta menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.
