Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam tekanan setelah terkoreksi 1,04% ke level 8.235 pada perdagangan Kamis (26/2/2026, di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membebani pasar.
Aksi jual investor asing tercatat mencapai Rp409,35 miliar (net foreign sell), mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap dinamika global serta sejumlah kebijakan dalam negeri. IHSG juga kembali terkoreksi lebih dalam pada pembukaan pasar, Jumat (27/2/2026).
Dari eksternal, berdasarkan riset analis Mandiri Sekuritas, kebijakan Amerika Serikat yang mengenakan tarif tinggi terhadap panel surya asal Indonesia sebesar 104,38% memicu kekhawatiran terhadap prospek ekspor nasional dan potensi eskalasi proteksionisme global.
Selain itu, meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi melibatkan Rusia dan China turut memicu sentimen risk-off di pasar emerging markets.
Sejalan dengan itu, indeks saham di Wall Street ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average menguat tipis 0,034% ke 49.499,20, sementara S&P 500 turun 0,54% ke 6.908,86 dan NASDAQ Composite melemah 1,18% ke 22.878,38.
Pergerakan tersebut mencerminkan kehati-hatian investor global di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan.
Dari dalam negeri, implementasi aturan minimum free float 15% menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Pasar menilai sejumlah emiten berpotensi menghadapi notasi khusus hingga risiko delisting apabila tidak memenuhi ketentuan tersebut, sehingga mendorong aksi jual lanjutan.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas menuju area 8.150 dengan resistance di kisaran 8.350. Pelaku pasar kini menantikan perkembangan negosiasi AS–Iran yang dinilai akan memengaruhi arus dana ke aset berisiko serta pergerakan komoditas global.
Pasar SUN Menguat
Berbeda dengan pasar saham, pasar Surat Utang Negara (SUN) justru mencatat aksi beli pada perdagangan Kamis (26/2/2026). Penguatan terjadi seiring apresiasi rupiah yang dipicu oleh melemahnya indeks dolar AS.
Data perdagangan menunjukkan hanya yield tenor 1 tahun yang naik 1,8 basis poin ke level 5,07%, sementara hampir seluruh tenor lainnya mengalami penurunan yield. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap di tengah volatilitas pasar saham.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik, kebijakan perdagangan global, serta dinamika regulasi domestik, pergerakan pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan volatil dalam jangka pendek. Investor disarankan mencermati perkembangan negosiasi internasional dan respons kebijakan lanjutan yang dapat memengaruhi arah arus modal serta stabilitas pasar domestik.
