Jakarta, TopBusiness – Kinerja Perumda BPR Majalengka atau Bank Majalengka sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan pertumbuhan signifikan. Lonjakan laba hingga 189,11 persen dari target menjadi indikator utama efektivitas strategi bisnis serta transformasi digital yang dijalankan perseroan.
Direktur Utama Bank Majalengka, Asep Muhamad Jamaludin, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil konsistensi manajemen dalam mengeksekusi rencana bisnis secara terukur dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Efektivitas kinerja perusahaan tercermin dari meningkatnya total aset menjadi Rp183.578.482.773 atau mencapai 104,62 persen dari target dalam Rencana Bisnis Tahun 2025,” ujar Asep saat presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar secara daring di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Dalam pemaparan bertajuk “Implementasi Strategi Anti Fraud yang Efektif melalui Peran Digitalisasi Teknologi untuk Meningkatkan Kinerja Berkelanjutan”, Asep didampingi jajaran manajemen, antara lain Kepala Divisi Bisnis Edwan Redwan, Kepala Divisi Kepatuhan Udin, dan Ketua Satuan Kerja IT Ramdani.
Berdasarkan Rencana Bisnis Bank Tahun 2025 yang telah ditandatangani Bupati selaku Kepala Daerah, target aset ditetapkan sebesar Rp175.467.101.521. Hingga 31 Desember 2025, realisasi aset mencapai Rp183.578.482.773 atau 104,62 persen dari target.
Pertumbuhan aset tersebut ditopang oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK) yang melampaui rencana. Dari sisi tabungan, realisasi mencapai Rp94.223.156.039 atau 106,37 persen dari target Rp88.584.550.141. Sementara deposito terealisasi Rp64.628.850.000 atau 101,12 persen dari target Rp63.912.800.000. Secara total, DPK tumbuh 104,17 persen atau meningkat Rp6.354.655.898 dibandingkan target yang ditetapkan.
“Kepercayaan masyarakat menjadi kunci. Pertumbuhan dana pihak ketiga yang melampaui target menunjukkan nasabah semakin yakin terhadap kinerja dan tata kelola Bank Majalengka,” kata Asep.
Adapun pada sisi penyaluran kredit, target sebesar Rp126.927.492.309 terealisasi Rp114.969.742.313 atau 90,58 persen. Manajemen menyebutkan realisasi kredit yang belum sepenuhnya mencapai target tersebut tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian di tengah dinamika perekonomian.
Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan bank pada 2025 ditargetkan sebesar Rp37.253.638.752. Hingga akhir tahun, pendapatan terealisasi Rp39.611.051.363 atau 106,33 persen dari target.
Sementara itu, biaya operasional yang ditargetkan Rp35.401.997.281 terealisasi Rp36.109.466.063 atau 102,00 persen. Meski terjadi kenaikan biaya sebesar Rp707.468.782, manajemen menilai peningkatan tersebut masih dalam koridor pengendalian yang sehat.
Kinerja pendapatan yang melampaui target berdampak langsung terhadap peningkatan laba. Target laba sebelum pajak sebesar Rp1.851.641.471, sedangkan realisasi laba kotor mencapai Rp3.501.585.300 atau 189,11 persen dari target.
“Efisiensi bukan berarti menekan biaya tanpa perhitungan, tetapi memastikan setiap biaya yang dikeluarkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan dan kualitas layanan,” ujar Asep.
Digitalisasi Perkuat Tata Kelola dan Anti Fraud
Menurut Asep, salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan kinerja pada 2025 adalah implementasi transformasi digital melalui sejumlah aplikasi terintegrasi yang mendukung proses bisnis dan pengendalian risiko.
Aplikasi KOMA (Kredit Online Majalengka) memungkinkan proses pengajuan hingga persetujuan kredit dilakukan secara cepat dan terukur dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Seluruh pemangku kepentingan kredit, mulai dari marketing, analis, komite kredit hingga pejabat pemutus, dapat mengakses sistem berbasis Android kapan saja dan di mana saja.
Selain itu, Bank Majalengka mengimplementasikan aplikasi INTEL yang memberikan notifikasi transaksi kepada nasabah sekaligus mendeteksi potensi transaksi keuangan mencurigakan secara dini. Sistem ini memperkuat pengawasan internal serta meningkatkan transparansi kepada nasabah.
Adapun aplikasi SIMACO diterapkan untuk mendukung petugas marketing dana dalam layanan jemput setoran (pickup service). Melalui aplikasi tersebut, transaksi dapat dilakukan menggunakan telepon genggam petugas dan langsung terhubung dengan core banking system secara daring dan waktu nyata (real time).
“Digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi bagian dari strategi penguatan tata kelola dan mitigasi risiko. Dengan sistem yang terintegrasi, potensi kesalahan manual dapat ditekan dan pengawasan menjadi lebih optimal,” tutur Asep.
Penerapan ketiga aplikasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi anti fraud yang diselaraskan dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan melalui POJK Nomor 12 Tahun 2024.
“Strategi anti fraud kami implementasikan sebagai upaya mitigasi risiko dalam pelaksanaan kegiatan operasional dan bisnis. Langkah ini penting untuk meminimalkan potensi fraud yang dapat berdampak pada penurunan kinerja serta menimbulkan risiko operasional, hukum, maupun reputasi,” ujarnya.
Sebagai pimpinan yang juga membawahkan fungsi kepatuhan, Asep memastikan seluruh kebijakan dan inovasi digital tetap berada dalam kerangka regulasi yang berlaku. Penguatan fungsi kepatuhan dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan usaha bank daerah.
“Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan penerapan prinsip kehati-hatian. Kepatuhan bukan penghambat ekspansi, melainkan pengawal agar pertumbuhan berjalan sehat dan berkelanjutan,” kata dia.
Secara umum, mayoritas indikator dalam Rencana Bisnis Bank Tahun 2025 menunjukkan capaian di atas target. Pertumbuhan aset, peningkatan dana pihak ketiga, serta realisasi pendapatan yang melampaui rencana menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan laba pada akhir tahun buku 2025.
Manajemen optimistis kinerja positif tersebut dapat dipertahankan pada tahun-tahun mendatang melalui optimalisasi teknologi, penguatan pengendalian internal, serta peningkatan kualitas layanan.
“Kami akan terus berinovasi, menjaga integritas, dan memperkuat kepercayaan masyarakat. Itu adalah modal utama kami untuk tumbuh secara berkelanjutan,” pungkas Asep.
