Jakarta, TopBusiness – Sekitar 59 kilometer dari pusat Denpasar, di dataran tinggi Kintamani yang berhawa sejuk dengan panorama Gunung Batur, berdiri dua kabin unik yang memadukan estetika dan keberlanjutan. Dua eco-cabin bernama Nirata Treehouse dan Calidas Hills ini dibangun dari tumpukan kayu bekas yang sebelumnya tak lagi terpakai.
Kedua kabin tersebut merupakan bagian dari lini properti berkelanjutan We Prouds, unit sustainable stay di bawah naungan Prana Indonesia. Mengusung konsep ramah lingkungan, pembangunan kabin ini tidak hanya menonjolkan desain yang menyatu dengan alam, tetapi juga mengedepankan prinsip daur ulang material bangunan.
Tumpukan kayu tua bekas bongkaran vila, sekolah, hingga rumah tinggal yang sudah tak layak huni, disulap menjadi dinding-dinding hangat yang melindungi tamu dari dinginnya udara pegunungan. Setiap papan kayu memiliki riwayatnya sendiri—ada yang berasal dari bangunan era 1980-an, ada pula dari konstruksi lama yang harus direnovasi.
Di tangan para pengrajin lokal Bali, kayu-kayu tersebut dipilih secara selektif, dibersihkan, diraut, lalu dirangkai kembali menjadi struktur kabin yang kokoh sekaligus estetik. Proses ini bukan sekadar konstruksi, melainkan upaya menghadirkan kembali nilai pada material yang sebelumnya dianggap usang.
Nirata Treehouse, sesuai namanya, mengusung konsep “melayang”. Di lokasi pembangunannya tumbuh banyak pohon tinggi. Alih-alih menebang, tim We Prouds justru merancang bangunan yang mengelilingi pepohonan tersebut. Kabin dibangun menyatu dengan lanskap alami tanpa merusaknya, menghadirkan pengalaman menginap yang terasa dekat dengan alam.
Sementara itu, Calidas Hills berdiri di atas sebuah bukit kecil tak jauh dari lokasi Nirata Treehouse. Dengan lanskap terbuka dan pemandangan luas ke arah perbukitan serta Gunung Batur, kabin ini menawarkan suasana yang lebih terbuka. Dua kabin, dua pengalaman berbeda, namun mengusung semangat yang sama: keberlanjutan.
Seluruh kayu yang digunakan dalam pembangunan didapatkan dari jaringan lokal di Bali. Para pengrajin We Prouds memiliki relasi dengan berbagai proyek bongkaran di pulau tersebut untuk memperoleh kayu bekas berkualitas. Dengan demikian, proses pembangunan tidak hanya mengurangi limbah konstruksi, tetapi juga menekan kebutuhan penebangan pohon baru.
Konsep yang diterapkan We Prouds sejalan dengan filosofi masyarakat Bali, yakni Tri Hita Karana—tiga penyebab kebahagiaan yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Membangun tanpa menebang pohon dipandang sebagai bentuk harmoni dengan alam. Menggunakan kembali kayu bekas menjadi penghormatan terhadap masa lalu, sementara menciptakan ruang nyaman bagi tamu merupakan wujud harmoni dengan sesama.
We Prouds didirikan oleh I Nyoman Jatiguna dan tumbuh sebagai salah satu pelopor gerakan “Membangun dengan Bijak” di Bali. Spesialisasi mereka terbilang tidak biasa: memanfaatkan kayu bekas sebagai material utama konstruksi. Berangkat dari keyakinan bahwa bahan bangunan terbaik tidak harus berasal dari pohon yang baru ditebang, mereka menghadirkan pendekatan desain yang berkelanjutan namun tetap modern.
Melalui proyek seperti Nirata Treehouse dan Calidas Hills, We Prouds menunjukkan bahwa desain yang tak lekang waktu dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Para tamu yang menginap tidak hanya mendapatkan tempat beristirahat yang estetik, tetapi juga pengalaman berbeda—tinggal di ruang yang dibangun dengan kesadaran ekologis dan cerita masa lalu yang melekat pada setiap kayunya.
Di tengah meningkatnya minat terhadap pariwisata berkelanjutan, kehadiran kabin-kabin ini menjadi contoh bahwa industri perhotelan dapat bertransformasi. Dari tumpukan kayu bekas yang nyaris terlupakan, lahir ruang-ruang hangat yang menyatu dengan alam Kintamani—menghadirkan sensasi menginap yang bukan sekadar nyaman, tetapi juga bermakna.

