Jakarta, TopBusiness – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) dalam beberapa hari ini terus mengalami pelemahan. Sentimen konflik Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utamanya.
Untuk itu, Bank Indonesia (BI) pun mengaku akan terus menjaga nilai tukar rupiah agar tidak semakin terdepresiasi. Destry Damayanti, Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa BI akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah.
“Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder, kata Destry, dalam keterangan resminya, Kamis (5/3/2026).
Kata dia, pelemahan rupiah ini masih aligned dengan regional, secara MTD melemah 0,51%, relatif lebih baik dibandingkan regional.
Dan cadangan devisa (cadev) tetap terjaga di level USD154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp25,7 triliun.
Untuk diketahui, selama lima hari ini laju nilai tukar rupiah terus melemah ke level Rp16.885 per Kamis (5/3/2026) pukul 13.00. Padahal per 27/2/2026 lalu masih di posisi Rp16.755 per USD.
