Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu kembali terpilih menjadi nominator TOP CSR Awards 2026. Sebagai perusahaan peraih TOP CSR Awards 2025 Bintang 5 ini, baru saja mengikuti sesi presentasi Penjurian TOP CSR Awards 2026, Kamis (5/3/2026).
Hadir dalam Penjurian, Spv. II HSSE & Fleet Safety Basuki Wicaksono, Comdev Officer Duta Wahyu Wijaya, Comdev Officer Afiarta Akbar, dan Comdev Officer Ayu Pratiwi.
Dalam Penjurian, Duta Wahyu Wijaya menyatakan perusahaan mengembangkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) unggulan bertajuk Program Pusaka Alam Gold Trash. Program tersebut merupakan inovasi sosial untuk menjawab tantangan lingkungan dan sosial.
“CSR ini dilaksanakan di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Program ini mengintegrasikan pengelolaan sampah, pemanfaatan energi alternatif, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” kata Duta.
Program Pusaka Alam Gold Trash dilatarbelakangi oleh kondisi wilayah Kalibawang yang rentan kekeringan dan longsor serta menghadapi persoalan pengelolaan sampah dan keterbatasan akses air bersih.
Hasil pemetaan sosial menunjukkan terdapat 92 kepala keluarga miskin dan 65 kepala keluarga terdampak langsung krisis air, dengan biaya pembelian air pada musim kemarau mencapai Rp350 ribu hingga Rp600 ribu per tangki. Selain itu, praktik pembakaran sampah terbuka masih terjadi karena keterbatasan sistem pengelolaan sampah di tingkat desa.
Dalam menjawab tantangan tersebut, Pertamina Patra Niaga FT Rewulu kemudian mengembangkan inovasi Golden Trash, yaitu teknologi pengolahan sampah menjadi energi gasifier yang dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air dan mesin produksi pangan.
Program ini memanfaatkan sampah rumah tangga dan limbah operasional perusahaan seperti segel plastik mobil tangki sebagai bahan baku energi alternatif, sehingga mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Berbasis Partisipasi Masyarakat
Menurut Duta kembali, perencanaan Program Pusaka Alam Gold Trash dilakukan secara partisipatif melalui musyawarah desa yang melibatkan pemerintah kalurahan, kelompok pengelola lingkungan Laskar Darling, serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Keluarga Sakinah.
Sebanyak 147 warga penerima manfaat dilibatkan sejak tahap perencanaan untuk memastikan program selaras dengan kebutuhan masyarakat.
Target program dirancang menggunakan pendekatan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) serta didukung oleh regulasi desa melalui Peraturan Kalurahan Nomor 24 Tahun 2025 tentang Pelestarian Lingkungan. Regulasi ini menjadi landasan pengelolaan sampah terpadu di Desa Banjaroyo.
Pada tahap implementasi, masyarakat berperan sebagai pelaku utama dalam pengelolaan program. Kelompok Laskar Darling mengelola sistem pengumpulan dan pengolahan sampah yang mencapai 55,44 ton per tahun, sementara KWT Keluarga Sakinah mengembangkan usaha pengolahan pangan berbasis singkong.
Melalui dukungan teknis dari perusahaan dan mitra pendamping, kapasitas produksi KWT meningkat dari 3–4 kilogram per hari menjadi 10–12 kilogram per hari, dengan peningkatan kualitas produk sekitar 20 persen. Proses operasional program juga dilengkapi dengan penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta sistem pencatatan produksi yang terstruktur.
“Program ini menunjukkan tingkat adaptabilitas yang tinggi, antara lain melalui perubahan sumber energi dari solar menjadi synthetic gas berbasis sampah untuk mengurangi biaya operasional serta menjaga keberlanjutan pasokan energi bagi sistem pompa air dan mesin produksi pangan,” kata Duta.
Monev dan Pengukuran Dampak
Dalam pelaksanaan program, monitoring dilakukan secara berkala melalui kunjungan lapangan, evaluasi kegiatan, serta dokumentasi laporan operasional. Evaluasi efektivitas program menunjukkan hasil yang positif dengan indikator dampak yang terukur.
Nilai Social Return on Investment (SROI) mencapai 1,48, yang menunjukkan bahwa setiap investasi Rp1 dalam program menghasilkan manfaat sosial sebesar Rp1,48.
Sementara itu, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) mencapai 94,98. Semua itu menunjukkan kategori sangat baik dan mencerminkan tingkat penerimaan masyarakat yang tinggi terhadap program.
Program Pusaka Alam Gold Trash dicatat mampu memberikan dampak multidimensional bagi masyarakat dan lingkungan.
Dari sisi ekonomi misalnya, pengolahan singkong menjadi beras analog meningkatkan nilai jual komoditas dari Rp2.000 per kilogram menjadi Rp50.000 per kilogram. Peningkatan nilai jual ini menjadikan pendapatan anggota KWT meningkat dengan rata-rata Rp677.000 per bulan.
Dari sisi lingkungan, program ini berhasil mengelola 55,44 ton sampah per tahun, mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka, serta menurunkan emisi hingga 96,33 ton CO₂ ekuivalen per tahun.
Sistem energi alternatif yang dihasilkan juga mendukung penyediaan 34.000 liter air bersih, sehingga membantu masyarakat mengurangi biaya pembelian air saat musim kemarau.
Selain itu, program ini juga memperkuat kelembagaan masyarakat melalui pembentukan dan penguatan kelompok pengelola lokal, yaitu Laskar Darling dan KWT Keluarga Sakinah, yang kini menjalankan operasional pengelolaan sampah, energi alternatif, serta usaha ekonomi secara mandiri. Model ini juga telah direplikasi pada kelompok difabel dan bank sampah di Desa Banjaroyo.
Kontribusi terhadap Keberlanjutan
Program Pusaka Alam Gold Trash secara umum bukan merupakan bantuan sesaat, tetapi model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular dan kelembagaan lokal yang dirancang mandiri serta berkelanjutan.
Sebagai program yang dirancang mandiri serta berkelanjutan, program ini mampu berkontribusi pada Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Hal ini karena ia selaras dengan tujuan United Nations Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu: SDG 6 (Air Bersih), SDG 7 (Energi Bersih), SDG 8 (Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi & Produksi Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Aksi Iklim).
Bagi perusahaan sendiri, program ini berhasil berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon, efisiensi energi, serta penguatan reputasi keberlanjutan dan kinerja Proper. Selain itu, keberhasilan program juga memperkuat social license to operate melalui kolaborasi aktif dengan masyarakat dan pemerintah desa.
“Dengan mengintegrasikan pengelolaan sampah, energi alternatif, ketahanan air, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat, Program Pusaka Alam Gold Trash menjadi contoh implementasi CSR yang tidak bersifat karitatif, melainkan berbasis pemberdayaan dan ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Model ini menunjukkan bagaimana inovasi sosial dapat menciptakan nilai bersama bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan secara simultan,” pungkas Duta.
