Jakarta, TopBusiness – PT ESSA Industries Indonesia Tbk (IDX: ESSA) menyiapkan sejumlah langkah bisnis pada 2026 ini untuk menjaga keandalan operasional sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru setelah berhasil memperkuat struktur keuangannya sepanjang 2025.
Presiden Direktur dan CEO ESSA, Kanishk Laroya, mengatakan salah satu agenda utama tahun ini adalah pelaksanaan turnaround terjadwal pabrik amonia pada kuartal II-2026.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan, keandalan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional pabrik dalam jangka panjang.
Selain itu, perseroan juga berada dalam posisi finansial yang lebih kuat untuk mendukung ekspansi bisnis. Pada 2025, ESSA berhasil melunasi seluruh pinjaman lebih awal sehingga perusahaan kini berada dalam kondisi bebas utang (debt-free) dengan posisi kas bersih sebesar US$ 126 juta.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk memanfaatkan neraca keuangan dalam menangkap berbagai peluang pertumbuhan di sektor energi dan kimia.
“Pada tahun ini kami akan melaksanakan turnaround terjadwal untuk pabrik amonia pada kuartal II-2026 guna memastikan keselamatan, keandalan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional dalam jangka panjang. Dengan pengelolaan keuangan yang prudent, kami juga berhasil memperkuat posisi neraca untuk mendukung peluang pertumbuhan ke depan,” ujar Kanishk dalam siaran persnya, Jumat (6/3/2026).
Dari sisi kinerja, ESSA mencatat pendapatan sebesar US$ 295 juta pada 2025, hanya turun tipis sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 301 juta. Penurunan tersebut terjadi di tengah melemahnya harga komoditas utama perseroan, yakni LPG dan amonia.
Harga LPG dan amonia masing-masing tercatat lebih rendah 8% dan 3,5% secara tahunan, sehingga memengaruhi realisasi penjualan. Meski demikian, pendapatan perseroan relatif terjaga berkat peningkatan volume pengiriman amonia sekitar 3% sepanjang tahun.
Sementara itu, EBITDA ESSA pada 2025 tercatat US$ 119 juta, turun dari US$ 129 juta pada 2024. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham juga tercatat US$ 40 juta, lebih rendah dibandingkan US$ 45 juta pada tahun sebelumnya.
Penurunan laba terutama dipengaruhi oleh harga jual yang lebih rendah, meskipun sebagian dampaknya terkompensasi oleh turunnya beban bunga setelah pelunasan pinjaman lebih awal.
Menariknya, kinerja perseroan menunjukkan pemulihan kuat pada kuartal IV-2025. Lonjakan harga amonia hingga 31% secara kuartalan mendorong peningkatan signifikan pada kinerja keuangan perusahaan.
Pada periode tersebut, pendapatan kuartalan naik 51% secara kuartalan, sementara laba bersih melonjak 194% QoQ, mencerminkan kuatnya leverage operasional ESSA serta kemampuan perusahaan merespons dinamika pasar global, khususnya di tengah gangguan pasokan amonia dunia.
Kinerja operasional yang solid juga ditopang oleh keandalan fasilitas produksi. Pabrik LPG perseroan telah mencatat lebih dari 6,5 tahun tanpa gangguan operasional (zero plant trip), sementara pabrik amonia telah mencapai 9,4 juta jam kerja aman, yang mencerminkan standar keselamatan dan keunggulan operasional perusahaan.
Dengan kombinasi struktur keuangan yang lebih kuat, reliabilitas operasional, serta momentum pemulihan harga komoditas, ESSA optimistis dapat menjaga kinerja sekaligus memperluas peluang pertumbuhan bisnis pada tahun-tahun mendatang.
