Jakarta, TopBusiness – Ekonom sekaligus Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira Adhinegara memaparkan terkait dampak yang akan dialami oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dari adanya perang AS-Israel versus Iran.
Kata dia, APBN 2026 diproyeksi akan menalangi anggaran hingga Rp515 triliun ke depannya akibat adanya krisis minyak efek dari konflik Timur Tengah itu.
Bhima merinci, setiap 1 USD per barrel kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN 2026, maka siap-siap alokasi belanja pemerintah juga akan bertambah sebesar Rp10,3 triliun.
“Dengan asumsi APBN 2026 yakni sebesar USD 70 per barrel dan proyeksi analis harga minyak akan tembus hingga USD 100-120 per barrel, jadi tinggal dikali saja, Rp10,3 triliun kali selisih harga minyak dari asumsi. Maka, belanja pemerintah pusat bakal melebar hingga Rp515 triliun,” tandas Bhima, dikutip dari analisanya di akun media sosial Celios, Senin (9/3/2026).
Bahkan analisa tersebut, kata dia, dengan pertimbangan kalau harga BBM (bahan bakar minyak) tidak naik. “Lantas pertanyaannya, memang uangnya ada? Jadi sekarang, bagaimana dengan sensivitas ke defisit APBN?” tanyanya.
Karena kata dia, kondisi tersebut akan membuat deficit APBN akan melebar. Pasalnya, setiap 1 USD per barrel harga minyak naik, defisit makin bengkak Rp6,8 triliun. “Maka kita simulasikan akan ada pelebaran defisit Rp340 triliun,” terangnya.
Lalu, bagaimana untuk menutup deficit itu. Kata dia, pilihan yang paling logis memang dengan cara berutang. Namun masalahnya, lagi-lagi Bhima menginatkan, mencari utangan ke depan akan makin susah.
“Karena risiko naik, bunga juga makin mahal. Dan apetite alias nafsu investor juga berkurang,” pungkas dia, Kembali mengingatkan.
