TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

BFIN Catat Pembiayaan Baru Tumbuh 9,3%

Nurdian Akhmad
9 March 2026 | 13:23
rubrik: Business Info
Kuartal I, Pendapatan BFI Finance Melonjak 30%

Kantor Pusat BFIN Finance/foto; istimewa

Jakarta, TopBuiness – PT BFI Finance Indonesia Tbk (DX: BFIN) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 di tengah dinamika industri pembiayaan yang dipengaruhi perubahan daya beli masyarakat dan meningkatnya sensitivitas terhadap risiko.

Presiden Direktur BFI Finance Indonesia Tbk, Sutadi, mengatakan perusahaan merespons kondisi tersebut dengan memperkuat kualitas portofolio serta ketahanan operasional melalui penyesuaian strategi di setiap lini produk.

“Perusahaan mampu membuktikan resiliensi bisnis dengan permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang manageable. Hal ini didukung penerapan prinsip agility, kerja keras seluruh tim, serta kepercayaan dari konsumen, investor, dan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Sutadi dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).

Sepanjang 2025, total aset perusahaan tercatat mencapai Rp25,5 triliun atau tumbuh 1,4 persen dibandingkan 2024. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan piutang dikelola (managed receivables) sebesar 8,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp26,3 triliun.

Sementara itu, pembiayaan baru yang disalurkan perseroan mencapai Rp 21,9 triliun, meningkat 9,3 persen dibandingkan realisasi pada 2024.

Hingga Desember 2025, komposisi piutang dikelola didominasi pembiayaan produktif. Pembiayaan modal kerja memiliki porsi terbesar sebesar 57,3 persen, disusul pembiayaan investasi sebesar 17,6 persen. Adapun pembiayaan multiguna tercatat sebesar 22,0 persen, sementara pembiayaan berbasis syariah mencapai 3,1 persen.

Dari sisi pendapatan, perusahaan membukukan total pendapatan sebesar Rp6,7 triliun sepanjang 2025, meningkat 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga tercatat tumbuh 1,0 persen menjadi Rp 1,581 triliun.

Perusahaan juga mampu menjaga kualitas aset di tengah dinamika pasar. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) per 31 Desember 2025 tercatat sebesar 1,39 persen secara bruto dan 0,22 persen secara neto.

BACA JUGA:   Digelar Agustus, 30 Merek Mobil Siap Ramaikan GIIAS 2023

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata industri multifinance yang tercatat sebesar 2,51 persen bruto dan 0,77 persen neto berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025.

“Melalui pengelolaan manajemen risiko yang cermat untuk menjaga kualitas aset, BFI Finance mampu mempertahankan stabilitas kinerja sekaligus menjaga posisi keuangan yang solid sebagai fondasi pertumbuhan pada masa depan,” kata Sutadi.

Pada rasio keuangan lainnya, Return on Asset (ROA) perusahaan tercatat sebesar 7,9 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) mencapai 14,8 persen. Sementara itu, gearing ratio berada pada level 1,3 kali.

Di sisi lain, perusahaan juga tetap memberikan nilai tambah kepada pemegang saham melalui pembagian dividen. Pada 2025, perseroan telah membagikan dividen sebesar Rp902 miliar untuk tahun buku 2024. Selain itu, perusahaan juga menyalurkan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 pada 18 Desember sebesar Rp35 per saham atau setara Rp520 miliar.

Sementara itu, industri multifinance nasional masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang positif. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) Otoritas Jasa Keuangan, Agusman, menyatakan penyaluran pembiayaan baru industri multifinance mencapai Rp78,16 triliun pada Januari 2026.

Menurut Agusman, pembiayaan tersebut didominasi pembiayaan multiguna dengan porsi 47,47 persen atau setara Rp37,10 triliun. Sementara pembiayaan investasi tercatat Rp18,72 triliun dan pembiayaan modal kerja sebesar Rp17,04 triliun.

Ia menilai segmen pembiayaan modal kerja masih akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan industri pada 2026 seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pengadaan barang dan jasa serta ekspansi usaha.

Agusman juga menyoroti pertumbuhan signifikan piutang pembiayaan di wilayah Papua Selatan yang mencapai 116,09 persen secara tahunan pada Januari 2026, didorong peningkatan pembiayaan alat berat yang mencapai Rp484,69 miliar.

BACA JUGA:   NPF Naik, BFI Finance Batasi Pembiayaan

Selain itu, perbaikan pasar otomotif pada awal tahun turut memberikan prospek positif bagi industri pembiayaan. Sepanjang 2022–2025, piutang pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh rata-rata 6,8 persen per tahun, dengan pembiayaan kendaraan bekas mencatat pertumbuhan lebih tinggi yakni 12,75 persen.

Per Januari 2026, total penyaluran pembiayaan kendaraan roda empat tercatat mencapai Rp229,43 triliun. Sementara pembiayaan kendaraan listrik tumbuh 39,13 persen secara tahunan menjadi Rp21,05 triliun, seiring meningkatnya penjualan kendaraan listrik dan tren elektrifikasi kendaraan.

Dengan perkembangan tersebut, OJK memproyeksikan pertumbuhan piutang industri multifinance berada di kisaran 6–8 persen pada 2026.

“Untuk mencapainya, perusahaan perlu mengoptimalkan potensi sektor dan wilayah yang prospektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko,” ujar Agusman.

Tags: bfi finance
Previous Post

Pemerintah Dorong Konsumsi Domestik Melalui Penyelenggaraan BINA Lebaran 2026

Next Post

Hutama Karya Terapkan Pembatasan Operasional Angkutan Barang di Sejumlah Ruas JTTS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR