Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia pada pembukaan perdagangan Jumat (27/03/2026) akhir pekan dibuka melemah. IHSG tercatat turun 27,72 poin atau 0,39 persen ke level 7.136,37. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dan likuid ikut terkoreksi 4,84 poin atau 0,66 persen ke posisi 726,89.
Pada awal perdagangan, aktivitas transaksi menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan. Dalam 10–15 menit pertama, volume transaksi tercatat di kisaran 4,8 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp2,1 triliun dan frekuensi mencapai kurang lebih 275 ribu kali transaksi. Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas jual pada awal sesi.
Dari sisi pergerakan saham, tekanan terhadap IHSG pada pembukaan didorong oleh saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan telekomunikasi. Beberapa saham yang menjadi penggerak pelemahan indeks antara lain:
- BBCA turun sekitar 0,8 persen ke level 9.200, berkontribusi sekitar minus 6 hingga 7 poin terhadap IHSG
- BBRI melemah 1,2 persen ke posisi 5.500, menyumbang sekitar minus 5 poin
- BMRI terkoreksi 1,0 persen ke level 6.700, memberi tekanan sekitar minus 4 poin
- TLKM turun 0,9 persen ke posisi 3.900, berkontribusi sekitar minus 3 poin
- ASII melemah 1,1 persen ke level 5.600, menekan sekitar minus 2 poin
Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang menahan pelemahan lebih dalam, seperti ADRO yang naik sekitar 1,5 persen ke level 2.700 dengan kontribusi sekitar plus 2 poin terhadap indeks, serta ICBP yang menguat 0,8 persen ke posisi 10.200 dengan kontribusi sekitar plus 1 poin.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang melemah lebih dominan dibandingkan yang menguat, mencerminkan sentimen negatif di awal sesi perdagangan.
Dari sisi analisis, pelemahan IHSG pada pembukaan akhir pekan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Sentimen global masih cenderung risk-off seiring ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global dan dinamika ekonomi dunia. Kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Selain itu, aksi ambil untung juga terlihat menjelang akhir pekan, terutama pada saham-saham perbankan besar yang sebelumnya mengalami penguatan. Tekanan sektoral terlihat jelas pada sektor keuangan dan telekomunikasi, sementara sektor energi relatif lebih stabil.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. Level support berada di kisaran 7.080 hingga 7.100, sedangkan resistance berada di area 7.200 hingga 7.250.
Untuk perdagangan selanjutnya, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada sesi pertama. Peluang penguatan masih terbuka jika terjadi aksi beli pada harga rendah di saham-saham unggulan. Investor disarankan mencermati pergerakan dana asing, perkembangan pasar global, serta pergerakan harga komoditas sebagai faktor penentu arah indeks.
(Data AI)
