Jakarta, TopBusiness – Hadir di sesi penjurian TOP CSR Awards 2026, PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) mengusung tema Bumiloka, Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Desa yang merupakan program unggulan dari perusahaan.
Program tersebut dirancang untuk menjawab tantangan rendahnya keterlibatan kelembagaan desa dalam rantai pasok industri, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Community Relations Officer PT Merdeka Tsingshan Indonesia, Novaludin Harahap, menjelaskan bahwa perusahaan beroperasi di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Sebagai perusahaan penanaman modal asing (PMA), MTI berada di bawah Merdeka Battery Materials (MBM) dengan komposisi saham 80 persen dan Tsingshan 20 persen. Perusahaan ini memiliki tiga lini produk utama, yaitu acid, iron, dan metal.
Kebijakan CSR
Dalam menjalankan CSR, MTI mengedepankan pendekatan berkelanjutan melalui lima tahapan utama, mulai dari kebijakan keberlanjutan, analisis kondisi sosial, perencanaan program, implementasi, hingga penyusunan grand design tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Pada 2026, perusahaan memprioritaskan program pemberdayaan sebagai fokus utama. “Di 2026 ini kami membagi ada empat, Charity Program itu 5 persen, Sosial Partnership ada 10 persen, Infrastruktur itu ada 5 persen, dan paling besar adalah Empowerment Program 80 persen,” kata Novaludin di hadapan dewan juri TOP CSR Awards 2026, Jumat (28/3/2026).
Kebijakan ini menunjukkan pergeseran paradigma CSR dari sekadar bantuan sosial menuju penguatan kapasitas ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Program Bumiloka lahir dari hasil pemetaan sosial yang menunjukkan ketimpangan dalam struktur ekonomi lokal di Kecamatan Bahodopi. Sebagian besar pelaku usaha masih bergerak secara individual dan belum terintegrasi dengan kelembagaan desa.
“Sebesar 62,7 persen pertumbuhan UMKM di sini didominasi oleh rata-rata hanya individual tanpa ada unsur BUMDes itu sendiri untuk menjalankan usahanya,” ungkapnya.
Selain itu, sektor pangan lokal juga belum mampu memenuhi kebutuhan kawasan industri. Ketersediaan produk pertanian dari wilayah setempat masih sangat terbatas.
“Hanya 10 persen ketersediaan hasil sayur dan buah dari pemenuhan kebutuhan yang bisa disediakan oleh desa, 90 persen kebutuhan dipenuhi dari luar daerah,” jelas Novaludin.
Kondisi ini diperparah dengan belum siapnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam merespons cepat perkembangan industri di kawasan IMIP.
“BUMDes di sini masih belum siap sebelumnya untuk adanya kegiatan industri yang ada di kawasan industry IMIP ini dengan cepat,” ujarnya.
Menjawab tantangan tersebut, MTI menyusun strategi berbasis data dan partisipasi pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah desa hingga pelaku usaha dan petani.
“Selama ini kami meng-input data dari diskusi-diskusi yang telah kami lakukan dari stakeholder, dari Kades, dari Sekdes, sampai pelaku usaha, sampai pelaku salah satunya petani, dan BUMDes itu sendiri,” kata Novaludin.
Dari hasil identifikasi, hanya terdapat dua BUMDes aktif di Kecamatan Bahodopi, yakni BUMDes Makarti Jaya dan BUMDes Patuvia. Program kemudian difokuskan pada BUMDes Makarti Jaya, sejalan dengan lokasi operasional perusahaan.
MTI membangun model integrasi rantai pasok yang menghubungkan petani lokal dengan BUMDes dan perusahaan. “Petani lokal itu akan masuk ke BUMDes, BUMDes akan masuk ke PT Merdeka Tsingshan Indonesia,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat kapasitas kelembagaan BUMDes, termasuk aspek administrasi dan profesionalisme agar mampu memenuhi standar industri. “Tiga mitigasi risiko yang kami kuatkan… persaingan kuantitas, persaingan kualitas, ketepatan waktu pasok,” ujarnya.
Sebagai pengembangan dari Bumiloka, MTI menghadirkan inovasi baru melalui program Bumi Daya, yang fokus pada penguatan sektor pertanian lokal berbasis teknologi sederhana dan ramah lingkungan.
“Bumi Daya ini pemekaran pertanian yang bekerja sama juga dengan BUMDes… dengan komoditi itu cabai dan sawi dan itu unsurnya kami memakai pupuk POC sebagai alternatif pupuk tanaman,” tutur Novaludin.
Program ini juga mendorong lahirnya kelompok tani baru yang memperkuat ekosistem pertanian lokal.
“Terbentuklah kelompok tani baru yaitu yang di Bumi Daya yang sekarang berjumlah lima orang,” katanya.
Implementasi program Bumiloka menunjukkan hasil yang signifikan terhadap perekonomian desa. Berdasarkan data BUMDes, terjadi peningkatan omzet dan kontribusi ekonomi yang nyata. “Mereka mendapatkan Rp204 juta per bulan,” ungkap Novaludin.
Sementara dari sisi distribusi manfaat, program ini juga mendorong penyerapan hasil petani lokal serta peningkatan pendapatan BUMDes. “25 persen penyerapan dari petani lokal dan Rp15 juta per bulan untuk pendapatan bersih BUMDes,” ujarnya.
Pendapatan tersebut tidak hanya digunakan untuk operasional, tetapi juga memberikan dampak sosial langsung di desa.
Integrasikan Teknologi
Melalui program Bumiloka dan pengembangannya, perusahaan tidak hanya mendorong produktivitas pertanian lokal, tetapi juga menciptakan dampak nyata bagi petani, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hingga keberlanjutan bisnis perusahaan.
Community Relation Officer PT Merdeka Tsingshan Indonesia, Ardian Aji Megantoro, menjelaskan bahwa transformasi program dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi tepat guna dalam praktik pertanian.
“Bumiloka yang pada awalnya dulu kita coba untuk berkolaborasi dengan salah satu petani lokal, itu sampai dengan sekarang itu kita coba untuk mendorong penggunaan teknologi tepat guna di kelompok tani,” ujarnya.
Salah satu inovasi utama yang diterapkan adalah penggunaan Internet of Things (IoT) untuk menganalisis kondisi tanah secara real time. Teknologi ini memungkinkan petani dan perusahaan menentukan dosis pupuk secara lebih presisi.
“Jadi alat ini yang coba menganalisis kesuburan tanah, yang itu coba nanti akan ditransfer ke Android untuk dapat kami rumuskan dosis yang tepat,” kata Ardian.
Implementasi teknologi ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, terjadi penghematan biaya produksi yang cukup besar.
“Kita sudah menghemat penggunaan pupuk sekitar 50 persen, kemudian kita juga menghemat waktu penyemprotan sebesar 20 persen,” ungkapnya.
Selain itu, biaya pengujian lahan juga mengalami penurunan. Efisiensi ini tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi BUMDes dan mengurangi beban investasi sosial perusahaan.
Demplot dan POC
Sebagai bagian dari penguatan program, MTI juga mengembangkan demplot (demonstration plot) sebagai sarana peningkatan kapasitas dan produksi pertanian lokal. Lahan tidur seluas 1,2 hektare ditata ulang menjadi area produktif.
Pada tahap awal, optimalisasi dilakukan pada lahan seluas 300 meter persegi dengan penerapan teknologi irigasi modern. Hasilnya menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan.
“Secara kurun waktu kualitas dan kuantitas pada hasil panen juga meningkat yang biasanya 29 hari, ini menjadi 23 hari,” jelasnya.
Selain teknologi digital, inovasi juga dilakukan melalui pemanfaatan limbah pertanian menjadi pupuk organik cair (POC). Inisiatif ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan efisiensi biaya.
“Hasilnya dari pembukaan lahan itu kami dapatkan residu tanaman itu ada 200 kg, itu yang akhirnya kami coba buat POC,” kata Ardian.
Dari sisi ekonomi, penggunaan pupuk organik ini terbukti menekan biaya produksi secara signifikan. “Kalau melihat dari segi biaya itu kami ada penghematan 60 persen untuk biaya penggunaan pupuk organik cair ini,” ujarnya.
Berdampak Luas
Program CSR MTI memberikan dampak berlapis bagi berbagai pemangku kepentingan. Bagi petani, program ini meningkatkan kapasitas dan pendapatan.
“Petani ini juga pada awalnya tidak tahu cara budi daya seperti apa, saat ini petani sudah mulai memiliki keahlian,” ungkap Ardian. Selain itu, pendapatan petani juga mengalami peningkatan setelah intervensi program.
Sementara itu, BUMDes memperoleh peluang baru dalam pengembangan unit bisnis dan kemitraan dengan perusahaan. “BUMDes ini sudah terdaftar menjadi rekanan resmi dari kami,” ujarnya.
Dari sisi desa, program ini memperkuat solidaritas dan kolaborasi antara masyarakat dan perusahaan. “Desa juga melihat bahwa solidaritas dan kolaborasi yang dilakukan perusahaan dan masyarakat ini juga sangat luar biasa,” kata Ardian.
Adapun bagi perusahaan, program ini memberikan manfaat strategis dalam menjaga kualitas pasokan bahan pangan.
“Bahan catering dari kami yang akan dikonsumsi itu tentu akan menghasilkan kualitas dan hasil yang lebih baik,” jelasnya.
Kolaborasi dan Keberlanjutan
Dalam implementasinya, MTI tidak berjalan sendiri, melainkan menggandeng berbagai pihak, termasuk petani senior dan pemerintah desa untuk memastikan keberhasilan program. “Kami coba berkolaborasi juga dengan petani senior agar dapat transfer knowledge,” ujar Ardian.
Pendekatan kolaboratif ini turut memperkuat keberlanjutan program, yang diukur melalui metode Social Return on Investment (SROI). “Program ini ternyata berada di 12,19,” ungkapnya.
Selain itu, perusahaan juga mendorong rasa kepemilikan masyarakat terhadap program. “Masyarakat juga memiliki sense of belonging terhadap satu program itu,” katanya.
Ke depan, MTI terus mengembangkan program melalui berbagai inisiatif lanjutan, termasuk pembangunan nursery dan pengembangan komoditas baru seperti buah-buahan.
Hasil awal menunjukkan performa yang menjanjikan, bahkan melampaui ekspektasi petani. “(Budi daya) semangka kami itu secara hasil sudah melebihi ekspektasi,” katanya.
Selain Bumiloka dan Bumi Daya, perusahaan juga menjalankan program lain seperti pencegahan stunting, pelatihan dan sertifikasi K3, serta pembangunan infrastruktur desa.
Melalui pendekatan inovatif berbasis teknologi, kolaborasi, dan keberlanjutan, MTI berupaya mendorong kemandirian ekonomi desa sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam ekosistem industri. “BUMDes ke depan ini kami dorong menjadi BUMDes yang bisa mengelola, bisa mandiri,” tutup Ardian.
