Jakarta, TopBusiness – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi menghadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) dengan mengubah limbah operasional pembangkit listrik menjadi sumber ekonomi masyarakat. Melalui program pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) di wilayah operasional PLTU Palu 3, perusahaan mengembangkan model ekonomi sirkular berbasis pemberdayaan desa yang terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Demikian salah satu benang merah dari presentasi dan wawancara penjurian “Top CSR Awards 2026” dari PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi. Presentasi dan wawancara disampaikan oleh Officer Komunikasi & TJSL, Andi Mengkau bersama tim (Andit MD, Assistant Manajer Komunikasi & TJSL, serta Maria Takke; Officer Komunikasi & TJSL-PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi.
Kali ini, tim membawakan materi presentasi berjudul “Strategic ESG-Based Circular Risk Mitigation Model for FABA Management in PLTU Palu 3 Operational Area”. Program ini berfokus pada (Bantuan Usaha UMKM Pemanfaatan Faba PLTU Palu 3 Untuk Paving blok dan Batako Milik Bumdes Leo Tatari Palu). Sedangkan tim juri penilai terdiri Prof. DR Satya Arinanto (Guru Besar – Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), Sentot Baskoro (AGRKI) (Asosiasi GRK Indonesia), Puteri Maharini Rahsilaputeri (Sinergi Daya Prima/SDP), serta Ahmad Chury (Managing Editor Majalah ItWorks-MSI Group) sekaligus sebagai moderator.
Dalam paparannya Andi Mengkau menjelaskan, program bertajuk Strategic ESG-Based Circular Risk Mitigation Model for FABA Management in PLTU Palu 3 Operational Area tersebut, dijalankan di Desa Lero Tatari, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, yang merupakan wilayah Ring 1 pembangunan PLTU Palu 3 berkapasitas 2×50 MW. Tema dan program ini dipilih sebagai fokus yang diangkat dalam ajang TOP CSR Awards 2026 karena selaras dengan tema I ajang Top CSR Awardss 2026, yakni keselarasan dan keterkaitan CSR dan ESG untuk nilai perusahaan jangka panjang serta pembangunan berkelanjutan.
“Program TJSL Pemanfaatan FABA PT PLN (Persero) UIP Sulawesi merupakan inisiatif pengelolaan dampak operasional yang mengubah FABA menjadi peluang ekonomi masyarakat melalui kolaborasi bersama BUMDes Desa Bina Mulia. Program ini mengintegrasikan keberlanjutan bisnis, lingkungan, danpemberdayaan masyarakat di wilayah Ring 1,” ujar Andi Mengkau dalam wawancara penjurian yang dilakujkan secara daring melalui aplikasi zoom, belum lama ini yang diselenggarakan Majalah TopBusiness.id Jakarta.
Mengelola Risiko Menjadi Nilai Ekonomi
PLN UIP Sulawesi menilai pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan tidak hanya bertujuan menyediakan energi, tetapi juga memastikan dampak operasional dapat dikelola menjadi manfaat bersama bagi masyarakat dan lingkungan.
Melalui program ini, material FABA yang sebelumnya berpotensi menjadi risiko lingkungan dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi paving block dan batako oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bina Mulia.
Setiap bulan, sekitar 16–20 ton FABA dimanfaatkan dalam proses produksi material konstruksi yang dipasarkan di pasar lokal. Pendekatan tersebut sekaligus mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Program dirancang melalui social mapping yang menemukan dua tantangan utama di desa, yakni keterbatasan peluang kerja serta potensi ekonomi lokal yang belum optimal. PLN kemudian menempatkan BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi desa berbasis circular economy.
Intervensi yang dilakukan meliputi:
- pengadaan mesin cetak batako,
- renovasi rumah produksi,
- peningkatan daya listrik operasional,
- pelatihan teknis produksi,
- pelatihan manajemen usaha dan pemasaran.
Tenaga kerja usaha berasal dari masyarakat sekitar Ring 1, sehingga program tidak hanya menyelesaikan isu lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Implementasi program menunjukkan hasil terukur pada tiga aspek utama keberlanjutan.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan FABA mampu menurunkan emisi karbon hingga sekitar 6,955 ton CO₂e per bulan melalui substitusi penggunaan semen. Program ini juga menjadi praktik nyata penerapan ekonomi sirkular di sektor ketenagalistrikan.
Secara ekonomi, usaha produksi batako berbasis FABA meningkatkan pendapatan BUMDes Bina Mulia hingga Rp98,4 juta per tahun dan menciptakan aktivitas ekonomi baru di tingkat desa.
Sementara dari aspek sosial, tingkat kepuasan masyarakat mencapai indeks 88,93 atau kategori sangat baik. Analisis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan rasio 1:1,65, yang berarti setiap Rp1 investasi CSR menghasilkan Rp1,65 nilai sosial bagi masyarakat. PLN menilai pendekatan pemberdayaan ekonomi lokal menjadi strategi penting untuk memperkuat penerimaan masyarakat terhadap pembangunan proyek energi strategis nasional.
Program ini turut membantu menjaga kondisi zero social conflict di wilayah pembangunan sekaligus memperkuat hubungan perusahaan dengan pemerintah desa dan pemangku kepentingan lokal. Dukungan masyarakat tersebut juga berkontribusi terhadap target operasional PLTU Palu 3.
Model Siap Direplikasi
Berdasarkan hasil evaluasi, program dinilai layak dikembangkan sebagai model percontohan pemanfaatan FABA berbasis komunitas di wilayah operasional PLN lainnya. Tahapan pengembangan telah disusun hingga 2027, mencakup penguatan kapasitas usaha, perluasan pasar, hingga strategi exit menuju kemandirian BUMDes.
PLN UIP Sulawesi menegaskan bahwa energi yang dihasilkan perusahaan bukan hanya listrik, tetapi juga kepercayaan masyarakat melalui penciptaan nilai bersama yang berkelanjutan. Program ini menunjukkan bagaimana integrasi CSR dan ESG mampu mengubah potensi risiko lingkungan menjadi peluang ekonomi sekaligus memperkuat keberlanjutan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
