TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Soal GRC dan ESG, Komitmen Pan Brothers Sudah Terbukti Nyata

Busthomi
3 August 2024 | 08:43
rubrik: Event, GCG
Soal GRC dan ESG, Komitmen Pan Brothers Sudah Terbukti Nyata

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Pan Brothers Tbk (IDX: PBRX) memang sudah konsisten dalam menjalankan praktik governance, risk, dan compliance (GRC) dan sekaligus bisnis berkelanjutan melalui environmental, social, and governance (ESG), makanya Perseroan dinilai berhasil melewati badai pandemi Covid-19 dulu. Bahkan kinerja di akhir masa Covid yakni tahun 2022 itu sangat membanggakan.

Dan kini, di tengah badai yang masih menghantui industri tekstil atau TPT (tekstil dan produk tekstil), Pan Brothers tetap kokoh masih bisa menjaga eksistensinya sebagai produsen garmen terbesar yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan total pabrik lebih dari 20 di seluruh Pulau Jawa dan total karyawan per Maret 2024 sebanyak 24.459.

“Kami ini adalah perusahaan garmen yang memproduksi dengan kompleksitas yang merata dari yang sedang sampai yang tinggi. Makanya kami sebut sebagai One Stop Shopping Garment Manufacturing with Integrated Business Model. Dengan memiliki keahlian tinggi untuk keunggulan operasional dan tanggung jawab dalam produksi dengan kompleksitas sedang hingga tinggi,” tutur Rizal Tanzi Rahman selaku Manager Sustainability and Governance Relation PBRX saat melakukan penjurian TOP GRC Awards 2024, Rabu (31/7/2024).

Penjurian TOP GRC Awards 2024 ini digelar Majalah TopBusiness yang dilakukan secara online dan melalui proses presentasi di depan dewan juri untuk mendapatkan penilaian. Dan Pan Brothers ini menjadi salah satu nominasi penerima penghargaan TOP GRC Awards 2024 ini. Hadir mendampingi Rizal adalah Satrio Boediarto selaku GM Corporate Secretary and Investor Relation, Sudono Iswara bagian Corporate Secretary, juga hadir tim HRD dari pabrik di Jawa Tengah dan di Tangerang, Banten.

Dalam presentasinya, Rizal membeberkan kiprah nyata PBRX dalam menerapkan kebijakan di bidang GRC dan ESG ini. Sehingga bisa mewujudkan bisnis berkelanjutan dan Sustainability Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).

“Dan untuk menciptakan sustainable business Perusahaan ini, maka GRC menjadi kata kuncinya. Dan itu semua integrasikan di manajemen, baik dari sisi shareholders atau stakeholders, ESG, budaya, dan juga regulasi,” katanya.

“Terlebih dalam hal implementasi ESG dan SDGs di perusahaan kami, bahwa komitmen kami terhadap SDGs sangat jelas. Terutama terkait dengan iklim atau perubahan iklim. Jadi kami ini perusahaan manufaktur pertama di Indonesia, bukan hanya sektor tekstil, yang tervalidasi sesuai target emisi greenhouse gas (GHG) untuk scope 1, 2 dan 3 oleh SBTi (The Science Based Targets initiative),” ujar dia lagi.

Bahkan dalam hal operasionalnya untuk memastikan produknya itu sesuai dengan standar yang ada, lanjut Rizal, pihaknya memiliki sederet standar dan akreditasi, terutama standar internasional. “Jadi kami memproduksi produk itu semuanya sudah sesuai standar, mulai dari standar mutu, lingkungan,  raw materials,  produksi, tenaga kerja, dan juga terkait dengan global supply chain-nya,” terang dia.

BACA JUGA:   Pelatihan dan Sertifikasi Pekerja, CSR Unggulan PT Brantas Abipraya untuk Keberlanjutan Bisnis

Adapun standar-tandar itu adalah, ISO 9001: Quality Management System; ISO 14001: Environment Management System; ISO 45001: Occupational Health & Safety Management System; AEO: Authorized Economic Operator, expedite the process of releasing goods with a minimum of document research and/or physical inspection; BWI: Participate as a Member on improving working conditions in the garment industry; C-TPAT: Global Security Verification  Program; GRS: Global Recycled Standard; RDS: Responsible Down Standard; SA 8000: Social Accountability Management System; SLCP: Social & Labor Convergence Support as signatory company; dan USCTP: US Cotton Trust Protocol provide cotton with science-based sustainable production.

Dengan kondisi itu, PBRX memang sudah terbukti mampu berkinerja baik di tengah pandemi lalu, berkat adanya GRC dan ESG itu. “Performance Pan Brothers sangat baik salaam tahun 2019-2022 itu. Meski memang di tahun 2023 lalu industry tekstil mengalami tekanan. Kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Kami merasakan itu,” ungkapnya.

“Akan tetapi yang perlu disampaikan, bagi kami kabar baiknya yaitu di 2023 lalu untuk pangsa pasar Amerika Serikat ternyata mulai mengalami kenaikan lagi dan pangsa ‘pasar lainnya’ juga naik. Pasar AS sebesar 21,1% naik dari tahun 2022 di 20,9%. ‘Pasar lainnya’ juga naik menjadi 3,7% dari sebelumnya di 2,0%. Untuk destinasi pasar tetap dominan pasar Asia dengan 59,3%,” beber Rizal.

Dengan postur kinerja keuangannya adalah, untuk pos penjualan di tahun 2022 menjadi yang tertinggi selama lima tahun ini, yaitu mencapai USD 690 juta. Sayangnya di 2023 menurun menjadi USD 581,6 juta. Total asset per 2022 di angka USD 724,6 juta, juga yang tertinggi dalam lima tahun, tapi tahun lalu merosot menjadi USD 696,8 juta. Dan untuk ekuitas pada 2022 sebesar USD 341 juta, anjlok sedikit di 2023 menjadi USD 333,7 juta.

Disebut Satrio Boedi, penurunan ini karena pihaknya membatasi permintaan produksi atau order dari pemilik brand-brand tertentu. Seperti diketahui, Pan Brothers merupakan Perusahaan garmen yang memproduksi hampir semua brand papan atas milik global. “Dengan kondisi industry yang terpukul itu, kami juga membatasi order dari brand-brand karena kami hanya sesuaikan dengan kemampuan kami. Ini supaya kami tidak terjerat dalam klaim-klaim oleh brand karena kami tak mampu men-deliver barangnya,” terang Boedi.

BACA JUGA:   BPRS Buana Mitra Perwira Sabet Tiga Penghargaan TOP BUMD Awards 2022

Terlebih karakter PBRX itu unik. Dalam arti, Pan Brothers tidak bisa disamakan dengan Perusahaan lain karena hasil produksinya itu adalah high technical garment. Sehingga di dalam negeri, kata dia, tidak ada perusahaan kompetitornya. Salah satu kompetitor PBRX adalah perusahaan dari Vietnam maupun China.

“Makanya kalau dilihat dari asset dan penjualan itu sedikit menurun, karena kami membatasi penerimaannya. Yang kami usahakan, agar kapasitas produksi tetap berjalan. Namun tahun depan, kami targetkan penjualan bisa naik. Karena setelah pemilihan di AS itu kondisi akan jauh lebih baik lagi.”

Implementasi GRC

Menilik dari kinerja PBRX yang masih positif itu, diakui Rizal, memang tak lepas dari implementasi GRC dan diintegrasikan dengan ESG tersebut. Untuk GRC, salah satunya terkait manajemen risiko, Pan Brothers sudah mengidentifikasi risk profile terkait operasional yang terdiri dari 3P untuk People, risiko kecelakaan kerja, risiko demonstrasi, dll. Lalu untuk Planet adanya risiko penggunaan energi, risiko pemanfaatan air dan limbah domestik maupun limbah industry. Dan untuk Profit, adanya risiko kualitas pelayanan kepada pelanggan.

Selanjutnya terkait dengan financial risk, PBRX juga sudah mengidentifikasi, setidaknya ada empat risk dan sudah bisa diantisipasinya. Exchange Currency Risk yaitu adanya kondisi perusahaan menghadapi risiko nilai tukar mata uang asing dari berbagai mata uang yang digunakan, serta terkait penghasilan perusahaan yang mayoritas USD.

Lalu ada juga Credit Risk. Dalam hal ini, perusahaan tidak memiliki konsentrasi risiko kredit yang signifikan. Juga kebijakan Perusahaan memastikan bahwa penjualan barang dan jasa hanya dilakukan kepada konsumen yang memiliki sejarah kredit yang baik. Dan posisi piutang pelanggan dipantau secara terus menerus untuk mengurangi kemungkinan piutang yang tidak tertagih.

Ada juga risiko dari Interest Rate Risk. Dalam hal ini perusahaan memiliki pinjaman dengan tingkat bunga variable. Juga untuk mengantisipasi kenaikan tingkat bunga, perusahaan memonitor pergerakan suku bunga dan memastikan bahwa Perusahaan mempunyai perhitungan margin yang memadai untuk pembayaran bunga.

Adapun terkait Liquidity Risk ini, perusahaan mempunyai pinjaman berupa pinjaman modal kerja jangka panjang. Juga, perusahaan mengantisipasi dengan penggunaan sesuai order yang diterima, dan memastikan tersedianya kas dan setara kas dalam jumlah yang memadai untuk melunasi pinjaman yang jatuh tempo, juga mencadangkan dana untuk pembayaran bunga atas pinjaman.

BACA JUGA:   PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu Bangkit Bersama Wujudkan Harapan Mulia

“Dan untuk menjaga ini, salah satunya kami memiliki Komite Pemantau Risiko di bawah Dewan Komisaris. Ini bertanggung jawab untuk memantau risiko bisnis, dan bekerja sama dengan Divisi Legal, Divisi Keuangan dan Akuntansi, Divisi Sumber Daya Manusia dan Divisi lainnya yang terkait,” ungkap dia.

Dalam hal kepatuhan dan GCG tentu saja, PBRX sudah menjalankannya dengan konsisten. Seperti penerapan Whistleblowing System (WBS) dan Sistem Pelaporan Pelanggaran. Untuk WBS, seluruh pelaporan yang masuk akan diperiksa oleh team Internal Audit, untuk ditindak lanjuti secara internal dan dilanjutkan ke Direksi dan Komite Audit jika diperlukan tindakan lebih lanjut.

“Sementara terkait Pelaporan Pelanggaran merupakan bagian dari Kode Etik Perusahaan dan Karyawan. Ruang lingkup yang diutamakan adalah informasi mengenai permasalahan pengendalian internal, akuntansi, auditing, pelanggaran peraturan, dugaan kecurangan dan/atau dugaan korupsi, dan pelanggaran kode etik,” papar dia.

Sedangkan terkait dengan compliance adalah bisa dilihat dari kriteria keberhasilan implementasi Kepatuhan yang terdiri dari tidak ada buyer compliance findings & zero accident, tidak ada teguran instansi pemerintah & buyer, pemenuhan Standar Sertifikasi Kepatuhan (AEO, SA 8000, dll), dan perizinan TKA terpenuhi (imigrasi).

Keberhasilan ESG

Rizal juga memaparkan kiprah Pan Brothers dalam menerapkan ESG. Apalagi memang, kata dia, dampak ESG terhadap Resilient Bisnis ini sudah bisa dirasakan. Setidaknya ada empat aspek yang bisa dirasakan dari adanya ESG ini. Dari sisi market, risiko, regulasi, dan reputasi.

Kata dia, dar sisi Market, telah menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang dan memperbesar kesempatan bisnis. Lalu dari sisi Risiko, telah membantu identifikasi risiko dan inovasi bisnis, pengurangan biaya operasional, dan mendukung kinerja keuangan.

Lalu, dari Regulasi sangat mendukung kinerja perusahaan dan meningkatkan kualitas manajemen melalui transparansi. Serta dari Reputasi itu telah meningkatkan reputasi Perusahaan dan meningkatkan kepercayaan investor dan pembeli.

Dalam hal ini juga untuk pemanfaatan energi, dijelaskan Rizal, Pan Brothers tidak hanya menggunakan energi dari PLN. Akan tetapi, pihaknya sudah juga memiliki sumber energi lain sebagai langkah pengurangan emisi dengan memasang PLTS sebesar 1,8 megawatt sejak tahun 2020 lalu di area pabrik di Boyolali, Jawa Tengah.

“Dan tahun ini, kami akan memasang lagi sebesar 2,7 MW. Mudah-mudahan bisa terealisasi tahun ini. Sehingga total kita memiliki hampir 5 MW di PLTS kami. Tentu itu bentuk komitmen kami terkait dengan energi dan bagian dari praktik ESG itu,” tandas Rizal.

Tags: PT Pan Brothers TbkTOP CSR Awards 2024
Previous Post

Menteri Basuki: Infrastruktur Dasar Siap Dukung Upacara HUT ke-79 RI di IKN

Next Post

Berkat GRC dan ESG, Reputasi Insight Investment Management Sebagai MI Tetap Terjaga

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR