Jakarta, TopBusiness – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (IDX: WSKT) mencatat nilai kontrak baru sebesar Rp12,52 triliun sepanjang 2025. Perolehan tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp9,55 triliun, sekaligus mencerminkan strategi perusahaan yang semakin selektif dalam memilih proyek.
Perseroan menekankan pendekatan kehati-hatian dalam pengambilan proyek guna menjaga arus kas serta menekan risiko keuangan di tengah proses penyehatan kinerja perusahaan.
Corporate Secretary Ermy Puspa Yunita mengatakan, penambahan kontrak baru dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan skema pembayaran serta profil risiko dari proyek yang akan dikerjakan.
“Selama 2025 kami juga terus menambah kontrak baru namun lebih selektif, seperti adanya monthly payment dan menghindari proyek turnkey. Melalui Komite Manajemen Konstruksi, Perseroan memastikan proyek yang akan dikelola tidak membebani dari segi keuangan dan rendah risiko,” ujar Ermy dalam keterangan resmi, Kamis (2/4/2026).
Kontrak baru tersebut didominasi proyek-proyek pemerintah, antara lain pembangunan jaringan irigasi, proyek Sekolah Rakyat, hingga pembangunan rumah sakit daerah.
Dari sisi operasional, hingga akhir 2025 Waskita mengelola 63 proyek dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,7 triliun.
Sejalan dengan strategi tersebut, perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp8,85 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari segmen konektivitas sebesar Rp3,3 triliun, disusul segmen sumber daya air Rp1,4 triliun dan segmen gedung Rp1,2 triliun.
Waskita juga mencatat laba bruto sebesar Rp1,58 triliun atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Margin laba kotor turut meningkat menjadi 18 persen dari sebelumnya 13 persen.
Menurut Ermy, peningkatan laba bruto tersebut didorong oleh strategi efisiensi operasional proyek yang diterapkan perusahaan.
“Peningkatan laba bruto itu berhasil diraih Waskita berkat strategi efisiensi operasional proyek yang dijalankan. Tidak hanya di induk perusahaan tapi juga pada anak usaha,” kata dia.
Meski demikian, perseroan masih mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp7,2 triliun atau sekitar 82 persen dari total pendapatan. Kondisi ini dipengaruhi penyelesaian sejumlah proyek lama yang masih membutuhkan tambahan biaya hingga 2026.
Untuk mendukung efisiensi operasional, Waskita juga mengintegrasikan sejumlah sistem digital, antara lain Enterprise Resource Planning (ERP) SAP S/4HANA dengan teknologi Building Information Modeling serta pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Di sisi keuangan, perseroan berhasil menurunkan liabilitas sebesar Rp2,21 triliun sepanjang 2025 melalui langkah divestasi aset serta optimalisasi portofolio bisnis.
Ermy menegaskan, fokus perusahaan ke depan adalah memperkuat likuiditas serta kembali pada bisnis inti sebagai kontraktor murni.
“Upaya penurunan utang ini sejalan dengan strategi Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang sudah disahkan pada Rapat Umum Pemegang Saham. Ke depannya, Waskita berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni, demi menciptakan kegiatan operasional yang lebih sustainable,” ujarnya.
