Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia pada pembukaan perdagangan Senin (6/4/2026) terkoreksi 25,22 poin atau 0,36 persen ke posisi 7.001,56. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dan likuid turut melemah 3,05 poin atau 0,43 persen ke level 711,53.
Pada awal sesi perdagangan, aktivitas transaksi terpantau cukup moderat dengan kecenderungan tekanan jual yang masih mendominasi. Tercatat volume perdagangan mencapai sekitar 2,34 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 219.582 kali dan nilai transaksi sekitar Rp1,65 triliun. Pergerakan pasar menunjukkan dinamika yang fluktuatif dengan kombinasi saham yang menguat, melemah, dan stagnan.
Pergerakan indeks turut dipengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar. Saham BBCA tercatat menguat sekitar 50 poin atau 0,56 persen ke posisi Rp8950 per saham. Sementara itu, BMRI naik 75 poin atau sekitar 1,08 persen ke level Rp7025 per saham. Dari sektor komoditas, ANTM juga mengalami kenaikan sekitar 20 poin atau 1,15 persen ke posisi Rp1760 per saham. Kenaikan saham-saham tersebut membantu menahan tekanan pelemahan IHSG yang lebih dalam.
Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi sejumlah saham sektor energi dan siklikal yang sebelumnya mencatatkan penguatan signifikan, sehingga memicu aksi ambil untung oleh pelaku pasar. Kondisi ini membuat laju penguatan indeks menjadi terbatas meskipun sebagian saham unggulan masih bergerak di zona hijau.
Secara keseluruhan, koreksi IHSG pada awal perdagangan ini mencerminkan dominasi sentimen jangka pendek yang cenderung negatif, dipicu oleh aksi profit taking serta kehati-hatian investor terhadap dinamika global dan aliran dana asing. Meski demikian, likuiditas yang masih terjaga membuka peluang bagi indeks untuk mengalami rebound selama mampu bertahan di atas level psikologis 7000, dengan potensi pengujian support berikutnya di kisaran 6900 apabila tekanan jual berlanjut.
Data AI
