
Jakarta, businessnews.id — Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito warsito, menyatakan adanya kemampuan pasar modal Indonesia dalam menjawab kebutuhan tambahan permodalan perbankan nasioanal di tahun 2015 yang ditaksir mencapai Rp 113 triliun.
“Kalau kebutuhan Rp 100-an triliun dari pasar modal, bisa dipenuhi melalui dua jalan. Yakni melalui right issue dan menerbitkan obligasi,” katanya di Jakarta hari ini.
Menurut Ito, melihat kemampuan pasar modal bisa dilihat dari sisi likuiditas perdagangan. Pada tahun 2013 lalu, mencapai Rp 6,5 triliun per hari. “Jika dikalikan 264 hari perdagangan, maka sudah mencapai Rp 1.200-an triliun.”
Besar likuiditas perdagangan tadi mencerminkan potensi dana yang bisa didapat dari pasar modal. Secara rata-rata per tahun, dana yang bisa digali dari pasar modal mencapai Rp 300 triliun dan itu sudah termasuk pendanaan APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) melalui Surat Utang Negara (SUN).
Hanya saja selama ini, dia menambahkan, terdapat keterbatasan penawaran instrumen. Misalnya SUN, Pemerintah Indonesia telah menyebutkan angka untuk jangka waktu satu tahun. Walaupun sebenarnya investor menginginkan lebih dari itu, Pemerintah Indonesia telah menargetkan besarannya.
“Kemudian IPO (initial public offering), tiap tahun besarannya berfluktuasi, namun masih tetap bisa diserap pasar. Baik IPO maupun obligasi pernah diterbitkan Rp 100 triliun di tahun 2010 atau 2011, dan tetap saja diserap pasar,” kata dia.
Sehingga untuk kebutuhan tambahan modal di tahun 2015, disarankan untuk lebih mengutamakan instrumen pasar modal ketimbang utang luar negeri. “Apalagi kalau kita lihat saham perbankan kan sangat likuid, itu memerlihatkan minat investor terhadap saham perbankan.” (ZIZ)
EDITOR: DHI