16 April, Jasa Marga Uji Coba Ganjil-Genap di Tol Tangerang dan Jagorawi

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT Jasa Marga (Persero) Tbk akan mengimplementasikan uji coba paket kebijakan penanganan kemacetan sistem ganjil-genap di ruas tol Jagorawi dan ruas tol Jakarta-Tangerang per 16 April 2018.

Sekretaris Perusahaan JSMR M Agus Setiawan mengatakan, kebijakan itu sebagai pelaksanaan dari keputusan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang keluar pekan ini.

“Kami akan segera melaporkan hasil kajian awal kepada BPTJ perihal karakteristik kendaraan yang melintas pada kedua jalan tol tersebut, yang dinilai berbeda dengan yang sudah diterapkan di Cikampek,” ujar Agus di Jakarta, Jumat (6/4/2018).

Sebelumnya BPTJ menerapkan tiga kebijakan untuk mengurai kemacetan di ruas tol Jakarta—Cikampek. Pertama, pengaturan skema ganjil genap untuk kendaraan pribadi pada akses gerbang tol prioritas Bekasi Timur dan Bekasi Barat arah Jakarta pada hari kerja pukul 06.00-09.00 WIB.

Selain itu,pembatasan angkutan barang (golongan 3,4,5) yang melintas di pintu tol Jakarta—Cikampek pada hari kerja pukul 06.00-09.00 WIB. Terakhir, prioritas lajur khusus Angkutan Umum (LKAU) bekasi Timur Arah jakarta dan Bus Transjabodetabek Premium pada hari kerja pukul 06.00-09.00 WIB.

Menurut Agus, perbedaan karakteristik antar ketiga ruas tol itu terdapat pada jumlah kendaraan non golongan I yang melintas. Pada ruas tol Jakarta—Cikampek, jumlah kendaraan non golongan 1 yang melintas mencapai 20%, pada tol Jakarta—Tangerang 11% dan tol Jagorawi 7%.

Kedua, kendaraan yang melintas di Tol Jagorawi relatif seragam bila dibandingkan dengan tol Jakarta—Cikampek. Artinya, bila disiapkan lajur khusus angkutan umum seperti kebijakan saat ini, dinilai tidak optimal mengingat angkutan umum yang melintas tidak sebanyak pada ruas tol Jakarta—Cikampek.

Ketiga, kebijakan pembatasan lewat angkutan barang pukul 06.00-09.00 WIB bila diimplementasikan pada ruas tol Jagorawi juga dinilai tidak akan maksimal karena ruas tol tersebut lebih didominasi oleh kendaraan pribadi atau golongan 1 ketimbang angkutan barang.

Adapun, sampai saat ini Agus mengklaim bahwa tidak ada penurunan pendapatan yang terlalu berarti imbas penerapan kebijakan penanganan kemacetan di Jakarta—Cikampek.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar