Jakarta, TopBusiness – Sambu Group menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan ketahanan bisnis melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berfokus pada perlindungan ekosistem pesisir dan keberlanjutan industri kelapa.
Hal tersebut disampaikan dalam wawancara penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Kamis (9/4/2026), dengan narasumber Corporate Communication Manager Sambu Group, Dwianto Arif Wibowo.
Sebagai perusahaan agroindustri kelapa terintegrasi yang telah beroperasi lebih dari lima dekade di Indonesia, Sambu Group menjalankan aktivitas utama berupa pengolahan kelapa menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah serta distribusi ke pasar domestik dan global. Model bisnis ini terintegrasi dengan ekosistem perkebunan kelapa rakyat sehingga keberlanjutan lingkungan menjadi faktor kunci dalam menjaga kesinambungan usaha.
Dalam paparannya, Dwianto menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi bagian dari strategi inti perusahaan. “Keberlanjutan menjadi bagian dari pengelolaan risiko bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang,” ujarnya.
Wilayah operasional utama perusahaan berada di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, yang memiliki karakteristik wilayah pesisir dan rawa serta rentan terhadap banjir rob dan intrusi air laut. Kondisi tersebut menimbulkan berbagai risiko, baik lingkungan seperti abrasi pantai dan banjir rob, maupun risiko sosial dan bisnis yang berdampak pada ketahanan ekonomi petani serta stabilitas rantai pasok.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Sambu Group mengembangkan program CSR unggulan berupa pembangunan tanggul pesisir sebagai strategi adaptasi perubahan iklim. Program ini bertujuan melindungi wilayah perkebunan kelapa, mengurangi dampak banjir rob, menjaga produktivitas lahan, serta melindungi pemukiman masyarakat.
Dwianto menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga strategis bagi perusahaan. “Program pembangunan tanggul tidak hanya program sosial, tapi juga bagian dari manajemen risiko operasional perusahaan,” katanya.
Implementasi program dilakukan melalui kolaborasi dengan masyarakat lokal, termasuk dukungan terhadap perlindungan lahan perkebunan kelapa. Program ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi dan memperkuat hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar.
Secara konkret, pembangunan tanggul telah memberikan manfaat luas. Lebih dari 5.000 hektare lahan pesisir terlindungi dari abrasi dan intrusi air laut, serta lebih dari 20.000 jiwa masyarakat pesisir memperoleh manfaat langsung. Hingga periode 2020–2025, sepanjang 40,5 kilometer tanggul telah dibangun sebagai perlindungan ekosistem pesisir.
Selain itu, program ini turut menjaga produksi kelapa hingga 27.500 ton per tahun dengan nilai pasokan sekitar Rp96,25 miliar per tahun. Hal ini menunjukkan kontribusi nyata program CSR terhadap stabilitas ekonomi petani sekaligus ketahanan rantai pasok perusahaan.
Sambu Group juga menegaskan bahwa implementasi CSR telah terintegrasi dalam struktur organisasi perusahaan, mulai dari direksi hingga unit operasional, dengan prinsip tata kelola yang mengedepankan integritas, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Selain fokus pada lingkungan, perusahaan juga menjalankan berbagai program sosial seperti pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan petani kelapa melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas.
Dwianto menambahkan, perusahaan berkomitmen mengembangkan ekosistem kelapa yang berkelanjutan secara menyeluruh. “Kami mengembangkan ekosistem kelapa yang secara bersamaan menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, Sambu Group menegaskan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian integral dalam seluruh lini bisnis perusahaan, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
