Jakarta, TopBusiness – Komitmen PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (IDX: TBIG) dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) semakin menunjukkan arah yang terstruktur dan berdampak luas.
Melalui pendekatan berbasis ESG (Environmental, Social, Governance), perusahaan tidak hanya menjalankan program sosial, tetapi juga mengintegrasikannya langsung dengan strategi bisnis berkelanjutan.
Dalam ajang TOP CSR Awards 2026, TBIG memaparkan berbagai capaian program CSR yang menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari penguatan operasional perusahaan.
Head of Learning Management and Corporate Social Responsibility Department TBIG, Fahmi Alatas, menegaskan bahwa ajang tersebut menjadi ruang evaluasi penting bagi perusahaan.
“Ini memang event CSR yang paling menantang buat kami, karena pembahasannya detail. Kami juga banyak mendapat feedback, dan sebagian sudah kami aplikasikan dalam kegiatan tahun 2025,” ujarnya.
Jangkauan Luas dan Dampak Nyata
Salah satu kekuatan utama program CSR TBIG terletak pada skala jangkauan dan dampaknya. Sepanjang 2025, salah satu program kesehatan perusahaan telah menjangkau 191.765 penerima manfaat di 34 provinsi dan 170 kabupaten/kota. Melalui program Mobil Klinik (Monik).
CSR Analyst dari Responsibility Department TBIG, Rayfath Rizqon menambahkan, program-program tersebut dirancang secara sistematis berdasarkan pilar ESG dan mengacu pada standar internasional.
“Program CSR Tower Bersama disusun berdasarkan prinsip ESG dan mengacu pada ISO 26000, sehingga kami mengembangkan program dalam berbagai aspek, mulai dari lingkungan hingga sosial,” jelasnya.
Untuk Monik ini menyediakan layanan kesehatan gratis sekaligus edukasi kepada masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga membangun kesadaran melalui konsep 3P, yaitu pola hidup sehat, pola konsumsi sehat, dan pola sanitasi sehat.
Selain itu, perusahaan juga aktif dalam penanggulangan bencana melalui bantuan kemanusiaan di berbagai daerah terdampak.
Penguatan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Di sektor ekonomi, TBIG mendorong penguatan UMKM melalui program Koperasi Bangun Bersama dan Rumah Batik TBIG. Pendekatan ini mencakup akses permodalan, pelatihan, hingga dukungan pemasaran.
Hingga 2025, sebanyak 301 UMKM telah dibina dengan nilai penyerapan produk mencapai Rp3 miliar dan total penjualan sebesar Rp7,3 miliar.
Untuk memperkuat tata kelola usaha, TBIG juga menghadirkan inovasi digital melalui aplikasi Saku(Sistem Administrasi Keuangan UMKM), yang membantu pelaku UMKM mengelola keuangan secara lebih sistematis.
“Dalam pengembangan kapasitas, kami juga menghadirkan inovasi digital melalui aplikasi Saku yang membantu pelaku UMKM dalam mengelola keuangan secara lebih sistematis,” ujar Rayfath.
Dijelaskan Rayfath, program CSR TBIG juga mengedepankan inklusivitas dengan melibatkan penyandang disabilitas serta pemberdayaan perempuan dalam kegiatan ekonomi.
Melalui Rumah Batik TBIG, perusahaan memberikan pelatihan kepada ratusan peserta, termasuk generasi muda, untuk meningkatkan keterampilan dan kesiapan kerja di sektor kreatif.
Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Lingkungan
Komitmen terhadap lingkungan diwujudkan melalui penerapan konsep ekonomi sirkular. Di Pilar Lingkungan ini, TBIG mengembangkan dua program utama, yaitu pengelolaan botol plastik dan program pengurangan jejak karbon.
Dalam hal pengelolaan botol ini, salah satu inovasinya adalah penggunaan Reverse Vending Machine (RVM) dengan menggandeng pihak ketiga untuk mengumpulkan limbah plastik yang kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah.
Pada 2025, sebanyak 41.972 botol plastik berhasil dikumpulkan dan diolah menjadi 1.041 produk upcycle seperti tas, sepatu, tas raket, totebag dan pouch bag oleh siswa difabel binaan rumah batik TBIG. Dari inovasi ini tercatat ada 4,1 ton CO₂ dan 663 m2 lahan terselamatkan.
Selain itu, TBIG juga menjalankan program TBIG Heart yang dilakukan perusahaan dengan fokus pada pengurangan jejak karbon karyawan. Puncak dari program ini adalah partisipasi karyawan dalam kegiatan penanaman pohon di Perhutani di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Sejak didirikan pada tahun 2018, karyawan telah menanam sebanyak 7.100 pohon. Jenis pohon yang dipilih adalah bambu petung, kina, damar, bambu ori, bambu hias, kayu putih, alpukat, kelengkeng, jambu kristal, puspa, nangka, kina, kayu manis dan pinus.
“Dengan estimasi serapan karbon sebesar 659 ton CO₂, seluas 25 ha lahan tertanam, dan sebanyak 6.757 masyarakat terdampak,” ujar dia.
Penguatan Pendidikan dan Edukasi CSR
Di bidang pendidikan, TBIG mengembangkan kurikulum berbasis industri, termasuk pelatihan fiber optik dan peningkatan kualitas pendidikan vokasi.
Program ini telah melibatkan, 1.500 siswa, 61 sekolah, dari 14 provinsi. Tercatat, sebanyak 39 lulusan bahkan telah terserap sebagai tenaga kerja di mitra perusahaan.
Tidak hanya itu, TBIG juga memberikan beasiswa kepada 80 anak karyawan berprestasi sebagai bagian dari penguatan internal perusahaan.
Selain aspek pendidikan,TBIG juga menghadirkan program Journalism Fellowship on CSR, yang melibatkan jurnalis untuk memperkuat komunikasi dan pelaporan dampak CSR.
Program ini diikuti oleh 29 jurnalis dari 21 media dan berhasil meningkatkan nilai publikasi (PR value) hingga Rp9,3 miliar, naik 100% dibandingkan tahun sebelumnya.
Terintegrasi dengan Strategi Bisnis
Fahmi menegaskan bahwa seluruh program CSR TBIG tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan strategi bisnis perusahaan.
“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan program CSR yang berdampak, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan strategi bisnis perusahaan,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, CSR tidak lagi sekadar kegiatan filantropi, tetapi menjadi bagian penting dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan masyarakat.
