TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Mirae Asset Sekuritas Ungkap Kunci Stabilkan Pasar di Tengah Gejolak Global

Nurdian Akhmad
29 April 2026 | 15:51
rubrik: Capital Market, Ekonomi
IHSG Naik Terbatas

Ilustrasi laju saham. FOTO: Istimewa

Ringkasan:

  • PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemulihan kepercayaan investor bergantung pada predictability kebijakan dan sinergi tiga pilar: fiskal, moneter, dan energi
  • Kenaikan IHSG ke level ATH pada 2025 hingga awal 2026 dinilai tidak ditopang fundamental kuat, melainkan didorong faktor teknis MSCI yang menciptakan diskoneksi dengan kondisi makroekonomi riil
  • Sejumlah asumsi makro pemerintah untuk Q2–Q4 2026 berpotensi meleset signifikan seiring rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.270–Rp17.304/US$ dan harga minyak Brent yang melonjak hingga US$115,48/barel
  • Sektor manufaktur dan packaging dinilai paling rentan terhadap tekanan, sementara komoditas emas, logam, pertambangan, dan telekomunikasi masih menjadi sektor yang dapat dipertahankan
  • Peningkatan transparansi kepemilikan saham oleh SRO (Self-Regulatory Organization) dinilai sebagai langkah positif untuk memperkuat kepercayaan MSCI dan investor institusional asing

Jakarta, TopBusiness — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemulihan kepercayaan investor di tengah tingginya volatilitas global tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar. Faktor yang lebih penting adalah predictability kebijakan serta sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan energi.

Pandangan tersebut disampaikan Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam forum ekonomi The Forum dan Investor Daily Round Table yang digelar di Jakarta, Selasa (28/4/2026). 

Dalam paparannya, Rully menyoroti pergerakan IHSG sepanjang 2025 hingga awal 2026 yang sempat mencapai level all-time high (ATH). Menurutnya, kenaikan tersebut tidak sepenuhnya didukung fundamental ekonomi yang kuat, melainkan lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal terkait MSCI. Kondisi itu menciptakan diskoneksi antara pergerakan pasar saham dan kondisi makroekonomi riil sehingga membuat pasar lebih rentan ketika tekanan eksternal meningkat. 

Memasuki 2026, tekanan global semakin meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah Brent dan pelemahan rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.270–Rp17.304 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Kondisi tersebut tercermin dari sejumlah indikator berikut:

BACA JUGA:   Gelar RUPS, Ini Target Panorama Seiring Membaiknya Sektor Pariwisata
IndikatorData
IHSG YTD (per 30 Maret 2026)-18,49%
Rupiah (per 29 April 2026, intraday)Rp17.270–Rp17.304/US$
Rekor terendah rupiah sebelumnya (30 Maret 2026)Rp17.002/US$ (intraday)
Harga minyak Brent (per 30 Maret 2026)US$115,48/barel
Harga minyak Brent (31 Desember 2025)US$60,85/barel
Net Foreign Sell all market YTD (28 Maret 2026)Rp32,9 triliun
Proyeksi pertumbuhan Indonesia 2026 – OECD4,8% (dipangkas dari 5%)

Mirae Asset Sekuritas menilai kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah asumsi makro pemerintah untuk kuartal II hingga IV 2026 meleset signifikan, terutama terkait asumsi nilai tukar dan harga minyak yang telah melampaui target APBN. “Indonesia masih tumbuh positif, namun dengan adanya shock global ini, penyesuaian proyeksi harus dilakukan lebih cepat,” ujar Rully dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).

Dari sisi sektoral, Mirae Asset Sekuritas melihat sektor manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling rentan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku berbasis plastik. Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan biaya produksi secara signifikan, terutama bagi sektor packaging dan industri turunannya. Di sisi lain, sektor komoditas seperti emas, logam, dan pertambangan, serta sektor telekomunikasi, dinilai masih memiliki ketahanan yang relatif lebih baik di tengah tekanan pasar saat ini. 

Selain itu, Rully menilai langkah SRO (Self-Regulatory Organization) dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham menjadi sentimen positif untuk memperkuat kepercayaan investor institusional asing dan MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa stabilitas pasar dalam jangka panjang tetap akan sangat ditentukan oleh koordinasi kebijakan yang konsisten, terintegrasi, dan dapat diprediksi antara otoritas fiskal, moneter, dan energi. 

Previous Post

Jelang Musim Haji, Transaksi Penukaran Riyal di BSI Naik 76%

Next Post

KAQI Resmi Buka Cabang ke-24 dan Siapkan Kolaborasi dengan Korporasi Global

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR