Jakarta, TopBusiness – Kinerja saham BBRI secara year-to-date (ytd) masih tertekan sekitar 16%. Namun, manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menilai pelemahan tersebut lebih dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan fundamental perseroan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan, pergerakan harga saham tidak hanya ditentukan oleh kinerja internal perusahaan, tetapi juga dipengaruhi kondisi global dan persepsi investor terhadap pasar.
“Harga saham banyak faktor, tidak hanya fundamental. Ada faktor global, ada persepsi investor terhadap Indonesia dan pasar modal,” ujar Hery menjawab pertanyaan media saat Paparan Kinerja Keuangan BRI Kuartal I-2026, Kamis (30/4/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa fundamental BRI tetap kuat. Hal ini tercermin dari kondisi aset yang terjaga, likuiditas yang solid, permodalan yang kuat, serta kinerja profitabilitas yang tetap baik.
Menurut Hery, tekanan harga saham saat ini lebih disebabkan sentimen eksternal, bukan penurunan kinerja internal perseroan. “Kalau melihat fundamental yang bagus, kami mencermati ini lebih ke faktor eksternal dibandingkan fundamental,” tegasnya.
Dividen Tinggi Jadi Daya Tarik
BRI juga baru saja membagikan dividen besar kepada pemegang saham. Dalam RUPS terakhir, perseroan menetapkan dividend payout ratio sebesar 92% dari laba tahun buku 2025, atau setara Rp 346 per saham.
Hery menyebut, kebijakan dividen tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan nilai tambah bagi investor sekaligus mencerminkan kinerja keuangan yang solid.
“Dividend yield BRI bisa memberikan imbal hasil sekitar 10–11% per tahun. Ini jauh di atas instrumen seperti deposito maupun reksa dana pasar uang,” ujarnya.
Optimistis Jangka Menengah-Panjang
Ke depan, manajemen BRI tetap optimistis kinerja perseroan akan terus menopang pergerakan saham, seiring dengan implementasi strategi transformasi yang sedang dijalankan.
Beberapa fokus utama BRI antara lain penguatan struktur pendanaan, ekspansi kredit yang selektif, akselerasi digitalisasi, serta pengembangan ekosistem bisnis terintegrasi.
Hery juga mengingatkan investor untuk menyesuaikan strategi investasi dengan tujuan masing-masing, khususnya bagi investor jangka panjang agar tidak terlalu terpengaruh fluktuasi harga harian.
“Kalau investasi jangka panjang, tidak perlu terlalu melihat naik turun harga saham. Fokus pada fundamental dan kualitas perusahaan,” katanya.
Ia menambahkan, saham-saham berfundamental kuat atau blue chip seperti BBRI memiliki potensi untuk kembali menguat seiring perbaikan kondisi ekonomi, baik global maupun domestik.
“Kalau makro ekonomi membaik, saham-saham dengan fundamental kuat pasti akan ikut naik,” ujar Hery.
