Jakarta, TopBusiness – PT Malindo Feedmill Tbk (IDX: MAIN) membuka tahun 2026 dengan kinerja yang solid. Emiten sektor poultry tersebut membukukan lonjakan laba bersih hampir dua kali lipat pada kuartal I-2026. Hal ini seiring pertumbuhan penjualan dan membaiknya profitabilitas usaha.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026 yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026), laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp123,27 miliar.
“Angka tersebut melonjak 96 persen dibandingkan capaian periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp62,89 miliar,” sebut keterangan tersebut.
Kenaikan laba MAIN terjadi di tengah dinamika industri perunggasan nasional yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan cukup berat, mulai dari fluktuasi harga jagung dan bahan baku pakan, oversupply ayam hidup, hingga tekanan daya beli masyarakat.
Namun, memasuki 2026, sejumlah emiten poultry mulai menunjukkan pemulihan kinerja seiring stabilisasi harga dan efisiensi operasional.
Dalam laporan keuangannya, PT Malindo Feedmill Tbk mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp3,69 triliun pada tiga bulan pertama 2026 ini. Nilai tersebut tumbuh 16,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,17 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong peningkatan laba bruto perseroan. Meski beban pokok penjualan naik 15,9 persen secara tahunan menjadi Rp3,29 triliun, laba bruto MAIN tetap meningkat 22,8 persen menjadi Rp402,73 miliar dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp327,97 miliar.
Kinerja itu menunjukkan perbaikan margin usaha di tengah kondisi industri yang mulai bergerak lebih stabil dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Di sektor poultry, efisiensi biaya produksi dan kestabilan harga jual menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas perusahaan.
Perusahaan yang berada di bawah kendali Dragon Amity Pte Ltd tersebut juga mencatatkan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp158,98 miliar atau melonjak 95,5 persen dibandingkan periode Januari-Maret 2025 yang senilai Rp81,33 miliar.
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp35,7 miliar, laba periode berjalan MAIN tercatat sebesar Rp123,28 miliar atau tumbuh 96,1 persen secara tahunan.
Kinerja positif MAIN mencerminkan mulai membaiknya kondisi industri pakan ternak dan perunggasan nasional. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pelaku industri mulai menikmati perbaikan spread margin antara harga jual produk dengan biaya bahan baku produksi.
Selain itu, penguatan permintaan domestik turut menopang penjualan pelaku usaha poultry, terutama pada segmen pakan ternak dan produk ayam olahan.
Di sisi neraca, perseroan juga mencatatkan penguatan posisi keuangan. Hingga 31 Maret 2026, total ekuitas MAIN mencapai Rp3 triliun atau meningkat 4,3 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp2,88 triliun.
Sementara itu, total aset perseroan tercatat sebesar Rp6,1 triliun atau naik 7 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025.
Likuiditas perusahaan turut menunjukkan penguatan. Kas dan setara kas MAIN meningkat 27,3 persen menjadi Rp616,08 miliar dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar Rp483,91 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas perseroan tercatat naik 12,8 persen secara year-to-date menjadi Rp2,6 triliun. Kewajiban tersebut masih didominasi liabilitas jangka pendek sebesar Rp2,3 triliun atau meningkat 16 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.
Adapun dana syirkah temporer tercatat sebesar Rp496,75 miliar atau turun 4,1 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
Kinerja positif MAIN pada awal 2026 menjadi sinyal bahwa industri poultry nasional mulai memasuki fase pemulihan yang lebih sehat setelah sempat mengalami tekanan berkepanjangan.
Ke depan, pelaku industri masih akan mencermati stabilitas harga bahan baku impor, nilai tukar rupiah, serta keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar domestik. (Dibantu AI)
