Jakarta, TopBusiness – Sebagai perusahaan industri hulu migas nasional yang telah beroperasi selama 46 tahun, PT Medco Energi Internasional Tbk atau MedcoEnergi terus menunjukkan kiprahnya tidak hanya di sektor energi, tetapi juga dalam pengembangan masyarakat berkelanjutan di wilayah operasionalnya.
Perusahaan milik keluarga almarhum Arifin Panigoro ini telah berkembang menjadi korporasi energi berkelas internasional dengan wilayah operasi di Indonesia, Oman, Malaysia, hingga Vietnam. Selain bisnis hulu migas, MedcoEnergi juga mengelola sektor energi baru terbarukan (EBT) dan pertambangan emas.
Bagi MedcoEnergi, Program Pengembangan Masyarakat (PPM) atau Corporate Social Responsibility (CSR) bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian dari strategi bisnis perusahaan dalam membangun masyarakat di sekitar wilayah operasional secara berkelanjutan.
Program PPM yang dijalankan MedcoEnergi sejalan dengan konsep Creating Shared Value (CSV) serta prinsip ISO 26000 Social Responsibility. Program tersebut juga berbasis pada pendekatan ESG (Environmental, Social, Governance) dan mendukung pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals), dengan fokus pada penguatan ekonomi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Keberhasilan program pengembangan masyarakat MedcoEnergi di wilayah operasi Sumatera Selatan menjadi salah satu contoh nyata bagaimana industri hulu migas mampu berkontribusi dalam membangun perekonomian daerah secara berkelanjutan.
Membangun “Super Hero” Ketahanan Pangan
Salah satu kisah sukses lahir dari Kelompok Sumpal Palawija Makmur di Desa Tampang Baru, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Kelompok tani yang sempat mengalami kerugian tersebut kini berhasil bangkit dan mencatat pendapatan hingga sekitar Rp90 juta. Tidak hanya itu, mereka juga mampu memasarkan 23 ton semangka hingga ke luar daerah.
Keberhasilan tersebut diraih melalui pendampingan Program Local Business Development (LBD) yang dijalankan Medco E&P Grissik Ltd., anak usaha MedcoEnergi yang merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Blok Corridor.
Program LBD dijalankan secara bertahap sejak 2023 untuk menjawab berbagai tantangan yang sebelumnya dihadapi para petani, mulai dari keterbatasan modal, rendahnya produktivitas, minimnya pengetahuan teknis budidaya, hingga belum optimalnya jaringan pemasaran.
Melalui program tersebut, Medco E&P Grissik Ltd. memberikan dukungan berupa pendampingan teknis, penyediaan sarana produksi, hingga fasilitasi akses pemasaran.
“Melalui Program LBD, MedcoEnergi terus menghadirkan pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola usaha mandiri dan berkelanjutan. Kami melihat kelompok ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi contoh penguatan ekonomi lokal di sekitar area operasi,” ujar Manager Field Relations & Community Enhancement Corridor Asset, Sudewo dalam sesi diskusi di Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition 2026, Tangerang, Rabu (20/5/2026).
Pendampingan Intensif dan Ramah Lingkungan
Dalam pelaksanaannya, MedcoEnergi bersama Plantari mendampingi Kelompok Sumpal Palawija Makmur yang beranggotakan delapan petani.
Pendampingan dilakukan mulai dari distribusi benih dan pupuk, pengelolaan lahan, pemilihan varietas unggul, teknik pemupukan, hingga pengendalian hama ramah lingkungan. Selain itu, perusahaan juga memperkuat kemitraan pemasaran agar hasil panen memiliki akses pasar yang lebih luas.
Perwakilan Kelompok Sumpal Palawija Makmur, Suyanto, mengakui pendampingan tersebut membawa perubahan besar bagi kelompok tani mereka.
“Sebelumnya kami pernah terpuruk karena hasil panen belum optimal. Setelah mendapat pendampingan dari MedcoEnergi, kami lebih memahami budidaya yang baik, hasil panen meningkat, dan pasar semakin luas. Program ini membantu kami bangkit dan percaya diri untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.
Dampak Nyata bagi Ekonomi Masyarakat
Hasil pendampingan Program LBD menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sebelum intervensi program pada 2022, kelompok tani tersebut mengalami kerugian. Namun setelah memperoleh pendampingan secara berkelanjutan, pendapatan kelompok meningkat menjadi sekitar Rp4 juta pada 2023, kemudian Rp15 juta pada 2024, hingga mencapai sekitar Rp90 juta pada 2025.
Produksi semangka mereka pun meningkat pesat. Pada tahun lalu, kelompok tersebut berhasil menghasilkan 23 ton semangka yang dipasarkan hingga ke luar kabupaten.
Sudewo menegaskan, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa program pengembangan masyarakat yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.
“Sebagai perusahaan yang beroperasi secara bertanggung jawab, MedcoEnergi berkomitmen terus mendukung program pengembangan masyarakat yang tepat sasaran. Melalui penguatan usaha lokal seperti ini, kami berharap masyarakat dapat semakin mandiri, berdaya saing, dan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
MedcoEnergi Turut Membangun Negeri
Menurut Sudewo, program PPM MedcoEnergi tidak hanya berfokus pada sektor ekonomi, tetapi juga mencakup pendidikan dan kesehatan masyarakat di seluruh wilayah kerja perusahaan, mulai dari Aceh, Sumatera, hingga Jawa.
Program-program tersebut dijalankan dengan memetakan potensi dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasi serta disinergikan dengan para pemangku kepentingan daerah.
“Keterlibatan seluruh stakeholder di daerah menjadi kunci sukses dalam menjalankan program PPM ini. Keberhasilan program juga menjadi tolok ukur bagi divisi PPM dalam melakukan mitigasi kebutuhan masyarakat di daerah. Kontrol dan pendampingan secara terus-menerus menjadikan program ini berhasil bagi industri migas, masyarakat, dan pemerintah daerah. Sinergi yang baik sangat diperlukan,” tegas Sudewo.
Melalui berbagai program pemberdayaan tersebut, MedcoEnergi menunjukkan komitmennya untuk terus tumbuh bersama masyarakat dan mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional melalui penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

