Tangerang, TopBusiness – Berbagai akselerasi untuk meningkatkan produksi migas sama-sama diupayakan baik oleh pemerintah maupun Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Satu program yang baru diusung oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) yakni Triple 100 diharapkan jadi solusi akan kekhawatiran besarnya tantangan untuk mencapai target produksi migas tahun ini dan tahun-tahun mendatang.
Rikky Rahmat Firdaus, Deputi Eksplorasi, Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas mengungkapkan program Triple 100 dilatarbelakangi untuk mengisi gap dari belum terlihatnya program-program besar yang onstream pada tahun ini. Berbeda dengan tahun lalu ada program Terubuk dan Forel serta Incill Clastic Drilling di Cepu yang sukses menopang produksi minyak.
“Pak Joko Siswanto menyampaikan kekhawatiran bahwa pada 2026 kita tidak lagi memiliki proyek-proyek besar seperti itu. Saat itu, pimpinan kami memerintahkan program Triple 100, yaitu 100 sumur eksplorasi, 100 inisiatif multi-stage fracturing dan multi-layer fracturing, serta 100 tambahan sumur pengembangan dari temuan eksplorasi yang akan dikembangkan dalam 2–3 tahun ke depan,” jelas Rikky disela SKK Migas Session – Accelerating Indonesia’s Upstream Growth: Delivering the Triple 100 Target pada IPA Convex 2026 di ICE BSD, Jumat (22/5/2026).
Saat ini, sejak Januari hingga Maret, kami telah menemukan 63 inisiatif eksplorasi, 53 inisiatif multi-stage fracturing, dan 52 sumur pengembangan tambahan yang bisa dieksekuai KKKS. SKK Migas mengakui ini sesuatu yang sebelumnya belum masuk rencana pada Oktober-November tahun lalu dan merupakan program tambahan di luar work programme and budget yang sudah disusun sebelumnya.
Dari sisi teknis program ini juga tidak mudah untuk direalisasikan, apalagi program yang baru diinisasi dalam hitungan bulan. “Ada tantangan perizinan, pengadaan, dan berbagai hal lain yang belum direncanakan sebaik perencanaan tahun lalu. Semua ini masih terus berjalan,” ungkap Rikky.
Berdasarkan data SKK Migas untuk eksplorasi, saat ini sudah terealisasi lima sumur eksplorasi dibor. Untuk multi-stage fracturing, ada dua sumur yang selesai dikerjakan di wilayah Rokan. Sementara untuk sumur pengembangan di dekat area eksplorasi, sudah ada dua sumur yang direalisasikan. Dari target 832 sumur pengembangan, saat ini sudah terealisasi 175 sumur.
Sementara itu, Mery Luciawaty Direktur Pengembangan dan Produksi PT Pertamina Hulu Energi, menjelaskan program triple 100 secara teknis bukan hal baru bagi Pertamina yang setiap tahun mengebor lebih dari 800an sumur. Namun PHE kata dia akan fokus ke fracturing. “Aktivitas fracturing Pertamina tumbuh lebih dari 40 persen dalam lima tahun terakhir. Tahun ini saja ada lebih dari 200 aktivitas fracturing termasuk 13–16 multi-stage fracturing,” jelas Mery.
Dia mengakui ada berbagai tantangan untuk bisa merealisasikan program-program pengeboran termasuk triple 100 seperti perizinan dan pembebasan lahan. “Berbagai advokasi sudah dilakukan bersama kementerian, SKK Migas, dan Kementerian ESDM, namun masih banyak hambatan yang harus diatasi,” ujar Mery.
Selain itu, PHE juga harus memastikan ketersediaan unit fracturing, pasokan air, pengelolaan limbah, dan membangun ekosistem pendukung. Karena itu perusahaan berkolaborasi dengan regulator dan penyedia teknologi. Secara umum, tantangan terbesar program Triple 100 adalah keekonomian proyek karena cadangan semakin kecil, biaya semakin tinggi, sementara proyek harus tetap memenuhi threshold perusahaan.
“Karena itu kami memerlukan dukungan regulasi dan insentif fiskal dari pemerintah. Hal yang paling penting adalah dukungan penyedia teknologi untuk menutup kesenjangan teknologi dan menyiapkan ekosistem layanan yang memadai,” jelas Mery.
