Jakarta, TopBusiness – PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) mencatat kinerja positif pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 & 10 Suralaya berkapasitas 2 x 1.000 MW yang berlokasi di Cilegon, Banten.
Genap satu tahun melewati masa uji operasi, hasil kolaborasi bersama Doosan Heavy Industries & Construction ini menunjukkan kinerja konsisten dengan efisiensi tinggi. Capaian ini sekaligus memperkuat keandalan pasokan listrik pada sistem Jawa–Bali yang melayani kebutuhan rumah tangga, bisnis, dan industri.
PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya milik PT Indo Raya Tenaga (IRT) ini merupakan salah satu proyek engineering, procurement, and construction (EPC) strategis nasional. Pembangkit ini dibangun menggunakan teknologi Ultra Super Critical (USC) yang dirancang menghasilkan listrik lebih efisien dibandingkan pembangkit konvensional. Konsumsi batu bara dan fuel oil yang lebih rendah pada teknologi USC turut berkontribusi pada penurunan emisi yang dihasilkan.
Pemerintah menetapkan standar baku mutu pembangkit listrik termal melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 15 Tahun 2019. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa pemenuhan standar tersebut merupakan salah satu indikator utama dalam penyediaan energi yang lebih bersih.
Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menyampaikan bahwa keberhasilan melewati masa uji operasi satu tahun menjadi indikator penting keandalan desain dan konstruksi yang diterapkan pada proyek ini. “Keberhasilan menyelesaikan masa uji operasi selama satu tahun menunjukkan bahwa PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya tidak hanya dibangun dengan standar tinggi, tetapi juga mampu beroperasi secara optimal, efisien, dan sesuai ketentuan lingkungan yang berlaku,” ujarnya melalui siaran pers.
Selama satu tahun uji operasi, PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya mencatat operasi yang stabil. Penggunaan teknologi USC memungkinkan pembangkit menghasilkan energi listrik dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat serta dampak lingkungan yang lebih terkendali sesuai standar.
Kinerja pembangkitan tersebut didukung infrastruktur pendukung berkapasitas besar. Pembangkit ini dilengkapi cerobong (chimney) setinggi 265 meter serta jetty berkapasitas hingga 80.000 DWT yang menunjang kebutuhan logistik batu bara secara efisien. Tersedia pula sistem Air Insulated Switchgear (AIS) 500 kV dan Transmission Line yang berperan menjaga stabilitas penyaluran listrik ke jaringan sistem Jawa-Bali.
Fasilitas Balance of Plant (BOP) juga melengkapi operasional PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya. Berbagai sistem penunjang tersebut dirancang agar pembangkit dapat beroperasi secara terintegrasi dan berkesinambungan.
Dari sisi lingkungan, PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya dilengkapi sistem pengendalian yang modern. Perangkat Electrostatic Precipitator (ESP), Flue Gas Desulfurization (FGD), dan Selective Catalytic Reduction (SCR) digunakan untuk mengendalikan partikulat, Sulfur Oksida (SOx), dan Nitrogen Oksida (NOx). Kombinasi teknologi ini memastikan gas buang yang dihasilkan tetap berada di bawah baku mutu emisi yang ditetapkan pemerintah.
Keberhasilan uji operasi juga menegaskan kapasitas Hutama Karya sebagai BUMN konstruksi dalam pembangunan infrastruktur energi berskala besar. Perusahaan berkomitmen menjalankan setiap proyek dengan mengedepankan aspek mutu, keselamatan, dan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan yang berlaku.
