Jakarta, TopBusiness—NTT Data, perusahaan global di bidang kecerdasan buatan (AI), bisnis digital, dan layanan teknologi, merilis riset terbaru yang menunjukkan bahwa penerapan AI di kalangan perusahaan, berkembang melampaui arsitektur dan infrastruktur yang mendasarinya, seiring meningkatnya tuntutan terhadap privasi dan kedaulatan data.
Penelitian tersebut menemukan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara perusahaan yang merancang ulang sistem AI mereka untuk meningkatkan kontrol, lokalitas, dan keamanan, dengan perusahaan yang masih mengintegrasikan AI ke dalam lingkungan yang sejak awal tidak dirancang untuk mendukung kebutuhan tersebut.
“Selama bertahun-tahun, arsitektur perusahaan telah memindahkan data melintasi berbagai sistem, cloud, aplikasi, dan batas dengan kecepatan serta efisiensi yang semakin meningkat,” kata Abhijit Dubey, CEO dan Chief AI Officer, NTT Data, Inc., dalam keterangan yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness, pagi ini.
Kecerdasan buatan (AI) kini memperlihatkan keterbatasan model tersebut. Data sensitif harus dilindungi, beban kerja harus dijalankan dalam yurisdiksi yang telah ditentukan dan model harus dikelola dengan kontrol yang lebih ketat. Data tidak selalu dapat berpindah dengan kecepatan dan fleksibilitas yang diharapkan banyak sistem AI, sehingga yurisdiksi menjadi kendala dalam arsitektur.
“Akibatnya, private AI dan sovereign AI kini menjadi pertimbangan yang semakin krusial,” ucap Dubey.
