TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Dibayangi Perang, Saham Bank Tetap Terbang

Busthomi
27 May 2026 | 07:40
rubrik: Featured
Saham Ini Direkomendasikan Saat Sentimen Pergantian Petinggi BEI dan OJK!

Sumber Ilustrasi Analis Saham: (Dhi/AI Grok)

Konflik Timur Tengah dinilai berdampak minor terhadap dunia perbankan. Kendati koreksi di awal tahun, namun saham bank tetap menawarakan cuan tinggi.

Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali menguji ketahanan sektor keuangan global. Perang yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar memanaskan suhu politik kawasan, tetapi juga memicu gelombang ketidakpastian yang menjalar ke pasar energi, nilai tukar, hingga arus modal global.

Bagi Indonesia, yang ekonominya terbuka dan terhubung erat dengan dinamika global, gejolak ini menjadi ujian tersendiri—salah satunya industri perbankan.

Namun, di tengah bayang-bayang risiko tersebut, regulator menilai fondasi perbankan nasional masih kokoh. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap bank di Indonesia relatif terbatas. Hal ini tak lepas dari kecilnya eksposur perbankan nasional terhadap pihak nonresiden di kawasan konflik. “Dampak langsung dari konflik Timur Tengah terhadap perbankan Indonesia itu sebetulnya relatif terbatas,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, baru-baru ini kepada media.

Meski demikian, ketenangan itu tidak serta-merta meniadakan risiko. Dalam lanskap global yang saling terhubung, efek rambatan justru menjadi perhatian utama. Salah satu titik krusial adalah potensi gangguan distribusi energi dunia. Karena ada Selat Hormuz di dalamnya. Jalur yang selama ini menjadi nadi perdagangan energi global.

Namun lagi-lagi, data OJK membuat publik masih tersenyum. Hingga Februari 2026, indikator utama perbankan Indonesia menunjukkan daya tahan solid. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat tinggi di level 25,83%, jauh di atas standar minimum.

Dengan NPL gross tetap terjaga di kisaran 2,17%. Likuiditas pun relatif longgar, terlihat loan to deposit ratio (LDR) sebesar 84,72% —masih dalam rentang sehat— dan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 195,64%. Masih jauh di atas ketentuan.

BACA JUGA:   Meramu Resep Pemulihan Pariwisata

Sempat Tak Mulus

Namun, sempat ada cerita tak mulus di pasar modal. Saham-saham perbankan alami tekanan sejak awal tahun. Mengutip IDNFinancials.com, per 20 April 2026, saham BBCA mengalami penurunan paling dalam, sebesar 19,20% secara year-to-date ke level Rp6.425 per lembar. Padahal, bank swasta terbesar ini menawarkan yield dividen yang relatif menarik, 5,15% untuk tahun buku 2025. Tekanan jual asing menjadi faktor dominan, dengan net sell mencapai Rp21,90 triliun.

Saham BBRI terkoreksi 5,74% sejak awal tahun. Padahal bank ini sebenarnya menawarkan yield dividen sangat kompetitif, mencapai 10,03%. Namun, arus keluar dana asing tetap terjadi sebesar Rp5,02 triliun.

Nasib serupa dialami BMRI yang merosot 9,22% sejak awal tahun, dengan net sell asing mencapai Rp4,72 triliun, meski tetap membagikan dividen dengan yield 2,16%.

Data dari Berbagai Sumber Diolah Menggunakan Open AI

Meski begitu, kata Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, saham perbankan berpeluang pulih. Terutama setelah faktor teknikal seperti rebalancing indeks global oleh MSCI menjadi lebih jelas.

Dalam skenario yang lebih optimistis, pelemahan rupiah justru bisa menjadi daya tarik bagi investor asing. “Ini sangat bagus di mata asing, karena mereka dapat keuntungan dari dua hal: sisi capital gain dan dividen, dan juga penguatan dari sisi kurs,” tandas Fath.

Dan faktor yang paling menekan kinerja bank pelat merah awal 2026, kata Arianto Muditomo, pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran, adalah kompetisi dana yang tetap ketat dan potensi penyempitan margin bunga bersih. Selain itu, risiko eksternal seperti volatilitas global dan nilai tukar dapat menahan appetite ekspansi.

Prospektif

Sejumlah bank sudah melaporkan kinerjanya selama kuartal I-2026. BMRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp15,4 triliun atau tumbuh 16,6% year on year (yoy), dengan profitabilitas yang kokoh tercermin dari Return on Equity (ROE) di level 22,1% serta permodalan (CAR) kuat di level 19,7%.

BACA JUGA:   Tiga Saham Bank, Direkomendasikan Hari Ini

BBTN malah mencatatkan pertumbuhan laba bersih 22,6% yoy menjadi Rp1,1 triliun. Kenaikan laba ditopang berbagai langkah transformasi, inovasi, serta dukungan solid pemerintah untuk industri pembiayaan perumahan nasional.

Sedang Bank BSI mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang solid pada kuartal I dengan total Rp323 triliun atau tumbuh 14,32%.

Kepada TopBusiness, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji mengatakan, dampak perang Iran-AS realtif kecil, karena perbankan Indonesia lebih mengutamakan pasar domestik.

“Memang ada dinamika di Timur Tengah, ada depresiasi rupiah, bahkan di pasar modal masih terjadi capital outflow, tapi dari sisi konsumsi domestik masih tumbuh. Karena konsep perbankan Indonesia lebih ke domestic driven, bukan external driven atau global driven,” kata dia.

Ditambah lagi, kebijakan Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75% menjadi katalis positif. Ini, disebut Nafan, akan menjaga stabilitas net interest margin. Lantaran cost of fund yang fleksibel membuat bank tak terburu-buru mengerek suku bunga kreditnya.

Apalagi hingga hingga kuartal I, profitabilitas perbankan masih oke. “BMRI misalnya, labanya double digit. Makanya, saham bank ini masih saya rekomendasi sebagai strategi investasi di kuartal II ini. Jadi kalau bicara diversifikasi protoflio, jangan menaruh semua dana di satu sektor. Sebaiknya kombinasikan saham defensif (sektor perbankan dan konsumsi non siklikal) dengan saham growth (pertambangan), misalnya,” tandas dia.

Bahkan dia menyebut, saham bank tetap favorit di kuartal II ini. Dari 10 besar Saham IDX80 dengan kategori “Dividen Yield yang Menarik”, ada beberapa saham bank. Seperti BJTM diestimasi yield 7,8-8,5%. “Ini favorit untuk stabilitas, karena harga saham jarang lari, tapi dividen pasti,” katanya.

Lalu ada BJBR, dengan estimasi yield 7.5% – 8.2%. Mirip BJTM, cocok untuk koleksi jangka panjang. Juga ada BBRI, dengan estimasi yield 4.6% – 5.2%, karena dividen interim plus final menjadikannya sangat menarik untuk institusi. Dan BMRI dengan estimasi yield di 3.8% – 4.5%. “Ini menarik jadi pilihan, karena ffisiensi tinggi membuat laba naik, dividen pun ikut terdongkrak,” pungkas dia.

BACA JUGA:   Waduh! Perang AS vs Iran Disebut bakal Bikin APBN Nombok hingga Rp515 Triliun

*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di Majalah TopBusiness

Tags: perang Timur Tengahsaham perbankan
Previous Post

BP BUMN dan Danantara Percepat Penataan MIND ID untuk Akselerasi Hilirisasi Nasional

Next Post

Hunian Premium Masih Dilirik, Klaster Baru Ini Ditawarkan BSD City

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR