Jakarta, TopBusiness—PT Buma Internasional Group, Tbk., (kode saham: DOID) mengumumkan hasil keuangan dan operasional konsolidasi untuk kuartal pertama yang berakhir pada 31 Maret 2026.
Kinerja kuartal itu mencerminkan berlanjutnya pemulihan dari tantangan operasional yang dihadapi pada kuartal pertama 2025, dengan EBITDA meningkat signifikan secara tahunan (year-on-year/YoY) meski pendapatan lebih rendah 10%.
“Pencapaian ini tetap terjaga di kuartal yang secara musiman merupakan periode dengan curah hujan tertinggi dan paling menantang sepanjang tahun,” kata Iwan Fuad Salim, direktur Buma International Group, dalam keterbukaan informasi untuk bursa saham (31/5/2026).
Kinerja tersebut didukung oleh perbaikan struktural pada produktivitas, biaya unit, dan disiplin operasional.
Iwan menjelaskan bahwa, pada kuartal pertama 2026, pendapatan perusahaan itu sebesar US$318 juta, turun 10% YoY, sejalan dengan portofolio aktif yang lebih kecil.
Sedangkan EBITDA meningkat 98% YoY menjadi US$28 juta dari US$14 juta pada kuartal 1 2025. Itu dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11% dari 5% pada 1Q25.
Grup tersebut mencatat rugi bersih sebesar US$24 juta, dibandingkan dengan rugi bersih sebesar US$70 juta pada kuartal 1 2025.
Perbaikan sebesar 66% YoY ini mencerminkan pemulihan EBITDA serta tiga faktor non-operasional yang mendukung, yaitu keuntungan sebesar US$12 juta dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar US$12 juta.
Serta dari tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar US$4 juta yang dicatat pada kuartal pertama 2025.
