Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia mengalami kejatuhan tajam pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026).
Indeks anjlok 252 poin atau 4,52% ke level 5.342,62 dari posisi sebelumnya di kisaran 5.594,76. Pelemahan ini menjadi salah satu koreksi harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir dan mencerminkan tekanan jual yang terjadi hampir di seluruh sektor perdagangan.
Aktivitas transaksi berlangsung cukup ramai dengan volume perdagangan mencapai 32,39 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp21,39 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 661 saham ditutup melemah, sementara hanya 78 saham menguat dan 78 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Tekanan terbesar berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun Rp170 menjadi Rp5.060 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah Rp180 ke level Rp3.930 per saham. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi Rp120 menjadi Rp3.090 per saham.
Di sektor telekomunikasi, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) merosot Rp280 ke posisi Rp1.930 per saham. Sementara itu saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga tertekan dengan penurunan Rp180 menjadi Rp5.700 per saham.
Aksi jual yang terjadi pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar tersebut memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan IHSG mengingat bobotnya yang dominan dalam perhitungan indeks.
Dari sisi sektoral, seluruh indeks sektoral bergerak di zona merah. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor teknologi, kesehatan, infrastruktur, industri dasar, energi, serta keuangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bukan hanya pada saham tertentu, melainkan telah menyebar secara luas ke hampir seluruh lapisan pasar.
Secara fundamental, penurunan tajam IHSG mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan domestik. Investor cenderung melakukan aksi pengurangan risiko (risk off) dengan melepas aset-aset berisiko, termasuk saham, dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut memberikan tekanan terhadap pasar modal. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap arus modal asing yang berpotensi keluar dari pasar domestik. Saham-saham perbankan menjadi salah satu yang paling terdampak karena selama ini merupakan tujuan utama investasi investor asing.
Dari perspektif teknikal, kejatuhan IHSG di bawah level psikologis 5.500 memicu gelombang penjualan lanjutan. Banyak pelaku pasar memilih melakukan cut loss setelah sejumlah level support penting gagal dipertahankan. Situasi tersebut mempercepat tekanan jual dan mendorong indeks jatuh lebih dalam hingga menembus level 5.300.
Untuk perdagangan selanjutnya, area 5.300 diperkirakan menjadi level support terdekat yang akan diuji pasar. Apabila tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut tidak mampu bertahan, IHSG berpotensi bergerak menuju kisaran 5.100–5.200. Sebaliknya, jika muncul aksi beli pada saham-saham unggulan yang telah terkoreksi cukup dalam, indeks berpeluang mengalami technical rebound menuju area 5.500–5.600.
Meski demikian, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan seiring pelaku pasar mencermati perkembangan ekonomi global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arah aliran dana investor asing di pasar modal Indonesia.
Data AI
