Jakarta, TopBusiness – Kendati masih adanya isu geopolitik dan depresiasi nilai tukar yang dihadapi oleh banyak industry di Indonesia, namun PT Colorpak Indonesia Tbk (CLPI) tetap optimistis mengarungi kinerja di tahun ini.
Perseroan yang bergerak di industri pembuatan tinta cetak, pelapisan, perekat, dan perdagangan peralatan pencetakan lainnya mengaku hingga akhir tahun bisa mencatatkan pertumbuhan kinerja yng signifikan. Bari sisi penjualan atau pendapatan dan laba bersih.
“Isu geopolitik perang Iran-AS dan Isarel sepertinya mulai mereda. Ini menjadi sinyal positif, makanya kami yakin industry ini bisa bertumbuh. Dan sales kami bisa naik 10%,” terang Direktur CLPI, Antoni Gunawan, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Sejauh ini, isu geopolitik menjadi sentiment besar yang memengaruhi kinerja CLPI. Di kuartal I-2026, meski masih membukukan laba, namun mencatatkan perlambatan pertumbuhan.
“Net profit di kuartal I-2026 sebesar Rp15,42 miliar. Memang masih naik 4% secara tahunan (yoy). Kondisi ini lebih dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah, sehingga bertumbuhnya melambat,” ujar dia.
Namun untuk tahun ini, kata dia, revenue perseroan bisa naik 10% dibandingan raihan di tahun 2025 lalu. Sehingga angkanya bisa melewati Rp1 triliun lebih.
“Kami targetkan pertumbuhan 10% ya. Jadi sekitar Rp1 triliun lebih lah. Dengan komposisinya, untuk penjualan tinta sebanyak 60 persen dan trading 40% dari dua pabrik yang ada di Tangerang, Banten dan Gresik, Jawa Timur,” jelas dia.
Langkah ini, kata dia, dengan mengusung beberapa strategi seperti, mengoptimalkan pelanggan tetap yang semula share-nya kecil menjadi semakin besar. Sementara yang besar tetap akan dipertahankan.
“Juga kita akan genjot untuk pertumbuhan penjualan lainnya. Memang saat ini di industri ini kometitornya ketat. Seperti barang printer misalnya, itu banyak yang impor dari China dan itu jadi tantangan. Cuma kan, kalau impor dari China juga cost-nya pasti lebih besar. Makanya kami optimistis tetap bisa bertumbuh kinerja CLPI,” tutur dia.
Sejauh ini, untuk komposisi penjualannya, tinta tetap menjadi yang paling dominan mencapai 58%, lalu barang adhesive sebesar 26%, untuk film mencapai belasan persen, dan lainnya. Kendati mengaku akan menggenjot penjualan, namun pihaknya tidak menyiapkan belanja modal (capex) yang massif. Kalau ada, hanya kebutuhan barang-barang yang sifatnya tidak terlalu signifian. “Tidak menganggarkan capex yang signifikan, hanya kebutuhan kecil-kecil saha,” pungkas dia.
