Jakarta, TopBusiness – PT Adi Sarana Armada Tbk (IDX: ASSA) memproyeksikan tahun 2026 masih diwarnai berbagai tantangan eksternal, mulai dari tingginya suku bunga, fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM), hingga ketidakpastian kondisi makroekonomi. Karena itu, perseroan memilih memasang target pertumbuhan yang konservatif sembari memperkuat bisnis logistik dan membuka lini usaha baru berbasis teknologi.
Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk, Jerry Fandy Tunjungan, mengatakan ASSA menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran single digit, yakni 5-10 persen pada 2026. Sementara laba bersih diharapkan masih dapat tumbuh double digit, meski dalam kisaran rendah.
“Karena begitu banyak faktor makro yang berada di luar kontrol kami dan menciptakan ketidakpastian, kami memilih memasang target yang konservatif pada tahun ini,” kata Jerry dalam Paparan Publik ASSA yang digelar secara daring, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, tantangan utama yang terus dipantau perusahaan adalah pergerakan harga BBM, tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah, serta dampaknya terhadap permintaan di sektor rental kendaraan dan logistik.
Jerry menjelaskan, kenaikan harga BBM secara langsung tidak terlalu membebani ASSA karena biaya bahan bakar pada bisnis rental ditanggung pelanggan. Sementara pada bisnis logistik, perusahaan memiliki mekanisme penyesuaian tarif apabila terjadi kenaikan harga BBM maupun upah minimum.
“Kalau ada kenaikan BBM ataupun UMR, kami bisa melakukan penyesuaian harga kepada pelanggan. Yang kami monitor secara hati-hati adalah apakah kenaikan BBM akan berdampak pada permintaan,” ujarnya.
Sejauh ini, lanjut dia, permintaan pada segmen rental maupun logistik masih relatif stabil. Bahkan, hingga beberapa bulan terakhir perusahaan masih melihat adanya peningkatan aktivitas pelanggan.
Selain BBM, ASSA juga mencermati dampak kenaikan suku bunga terhadap biaya pendanaan perusahaan. Pasalnya, sebagian besar belanja modal (capex) ASSA masih didukung pembiayaan perbankan.
“Tentu kenaikan BI Rate akan memengaruhi cost of fund kami. Namun sejauh ini kenaikan biaya tersebut masih dapat kami pass through kepada pelanggan karena sifatnya market driven,” kata Jerry.
Anggarkan Capex Rp 1,5 Triliun
Untuk mendukung ekspansi bisnis, ASSA menyiapkan belanja modal sekitar Rp 1,5 triliun pada 2026. Dana tersebut terutama digunakan untuk pengadaan armada baru guna menggantikan kendaraan yang dilepas (disposed), memenuhi kebutuhan pelanggan rental, serta mendukung pengembangan bisnis logistik.
Di tengah tantangan tersebut, ASSA juga membuka lini bisnis baru yang berfokus pada layanan teknologi logistik. Perseroan memperoleh persetujuan pemegang saham untuk memperluas kegiatan usaha sehingga dapat menawarkan solusi teknologi bagi operasional transportasi dan pergudangan.
Menurut Jerry, langkah ini merupakan bagian dari strategi memperkuat ekosistem logistik yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan perusahaan. Teknologi akan digunakan untuk mengintegrasikan layanan transportasi, warehouse, hingga distribusi last mile.
“Kami menambah satu lini bisnis sehingga bisa menawarkan layanan teknologi untuk transportasi maupun warehouse. Teknologi menjadi pembeda kami karena memungkinkan pemantauan arus barang secara end-to-end dan meningkatkan efisiensi pelanggan,” ujarnya.
ASSA juga terus mengembangkan berbagai inovasi di sektor logistik, termasuk layanan pergudangan, distribusi last mile melalui merek Anteraja, serta pengembangan sistem manajemen transportasi dan warehouse management system.
Jerry optimistis segmen logistik masih akan menjadi kontributor pertumbuhan utama pada 2026. Perseroan saat ini memiliki sejumlah proyek yang masih berada dalam pipeline dan diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan bisnis logistik dua digit.
“Kalau untuk logistik kami masih cukup optimistis. Tahun ini masih ada beberapa proyek di pipeline dan kami berharap segmen logistik tetap bisa tumbuh double digit,” katanya.
