Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (18/6/2026) pagi dibuka melemah 28,85 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.191,89. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 5,28 poin atau 0,84 persen ke posisi 619,95.
Pelemahan indeks berlanjut pada menit-menit awal perdagangan seiring meningkatnya aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Hingga sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG sempat bergerak turun ke kisaran 6.164. Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 425,15 juta saham, nilai transaksi sebesar Rp337,04 miliar, dan frekuensi perdagangan sebanyak 50.655 kali.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 215 saham menguat, 179 saham melemah, dan 232 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih dibayangi sentimen kehati-hatian investor meskipun sebagian saham masih mampu mencatatkan penguatan.
Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, energi, dan pertambangan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), serta sejumlah saham berbasis komoditas lainnya menjadi pemberat utama pergerakan indeks pada awal perdagangan.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah masih bergerak dalam tekanan dan diperdagangkan di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang domestik tersebut turut memengaruhi sentimen investor karena berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan margin emiten yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing, serta mendorong investor asing untuk lebih selektif menempatkan dana di pasar berkembang.
Secara umum, pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pasar merespons sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga sehingga mendorong penguatan dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan risiko keluarnya aliran modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara dari dalam negeri, investor masih menanti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan perkembangan evaluasi pasar Indonesia dalam indeks global. Kedua faktor tersebut dinilai akan menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar keuangan domestik dalam jangka pendek.
Secara teknikal, level 6.200 menjadi area psikologis yang saat ini sedang diuji pasar. Apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi bergerak menuju area support berikutnya di kisaran 6.100–6.150. Sebaliknya, jika sentimen pasar membaik dan aksi beli kembali meningkat, indeks berpeluang rebound menuju area 6.300 dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. Dengan masih tingginya volatilitas global dan tekanan pada nilai tukar rupiah, pergerakan IHSG diperkirakan akan tetap fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini.
Data AI
