TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

IHSG Melemah di Tengah Tekanan Jual Saham-saham Berkapitalisasi Besar

Agus Haryanto
22 June 2026 | 16:29
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Ilustrasi harga saham di Bursa Efek Indonesia. FOTO: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan awal pekan di zona merah. Pada perdagangan Senin (22/6/2026), IHSG di PT Bursa Efek Indonesia terkoreksi 60,44 poin atau 0,98% menjadi 6.116,69 dari posisi penutupan sebelumnya di level 6.177,13.

Pelemahan indeks terjadi di tengah dominasi aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar dan mayoritas sektor yang bergerak negatif sepanjang perdagangan. Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat cukup ramai dengan volume perdagangan mencapai 22,24 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp13,29 triliun.

Secara keseluruhan, sebanyak 445 saham ditutup melemah, 221 saham menguat, dan 147 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar domestik.

Dari sisi sektoral, sektor barang baku menjadi kontributor pelemahan terbesar dengan penurunan mencapai 2,49%. Tekanan juga terjadi pada sektor perindustrian yang melemah 2,36%, sektor kesehatan turun 2,23%, sektor barang konsumen nonprimer terkoreksi 1,67%, serta sektor keuangan yang turun 1,58%.

Sementara itu, sektor properti dan real estat turun 1,20%, sektor infrastruktur melemah 0,97%, sektor barang konsumen primer turun 0,31%, dan sektor transportasi terkoreksi 0,10%.

Di tengah tekanan pasar, hanya dua sektor yang berhasil bertahan di zona hijau. Sektor energi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,47%, sedangkan sektor teknologi menguat tipis 0,18%.

Pada kelompok saham unggulan, sejumlah emiten berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun Rp75 atau 1,19% menjadi Rp6.225 per saham dari posisi sebelumnya Rp6.300 per saham.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah Rp50 atau 1,71% menjadi Rp2.880 per saham dari Rp2.930 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi Rp80 atau 1,86% ke posisi Rp4.230 per saham dari sebelumnya Rp4.310 per saham.

BACA JUGA:   Sesi Penutupan Perdagangan Senin, IHSG di Zona Merah

Tekanan juga terjadi pada saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang turun Rp70 atau 2,71% menjadi Rp2.510 per saham dari posisi Rp2.580 per saham.

Di jajaran saham LQ45, beberapa emiten mencatat pelemahan cukup dalam. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 6,48% menjadi Rp505 per saham, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 6,47% menjadi Rp1.590 per saham, sedangkan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun 5,43% menjadi Rp348 per saham.

Di sisi lain, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) naik 4,44% menjadi Rp1.410 per saham, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 3,27% menjadi Rp1.265 per saham, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) meningkat 3,15% menjadi Rp2.290 per saham.

Analisis Pergerakan IHSG

Pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini menunjukkan investor masih bersikap hati-hati terhadap prospek pasar jangka pendek. Tekanan terbesar berasal dari saham-saham sektor perbankan yang memiliki bobot besar dalam pembentukan indeks.

Koreksi pada BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM secara langsung memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan IHSG. Ketika saham-saham berkapitalisasi besar tersebut bergerak turun secara bersamaan, ruang penguatan indeks menjadi sangat terbatas meskipun terdapat sejumlah saham yang mencatat kenaikan.

Namun demikian, menguatnya sektor energi menunjukkan adanya rotasi dana investor menuju saham-saham berbasis komoditas. Tren ini mengindikasikan pasar masih mencari sektor yang memiliki ketahanan terhadap ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan.

Dari sisi teknikal, level 6.100 menjadi area penopang penting bagi IHSG dalam jangka pendek. Apabila level tersebut mampu dipertahankan, peluang terjadinya rebound masih terbuka dengan target kembali ke area 6.180–6.220. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus level tersebut, maka indeks berpotensi bergerak menuju area psikologis 6.000 poin.

BACA JUGA:   Akhir Pekan, IHSG Bergerak Datar

Meski ditutup melemah hampir 1%, nilai transaksi yang masih berada di atas Rp13 triliun menunjukkan aktivitas investor tetap cukup tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar masih memiliki likuiditas yang kuat dan berpotensi kembali bergerak positif apabila muncul sentimen pendukung dalam beberapa hari perdagangan mendatang.

Data AI

Tags: ihsgindeksJCI
Previous Post

Lewat Layanan Beton MiniMix, SIG Garap Peluang Renovasi dan Hunian Perkotaan

Next Post

CLEO Operasikan Tiga Pabrik Baru pada 2026, Siapkan Capex Rp 700 Miliar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR