Jakarta, TopBusiness – PT Sariguna Primatirta Tbk (IDX: CLEO) menargetkan pertumbuhan kinerja double digit pada 2026 seiring ekspansi kapasitas produksi melalui pembangunan tiga pabrik baru dan penguatan jaringan distribusi nasional. Perseroan juga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 700 miliar pada tahun ini untuk mendukung strategi pertumbuhan tersebut.
Direktur Utama PT Sariguna Primatirta Tbk, Melisa Patricia Tanoko, dalam Paparan Publik secara daring, Senin (22/6/2026), mengatakan CLEO terus memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) nasional terkemuka melalui inovasi produk, perluasan kapasitas produksi, dan pengembangan jaringan distribusi yang luas.
“Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan kebutuhan akan produk konsumsi berkualitas, kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar di industri minuman nasional,” ujar Melisa.
Saat ini CLEO telah memiliki 32 pabrik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Perseroan tengah menyelesaikan pembangunan tiga fasilitas produksi baru di Palu, Sulawesi Tengah, Pontianak, Kalimantan Barat, dan Pekanbaru, Riau. Ketiga pabrik tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026.
Direktur Operasional CLEO Nio Eko Susilo menjelaskan ekspansi pabrik dilakukan untuk meningkatkan efisiensi logistik sekaligus memperkuat penetrasi pasar di luar Jawa dan Bali.
“Biaya logistik saat ini sangat tinggi dan terus meningkat. Kehadiran pabrik baru akan mendekatkan produksi dengan pasar sehingga distribusi menjadi lebih efisien,” katanya.
Selain memperluas kapasitas produksi, CLEO juga terus memperkuat jaringan distribusinya melalui anak usaha PT Sentral Sari Prima Sentosa (SPS). Hingga Maret 2026, SPS telah mengoperasikan sekitar 430 cabang distribusi dan didukung lebih dari 11.000 mitra distribusi di seluruh Indonesia.
Dari sisi kinerja keuangan, CLEO membukukan penjualan konsolidasi sebesar Rp 2,83 triliun pada 2025 atau tumbuh 4,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,70 triliun. Laba bruto tercatat Rp 1,58 triliun.
Meski demikian, laba bersih mengalami penurunan menjadi Rp 290 miliar akibat meningkatnya biaya depresiasi serta biaya persiapan ekspansi pabrik yang masih berlangsung. Perseroan menilai tekanan tersebut bersifat sementara karena merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk memperbesar kapasitas usaha.
Memasuki 2026, kinerja mulai menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I-2026, CLEO mencatatkan penjualan sebesar Rp 774 miliar atau tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih juga meningkat sekitar 5 persen didukung kenaikan volume penjualan dan perbaikan profitabilitas.
Kinerja Tumbuh Double Digit
Direktur Keuangan CLEO Lukas Setio Wongso mengatakan, perseroan telah menyerap sekitar 25 persen dari total capex 2026 yang dianggarkan sebesar Rp 700 miliar. “Target kami pada 2026 tetap bertumbuh double digit baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih,” ujarnya.
Selain ekspansi bisnis, CLEO juga memperkuat komitmen keberlanjutan melalui berbagai program ESG. Pada 2025 kapasitas terpasang panel surya di fasilitas produksi meningkat menjadi 7,7 MW. Perseroan juga meningkatkan penggunaan bahan baku plastik daur ulang (recycled PET) hingga 18 persen serta terus mengembangkan produk ramah lingkungan seperti CLEO Eco Green dan CLEO Eco Light.
Dalam paparan publik tersebut, manajemen juga menegaskan kesiapan menghadapi penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk seluruh produk AMDK yang akan berlaku efektif pada Oktober 2026.
Menurut Eko Susilo, seluruh produk CLEO telah memenuhi standar terbaru yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 62 Tahun 2024. “Kami sudah 100 persen comply. Baik untuk kategori air mineral, air demineral maupun air minum pH tinggi, semuanya telah memenuhi standar yang berlaku,” katanya.
Sementara itu, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada hari yang sama menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 60 miliar atau setara Rp 2,5 per saham dari laba tahun buku 2025.
Pembagian dividen tersebut mencerminkan komitmen perseroan untuk terus memberikan nilai tambah kepada pemegang saham di tengah ekspansi bisnis yang agresif dan berkelanjutan.
