Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Rabu (24/6/2026). IHSG ditutup merosot 3,56% atau turun 217,45 poin ke level 5.883,88, memperpanjang tren pelemahan pasar saham domestik dalam beberapa bulan terakhir.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan sebanyak 611 saham ditutup melemah, hanya 98 saham menguat, dan 104 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 26,49 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp15,02 triliun.
Pelemahan indeks kali ini didorong oleh aksi jual masif pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama sektor perbankan, telekomunikasi, dan energi yang selama ini menjadi penopang utama IHSG. Tren pelemahan saham-saham unggulan tersebut telah berlangsung sejak awal Juni dan menjadi faktor dominan yang menyeret indeks ke area psikologis 5.800-an.
Berdasarkan pola perdagangan dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah saham big caps yang menjadi kontributor terbesar pelemahan IHSG antara lain:
| Kode | Emiten | Posisi Terakhir | Kinerja Terbaru |
|---|---|---|---|
| BBCA | Bank Central Asia | Rp6.175 | Sempat terkoreksi lebih dari 10% dalam sepekan awal Juni |
| BBRI | Bank Rakyat Indonesia | Rp2.930–2.940 | Tertekan aksi jual asing |
| BMRI | Bank Mandiri | Rp4.350 | Masih berada dalam tren turun |
| TLKM | Telkom Indonesia | Rp2.600 | Salah satu laggards terbesar IHSG |
| BBNI | BNI | Rp3.670 | Turun dua digit dalam periode Juni |
| ASII | Astra International | Rp4.790 | Tertekan pelemahan konsumsi dan otomotif |
| BREN | Barito Renewables | Rp3.740 | Volatilitas tinggi |
| TPIA | Chandra Asri | Rp2.050 | Tertekan sentimen sektor petrokimia |
Saham-saham tersebut dalam beberapa pekan terakhir tercatat sebagai penekan terbesar pergerakan IHSG karena bobot kapitalisasi pasarnya yang besar.
Analis menilai kejatuhan IHSG tidak hanya dipicu faktor domestik, tetapi juga kombinasi sentimen global yang masih negatif.
Beberapa faktor yang membebani pasar antara lain:
- Arus keluar dana asing (foreign outflow) dari pasar saham Indonesia.
- Kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik yang tercermin dari menurunnya proyeksi pertumbuhan laba emiten.
- Tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang meningkatkan risiko investasi bagi investor global.
- Ketidakpastian suku bunga global, terutama terkait kebijakan moneter Amerika Serikat.
- Rebalancing indeks MSCI dan indeks global lainnya yang memicu aksi jual pada saham-saham unggulan Indonesia.
Posisi IHSG di level 5.883,88 menunjukkan koreksi yang sangat dalam dibandingkan posisi tertinggi yang sempat berada di atas 8.700 pada awal tahun 2026.
Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut ribuan triliun rupiah. Kondisi ini menempatkan pasar saham Indonesia sebagai salah satu pasar dengan kinerja terlemah di kawasan sepanjang semester I/2026.
Secara teknikal, penembusan level 6.000 menjadi sinyal negatif karena area tersebut merupakan support psikologis penting yang bertahan selama beberapa pekan terakhir.
Namun, beberapa analis menilai pelemahan tajam ini juga mulai membuka peluang akumulasi pada saham-saham fundamental kuat, terutama sektor perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI yang valuasinya sudah jauh lebih murah dibandingkan awal tahun. Meski demikian, investor masih perlu mencermati arah aliran dana asing dan stabilitas rupiah sebelum mengharapkan pembalikan tren yang berkelanjutan.
Jika tekanan jual asing berlanjut dan sentimen global belum membaik, IHSG berpotensi menguji area support berikutnya di kisaran 5.700–5.800. Sebaliknya, apabila terjadi pembalikan arus modal dan stabilisasi rupiah, indeks berpeluang melakukan rebound teknikal menuju area 6.100–6.200 dalam jangka pendek.
Data AI
