TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Berlomba Menghijaukan Pembiayaan

Nurdian Akhmad
14 July 2026 | 09:20
rubrik: Featured
FOTO2 BURSA EFEK

Gedung Bank BNI, Jl. Pejompongan, Jakarta (Dhi/TopBusiness)

Ratusan triliun rupiah pembiayaan dari bank-bank “pelat merah” mengalir ke sektor-sektor ramah lingkungan setiap tahun. Ini menandai semakin kuatnya komitmen mereka dalam mendukung ekonomi hijau di Indonesia.

Perubahan iklim bukan lagi isu lingkungan semata. Tapi kini telah menjadi isu ekonomi, bisnis, bahkan keuangan. Di tengah komitmen Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat, sektor perbankan nasional dituntut memainkan peran yang lebih besar sebagai penyedia pembiayaan bagi transformasi ekonomi rendah karbon.

Menariknya, garda terdepan agenda tersebut justru datang dari bank-bank milik negara. Tiga bank BUMN terbesar yakni Bank Mandiri, BRI, dan BNI kini berlomba memperbesar portofolio pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance) dan pembiayaan hijau (green financing), sekaligus mengintegrasikan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) ke dalam model bisnis mereka.

Jika beberapa tahun lalu ESG masih dipandang sebagai pelengkap strategi korporasi, kini keberlanjutan telah menjadi bagian dari mesin pertumbuhan bisnis perbankan.

Dari sisi nilai pembiayaan hijau, Bank Mandiri saat ini menjadi pemain terbesar di antara bank-bank nasional. Hingga Maret 2026, portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp 320 triliun. Dari jumlah tersebut, portofolio hijau mencapai Rp 167 triliun atau lebih dari separuh total pembiayaan berkelanjutan yang disalurkan perseroan.

Angka tersebut sekaligus menempatkan Bank Mandiri sebagai pemimpin pasar pembiayaan hijau nasional dengan pangsa lebih dari 35% di antara tiga bank besar nasional.

Portofolio hijau Bank Mandiri tersebar pada berbagai sektor strategis. Pengelolaan sumber daya alam hayati berkelanjutan menjadi sektor terbesar dengan pembiayaan mencapai Rp113 triliun.

Selain itu, pembiayaan juga mengalir ke produk eco-efficient sebesar Rp 15,4 triliun, energi terbarukan Rp 12,2 triliun, bangunan hijau Rp 10,1 triliun, serta transportasi ramah lingkungan Rp10 triliun.

BACA JUGA:   ESG di Bumi Resources Tonjolkan Keselamatan Kerja

Bagi Bank Mandiri, pembiayaan hijau bukan lagi sekadar respons terhadap regulasi, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang untuk mencapai target Net Zero Emission pada operasional tahun 2030 dan pembiayaan pada 2060.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Henry Panjaitan, menegaskan bahwa sustainability telah menjadi fondasi pengambilan keputusan bisnis perusahaan. “Target Net Zero Emission menjadi acuan dalam keputusan operasional maupun pembiayaan kami. Sustainability bukan inisiatif terpisah, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” ujarnya.

BRI Andalkan Kekuatan UMKM

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengambil pendekatan berbeda. Sebagai bank dengan fokus utama pada UMKM, BRI menempatkan pembiayaan sosial dan inklusi keuangan sebagai bagian integral dari strategi keberlanjutannya. Hingga akhir Maret 2026, total kredit berkelanjutan BRI mencapai Rp 815,4 triliun. Nilai tersebut merupakan salah satu portofolio sustainable finance terbesar di industri perbankan nasional.

Dari jumlah tersebut, kredit berwawasan sosial (social loan) mencapai Rp718,8 triliun, sementara kredit berwawasan lingkungan (green loan) mencapai Rp 96,6 triliun.

Komposisi tersebut menunjukkan karakteristik unik BRI. Di satu sisi, bank ini tetap agresif mendorong ekonomi hijau melalui pembiayaan energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan bangunan hijau. Namun di sisi lain, porsi terbesar pembiayaan berkelanjutan diarahkan untuk mendorong inklusi keuangan dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu R K, menilai keberlanjutan kini telah menjadi identitas perusahaan. “Aspek keberlanjutan menjadi pilar utama strategi pertumbuhan kami. Pemberdayaan ekonomi rakyat melalui UMKM dan dukungan pada sektor ramah lingkungan merupakan bagian integral dari cara BRI beroperasi,” ujarnya.

Menariknya, komitmen ESG BRI juga terlihat dari sisi pendanaan. Hingga Maret 2026, nilai Sustainable Wholesale Funding mencapai Rp39,3 triliun atau sekitar 78,2% dari total wholesale funding perseroan. Ini menunjukkan semakin tingginya minat investor terhadap instrumen keuangan berkelanjutan.

BACA JUGA:   Selain Untungkan Warga, TJSL PLN Icon Plus Hasilkan Revenue

BNI Fokus Pembiayaan Transisi

Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memperkuat posisinya sebagai fasilitator transisi menuju ekonomi hijau. Sepanjang 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai Rp 197 triliun atau sekitar 22% dari total kredit yang disalurkan.

Pada aspek bisnis, BNI terus menyelaraskan proses penilaian debitur dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), khususnya pada sektor energi, konstruksi dan real estat, transportasi dan logistik, serta sektor kehutanan dan perkebunan.

BNI juga aktif mengembangkan skema Sustainability-Linked Loan (SLL), yaitu pembiayaan yang menghubungkan biaya pinjaman dengan pencapaian target ESG debitur.

Selain itu, BNI mendorong segmen UMKM untuk melaksanakan praktik bisnis yang ramah lingkungan, melalui program Jejak Kopi Khatulistiwa (JKK) dan BNI UMKM Ramah Lingkungan (BUMI).

Tidak hanya itu, BNI menjadi salah satu pionir dalam penerbitan instrumen pendanaan berkelanjutan. Setelah menerbitkan Green Bond Rp 5 triliun pada 2022, bank ini kembali menerbitkan Sustainability Bond senilai Rp 5 triliun pada 2025 dengan peringkat tertinggi idAAA.

Wakil Direktur Utama BNI, Alexandra Askandar, menilai pembiayaan berkelanjutan menjadi instrumen penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang resilien. “Capaian ini mencerminkan komitmen BNI dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan,” kata Alexandra baru-baru ini.

*Tulisan Ini Juga Dimuat di Majalah TopBusiness, Sebelumnya

Pembiayaan Hijau (Green Financing) dan Pembiayaan Berkelanjutan (Sustainable Finance) Tiga Bank BUMN

BankPeriodeSustainable FinanceGreen FinancingPorsi Green FinancingFokus Pembiayaan Hijau
Bank MandiriMaret 2026Rp320 triliunRp167 triliun52,2% dari pembiayaan berkelanjutanSDA hayati berkelanjutan Rp113 triliun, produk eco-efficient Rp15,4 triliun, energi terbarukan Rp12,2 triliun, bangunan hijau Rp10,1 triliun, transportasi hijau Rp10 triliun
BRIMaret 2026Rp815,4 triliunRp96,6 triliun11,8% dari sustainable financingEnergi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, green building, sektor ekonomi rendah karbon
BNITahun 2025Rp197 triliunTidak dirinci terpisah–Energi terbarukan, pengelolaan SDA dan lahan, pengelolaan air dan limbah, pembiayaan transisi (SLL)
      

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Tags: esggreen financingnzepembiayaan hijau perbankan
Previous Post

Masih di Area Bullish, Empat Saham Ini Direkomendasikan: CUAN, TPIA, BUMI, dan DSSA

Next Post

IHSG Dibuka Positif dengan Dukungan Saham Berkapitalisasi Besar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR