Jakarta, BusinessNews Indonesia – Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat dunia usaha ketar-ketir. Kurs rupiah terus melemah dalam beberapa pekan ini, dan hari ini menyentuh Rp 13.940 per dolar AS.
Untuk meredam kekhawatiran pasar, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati meminta kepada masyarakat Indonesia untuk tenang menghadapi pelemahan kurs rupiah saat ini.
“Masyarakat diharapkan tenang karena pergerakan ini berasal dari AS dan pengaruhnya ke mata uang dunia. ,” kata dia di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/4/2018).
Sri Mulyani menjelaskan, pelemahan rupiah lebih kecil atau relatif sama dibanding mata uang negara maju dan emerging lain yang mencapai lebih dari dua persen.
“Dalam dua hari terakhir, dibanding mata uang negara maju dan emerging, rupiah masih pada kisaran yang relatif sama atau lebih baik sedikit,” ujarnya.
Beberapa mata uang negara maju termasuk Asean, kata Menkeu, terdepresiasi di atas dua persen. Bahkan India terdepresiasi lebih dalam karena ingin memacu ekspor.
Menurut Menkeu, penyebab kurs rupiah melemah lebih banyak dipengaruhi kebijakan ekonomi dari pemerintah AS seiring dengan perbaikan data ketenagakerjaan dan inflasi AS. “Selain itu perubahan kebijakan fiskal, seperti pajak dan perdagangan, sehingga AS akan melakukan berbagai kebijakan meng-adjust,” paparnya.
The Fed juga akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate sebanyak tiga sampai empat kali di 2018. Namun demikian, diakui Sri Mulyani, The Fed akan mengerek suku bunga acuan secara hati-hati.
“Adanya outlook kebijakan AS, kebijakan fiskal, seperti penurunan pajak dan tambahan belanja akan meningkatkan defisit mereka, sehingga kita sudah akan memprediksi terjadi kenaikan treasury (imbal hasil obligasi) tenor 10 tahun,” tutur Menkeu.
Kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan AS akan sangat mempengaruhi dunia, termasuk berdampak ke nilai tukar mata uang rupiah maupun negara lain. Pasalnya AS merupakan negara terbesar di dunia.
“Tapi kita akan antisipasi dalam konteks pergerakan kebijakan (AS) ini terhadap mata uang dolar AS dan suku bunga mereka. Kita akan lihat kebijakan makro di Indonesia,” ucap dia.
Peluang Genjot Ekspor
Menurut Sri Mulyani, dibandingkan harus panik, justru seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan momen menguatnya dolar. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kinerja ekspor di tengah penguatan dolar AS.
Apalagi lanjutnya, pertumbuhan ekonomi dunia juga diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Diperkirakan pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi global naik tipis di angka 3,9%.
“Ekspor kita harus bisa dipacu lebih bagus. Karena memang kesempatannya adalah hari ini. Mumpung global growth masih positif,” ujarnya.
Wanita yang biasa disapa Ani itu menjelaskan, dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang membaik maka permintaan terhadap barang-barang ekspor asal Indonesia akan meningkat. Khususnya produk-produk komoditas seperti sawit dan juga Manufaktur yang dinilainya memiliki banyak peminat.
“Permintaan dari negara-negara yang memiliki pertumbuhan relatif tinggi sangat ada. Dan competitiveness dari ekspor kita terutama manufaktur harus dipacu,” jelasnya.
